Kajian Sistem Pengendalian Banjir DKI Jakarta Akibat Pengaruh Perubahan Iklim (Studi Kasus: Sistem Kali Besar-Polder Pluit, Wilayah Aliran Tengah)
Miftahul Jannah, Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D.; Ir. Adam Pamudji Rahardjo, M.Sc., Ph.D.
2023 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Banjir merupakan fenomena umum tahunan di DKI Jakarta yang
kerap terjadi apabila musim hujan tiba. Pemicu banjir di DKI Jakarta didominasi
oleh faktor curah hujan ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Hidrograf
banjir yang digunakan didalam perancangan sistem drainase dan pengendalian
banjir konvensional pada umumnya masih didasarkan pada analisis probabilitas
data historis dan belum memasukkan faktor perubahan iklim. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai perkiraan dampak dan
persebaran titik limpasan terhadap salah satu upaya pengendalian banjir yang
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akibat perubahan iklim.
Penelitian dilakukan di segmen
Sistem Aliran Sungai Wilayah Aliran Tengah DKI Jakarta, meliputi area
sistem drainase Pluit. Simulasi prediksi hujan dilakukan dengan metode Statistical Downscalling. Model iklim
yang digunakan adalah CanESM5 (The
Canadian Earth System Model version 5), yang merupakan salah satu model
iklim pada Assesment Report (AR6)
yang dikeluarkan oleh IPCC tahun 2022. Hujan masa depan di proyeksikan dengan
skenario iklim Shared Socio-economic
Pathways (SSP) 3-7.0 dan 5-8.5. Analisis pengendalian banjir menggunakan
debit kala ulang 25 tahun dan dilakukan dengan skenario kondisi eksisting serta
skenario pengendalian banjir tahun 2050an dan tahun 2100an untuk masing-masing
SSP 3-7.0 dan SSP 5-8.5. Pemodelan
penulusuran aliran banjir dilakukan dengan bantuan software HEC-HMS versi 4.2.1 dan HEC-RAS versi 6.2. Hasil pemodelan skenario kondisi geometri
rencana dengan debit tanpa perubahan iklim terjadi pengurangan tinggi limpasan
sebesar 0.01-0.41 m. Sedangkan pada skenario masa depan dengan SSP 3-7.0
pada FP-1 dan FP-2 masing-masing terjadi peningkatan debit banjir sebesar 1.55?n 7.06?ngan tinggi limpasan bertambah 0.03-0.61 m. Sedangkan FP-1 dan FP-2
pada SSP 5-8.5, debit banjir FP-1 meningkat sebesar 4.16 ?n FP-2 sebesar 10.05?ngan tinggi limpasan bertambah sekitar 0.02 -0.72 m.
Floods are an annual common phenomenon in DKI Jakarta,
often occurring during the rainy season. The trigger for flooding in DKI
Jakarta is dominated by extreme rainfall caused by climate change. Flood
hydrographs used in the design of conventional flood control and drainage
systems are generally still based on probability analysis of historical data
and do not include climate change factors. Therefore, this study aims to
discuss the estimated or future impact and distribution of floods along with
the residual inundation of runoff water on one of the flood control efforts
carried out by the Provincial Government of DKI Jakarta due to climate change.
The research was conducted in the Central Watershed of DKI Jakarta, covering
the area of the Pluit drainage system. Rain prediction simulation is carried
out using the Statistical Downscaling method. The climate model used is CanESM5
(The Canadian Earth System Model version 5), one of the climate models in the
Assessment Report (AR6) issued by the IPCC in 2022. Future rain is projected
using the Shared Socio-economic Pathways (SSP) climate scenario 3-7.0 and
5-8.5. Flood control analysis uses a 25-year return period discharge and is
carried out using the existing condition scenario and flood control scenarios
in the 2050s and 2100s for SSP 3-7.0 and SSP 5-8.5 respectively. Flood flow
tracing was modeled with the help of HEC-HMS version 4.2.1 and HEC-RAS version
6.2 software. The results of scenario modeling of the planned geometric
conditions with a discharge without climate change show a reduction in runoff
height of 0.01-0.41 m. Whereas in future scenarios with SSP 3-7.0 on FP-1 and FP-2, there
is an increase in flood discharge of 1.55% and 7.06% respectively with an increase in runoff height of 0.03-0.61 m. While FP-1 and
FP-2 at SSP 5-8.5, the flood discharge of FP-1 increased by 4.16% and FP-2 by
10.05% with an increase in runoff height of around 0.02 -0.72 m.
Kata Kunci : pengendalian banjir, limpasan, perubahan Iklim, SSP, statistical downscaling model