Laporkan Masalah

Pengaruh Karakteristik Sosiodemografi terhadap Stigma Diri pada Penderita HIV LSL Muda di Yogyakarta

Alessandro Alfieri, Dr. dr. Satiti Retno Pudjiati, Sp.KK(K), dr. Devi Artami Susetiati, M.Sc., Sp.KK(K)

2023 | Tesis | S2 Kedokteran Klinik

Latar Belakang: Saat ini diperkirakan 78% infeksi baru HIV di Asia Pasifik masih terkonsentrasi pada populasi kunci, termasuk didalamnya adalah kelompok lelaki yang melakukan seks dengan lelaki lainnya (LSL). Berdasarkan data UNAIDS pada tahun 2020, prevalensi HIV pada kelompok LSL didominasi oleh usia muda, yaitu sebesar 30%. Infeksi HIV yang terjadi pada usia muda sangat erat kaitannya dengan stigma dan menjadi stresor utama. Stigma dihubungkan dengan luaran kesehatan psikologis, sosial, dan fisik yang buruk. Karena semakin meluasnya stigma HIV dan potensinya yang berbahaya untuk kesehatan, maka diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang stigma pada populasi LSL yang masih muda.

Tujuan: Mengetahui pengaruh karakteristik karakteristik sosiodemografi terhadap stigma diri pada penderita HIV LSL muda.

Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional potong lintang. Subjek penelitian merupakan pasien yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin dan Poliklinik HIV Rumah Sakit Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta. Pada penelitian ini subjek akan mengisi data karakteristik subjek dan stigma diri akan diukur menggunakan instrumen Berger HIV Stigma Scale versi Bahasa Indonesia yang telah dilakukan uji validitas oleh Nurdin (2013) dengan kehandalan uji validitas tersebut terlihat dari nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,94 untuk skor total. Uji statistik menggunakan derajat kepercayaan 95?n dinyatakan bermakna jika nilai p<0>

Hasil: Dari total 72 subjek yang mengisi kuesioner Berger HIV Stigma Scale, didapatkan skor rata-rata sebesar 98.97, dengan 12 orang (16.7%) dengan derajat stigma diri tidak ada atau ringan, 51 (70.8%) dengan derajat stigma diri sedang, dan 9 (12.5%) dengan derajat stigma diri berat. Berdasarkan analisis multivariat ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin berat stigma dirinya (r=2.938; nilai p=0,033). Berdasarkan perbandingan subskala, terlihat bahwa keempat subskala didominasi oleh derajat sedang, dengan subskala disclosure concern memiliki proporsi derajat berat paling banyak dibandingkan subskala lainnya (derajat berat 33 orang atau 45.8%). Berdasarkan analisis multivariat antara karakteristik sosiodemografi dengan derajat subkala Berger HIV Stigma Scale, didapatkan hasil yang signifikan, yaitu pada subskala disclosure concerns (status pekerjaan dengan r=-1,336; nilai p=0,016), subskala negative self-image (tingkat pendidikan tinggi dengan r=3,141; nilai p=0,025), dan subskala concern with public attitudes (dukungan keluarga dengan r=-1,062; nilai p=0,045).

Kesimpulan: Berdasarkan studi ini, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula derajat stigma dirinya. Responden yang bekerja memiliki derajat disclosure concern yang lebih rendah dibanding yang tidak bekerja. Responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki derajat negative self-image yang lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan rendah. Responden dengan keluarga yang mengetahui status HIV-nya memiliki derajat concern with public attitudes yang lebih rendah dibandingkan yang keluarganya tidak mengetahui status HIV. Intervensi yang spesifik dibutuhkan untuk menurunkan stigma diri pada kelompok ini, sehingga nantinya kualitas hidup dapat menjadi lebih baik.

Background: It is estimated that 78% of new HIV infections in the Asia-Pacific region are still concentrated in key populations, including men who have sex with other men (MSM). Based on UNAIDS data in 2020, HIV prevalence in the MSM group is dominated by young people at 30%. HIV infection in young people is closely related to stigma and is a significant stressor. The existence of stigma, both public and self-stigma, is detrimental. Stigma is associated with poor psychological, social, and physical health outcomes. Owing to the widespread stigma of HIV and its potential harm to health, there is a need for a better understanding of the stigma experienced by the young MSM population.

Objective: To determine the influence of sociodemographic characteristics on self-stigma among young MSM with HIV.

Methods: This was a cross-sectional, observational study. The research subjects were patients who visited the Dermatology and Venereology Outpatien Clinic and HIV Outpatien Clinic at Dr. Sardjito, Yogyakarta. The subject will fill in data on subject characteristics. Self-stigma will be measured using the Indonesian version of the Berger HIV Stigma Scale instrument, which has been tested for validity by Nurdin (2013) with the reliability of the validity test as seen from Cronbach's Alpha value of 0.94. The statistical analysis used a 95% confidence level and was declared significant if the p-value <0>

Results: Of the total of 72 subjects who filled out the Berger HIV Stigma Scale, an average score of 98.97 was obtained, with 12 people (16.7%) with no or mild self-stigma, 51 (70.8%) with moderate self-stigma, and 9 (70.8%) with severe self-stigma. Based on multivariate analysis, it was found that the higher the level of education, the more advanced the self-stigma (r=2.938; p value=0.033). Based on the subscale analysis, it can be seen that the four subscales are dominated by moderate degrees, with the disclosure concern subscale having the highest proportion of severe degrees compared to the other subscales (33 people or 45.8%). Based on a multivariate analysis between sociodemographic characteristics and the Berger HIV Stigma Scale subscale, significant results were obtained, namely on the disclosure concerns subscale (employment status with r=-1.336; p value=0.016), negative self-image subscale (high education level with r =3.141; p value=0.025), and the subscale concern with public attitudes (family support with r=-1.062; p value=0.045).

Conclusion: Self-stigma among young HIV-positive MSM was dominated by moderate level, and it was found that the higher the level of education, the more advanced the self-stigma. In the subscale analysis, it was found that subjects who were working had a lower level of disclosure concerns subscale; subjects with a higher level of education had a higher level of negative self-image; and subjects with families who know their HIV status had a lower level of concern with public attitudes. Specific interventions are needed to reduce self-stigma in this group so that the quality of life can improve later.


Kata Kunci : HIV, AIDS, stigma diri, LSL, sosiodemografi

  1. S2-2023-452930-abstract.pdf  
  2. S2-2023-452930-bibliography.pdf  
  3. S2-2023-452930-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2023-452930-title.pdf