DISPARITAS KEDUDUKAN ALAT BUKTI ELEKTRONIK SEBAGAI PELENGKAP ALAT BUKTI DALAM KITAB UNDANG UNDANG HUKUM ACARA PIDANA
IMANUEL R. BALAK, Prof Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H.M.Hum.
2023 | Tesis | S2 Magister Hukum Litigasi
DISPARITAS
KEDUDUKAN ALAT BUKTI ELEKTRONIK SEBAGAI PELENGKAP ALAT BUKTI DALAM KITAB
UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA
Imanuel
R. Balak*
dan Marcus Priyo Gunarto*
INTISARI
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan menganalisis kedudukan alat bukti elektronik sebagai
pelengkap alat bukti dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana pasca
lahirnya Putusan MK Nomor 20/PUU-XIV/2016. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder, yang terdiri
dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier serta data primer berupa
wawancara. Proses analisis data menggunakan metode analisis kualitatif dan
bentuk deskriptif yang menggambarkan disparitas kedudukan bukti elektronik,
sehingga dari penelitian ini mampu memberikan kesimpulan terhadap permasalahan
yang ada. Hasil penelitian yang telah dilakukan penulis dapat ditarik dua
kesimpulan, Pertama, Keberadaan bukti elektronik dalam hukum acara pidana kita
saat ini merupakan pelengkap atas alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 ayat
(1) KUHAP. Namun keberlakuan bukti tersebut hanya berlaku secara an sich pada
delik-delik khusus yang mengaturnya secara lex specialis dan tidak dapat
dipotong rata dengan seluruh delik pidana yang ada. Hal itu dikarenakan asas
hukum pembentukan peraturan perundang-undangan kita terikat dengan asas titulus
est lex dan asas rubrica est lex. Kedua, Putusan MK Nomor 20/PUU-XIV/2016 tidak
menghapus kedudukan bukti elektronik sebagai bukti yang sah dengan garis besar
“sepanjang tidak dimaknai khususnya frasa “Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik” sebagai alat bukti dilakukan dalam rangka penegakan hukum
atas permintaan Kepolisian, Kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya
yang ditetapkan berdasarkan undang-undang sebagaimana ditentukan dalam Pasal 31
ayat (3) Undang<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->Undang Nomor 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”. Bukti elektronik tetap menjadi
bukti yang diakui dan menjadi pelengkap atas ketertinggalan alat bukti yang
diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Pengakuan bukti elektronik tersebut tidak
hanya secara kualitas alat bukti elektronik yang sah, tetapi juga pemaknaan
perluasan bukti secara kuantitas alat bukti elektronik juga diakui sebagai
bagian dari alat bukti yang dapat dipertimbangkan oleh hakim dalam menjatuhkan
putusan.
Kata Kunci : Disparitas,
Alat Bukti Elektronik, Hukum Acara Pidana
DISPARITY
IN THE POSITION OF ELECTRONIC EVIDENCE AS A COMPLEMENT TO EVIDENCE IN THE CODE
OF CRIMINAL PROCEDURE
Imanuel
R. Balak*
and Marcus Priyo Gunarto**
ABSTRACT
This study aims to
determine and analyze the disparity in the position of electronic evidence as a
complement to evidence in the Code of Criminal Procedure. This research is a
type of normative research. The data used are secondary data, consisting of primary,
secondary, and tertiary legal materials and primary data in the form of
interviews. The data analysis process uses qualitative analysis methods and
descriptive forms that describe the disparity in the position of electronic
evidence, so that this study is able to provide conclusions on existing
problems. The results of the research that the author has conducted can be
drawn two conclusions: First, the existence of electronic evidence in our
current criminal procedure law is a complement to the evidence regulated in
Article 184 paragraph (1) of the Code of Criminal Procedure. However, the
validity of such evidence applies only an sich to the special offenses that
regulate it lex specialis and cannot be cut flat with all existing criminal
offenses. That is because the legal principle of the formation of our laws and
regulations is related to the principle of titulus est lex and the principle of
rubrica est lex. Second, the Constitutional Court Decision Number
20/PUU-XIV/2016 does not remove the position of electronic evidence as valid
evidence with an outline "as long as it is not interpreted in particular
the phrase "Electronic Information and/or Electronic Documents" as
evidence carried out in the context of law enforcement at the request of the
Police, Prosecutor's Office, and/or other law enforcement institutions
stipulated under the law as stipulated in Article 31 paragraph (3) of Law
Number 11 of 2008 concerning Electronic Information and Transactions".
Electronic evidence remains recognized evidence and complements the lagging
evidence regulated in Article 184 paragraph (1) of the Code of Criminal
Procedure. The recognition of electronic evidence is not only in terms of the
quality of valid electronic evidence, but also the meaning of expanding evidence
in quantity of electronic evidence is also recognized as part of the evidence
that can be considered by the judge in handing down a verdict.
Keywords: Disparity,
Electronic Evidence, Criminal Procedure Law
Kata Kunci : Kata Kunci : Disparitas, Alat Bukti Elektronik, Hukum Acara Pidana, Keywords: Disparity, Electronic Evidence, Criminal Procedure Law