Laporkan Masalah

Pengaruh Status Modal Sosial terhadap Keaktifan Anggota Kelompok Tani dalam Penerapan Budidaya Wortel di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

PRADINTA ERDHIANA S., Ir. Roso Witjaksono, M.S.; Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.

2012 | Skripsi | S1 PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) modal sosial dan faktorfaktor yang mempengaruhinya, (2) keaktifan anggota kelompok tani dalam penerapan budidaya wortel dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan (3) pengaruh status modal sosial terhadap keaktifan anggota kelompok tani dalam penerapan budidaya wortel di Kecamatan Tawangmangu. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar dengan petani yang diteliti adalah petani yang terdaftar sebagai anggota kelompok tani. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis dengan teknik survai. Pengambilan sampel desa dilakukan secara purposive, yaitu Desa Tengklik, Desa Gondosuli, Kelurahan Blumbang, dan Kelurahan Kalisoro. Dari masing-masing desa sampel dipilih 2 kelompok tani sampel secara purposive, dan selanjutnya dari masing-masing sampel kelompok diambil 8 sampel petani secara acak sederhana, sehingga secara keseluruhan diperoleh 64 petani sampel. Untuk menguji hipotesis digunakan uji proporsi dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial petani masih tergolong sedang dengan persentase sebesar 84,38%. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dan positif terhadap modal sosial adalah peran penyuluh pertanian dan peran ketua kelompok tani, sedangkan yang berpengaruh negatif adalah umur dan motivasi. Faktor yang tidak berpengaruh nyata terhadap modal sosial petani yaitu sikap petani, keaktifan anggota kelompok dalam kegiatan penyuluhan, dan perangkat desa. Tingkat keaktifan anggota kelompok tani dalam penerapan budidaya wortel masih tergolong sedang dengan persentase sebesar 82,81%. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dan positif terhadap keaktifan anggota kelompok tani dalam penerapan budidaya wortel adalah umur, sikap dan peran ketua kelompok tani. Faktor yang tidak berpengaruh nyata adalah motivasi, keaktifan anggota kelompok dalam kegiatan penyuluhan, peran penyuluh ian, peran perangkat desa, dan modal sosial petani.

This research aims to find out: (1) social capital and the factors that influence it, (2) the liveliness of farmer group members in the implementation of carrot cultivation and the factors that influenced it, and (3) the influence of social capital to the liveliness of the farmer group members in the implementation of carrot cultivation in Tawangmangu district. This research was conducted in Tawangmangu, Karanganyar Regency with farmers whom researched is enrolled as a member of the farmer group. The basic method used in this research is descriptive analysis method, whereas the method of sampling performed with purposive method obtained in Tengklik Village, Gondosuli Village, Blumbang Village, and Kalisoro Village. From each village is taken by purposive method as much as 2 farmer group, and then from each group is taken by simple random sampling as much as 8 farmers, so overall obtained 64 farmers. To test the hypotesis its used to proportion test and multiple linear regression analysis. The results showed that farmer’s social capital is still classified as medium with percentage of 84,38%. Factors that have significant effect and positive toward social capital are agriculture extention agent’s role and farmer group chairman’s role, while the negative factors are age and motivation. Factors that don’t have significant effect to farmers social capital are farmers attitude, liveliness of the group members in extention activity, and village administrator. The liveliness level of farmer group members in implementation of carrot cultivation is still clasified as intermediate with the percentage of 82,81%. Factors that have significant and positive effect towards the liveliness of farmer group members in carrot cultivation use are age, attitude, and role of farmer group chairman. Factors that don’t have significant effect are motivation, liveliness of the farmer group members in extention activity, extension agent’s role, village administrator’s role, and farmer’s social capital.

Kata Kunci : modal sosial, keaktifan, kelompok tani, wortel, Karanganyar

  1. S1-2012-253376-abstract.pdf  
  2. S1-2012-253376-bibliography.pdf  
  3. S1-2012-253376-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2012-253376-title.pdf