PERLAWANAN MASYARAKAT PETANI WADAS TERHADAP PENAMBANGAN BATUAN ANDESIT UNTUK PEMBANGUNAN BENDUNGAN BENER
Sarah Kusuma Diningrum, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2023 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Konflik agrarian antara petani dengan pemerintah terus meningkat di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyaknya pembangunan infrastruktur selalu memanfaatkan lahan milik petani. Sengketa tanah yang terjadi di Desa Wadas berasal dari persoalan antara petani dan penambang dimana petani masih menilai tanah Wadas memiliki nilai penting baik ekonomi maupun sosial. Penelitian ini mengkaji mengenai alasan munculnya perlawanan masyarakat petani Wadas terhadap pertambangan batuan andesit untuk pembangunan Bendungan Bener. Guna menjelaskan hal tersebut penelitian ini menggunakan tiga kerangka teori, yaitu Penahapan Konflik, Eskalasi Konflik dari Glasl dan Gerakan Perlawanan Masyarakat Petani dari James C. Scott. Penulis menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dan informasi digali melalui wawancara secara interaktif, pengamatan dan studi dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan, masyarakat petani Wadas merupakan petani kecil seperti yang dideskripsikan oleh James C. Scott, yang kehidupannya bergantung pada usaha tani berskala kecil untuk bertahan hidup dan bergantung pada relasi sosial patron-klien dan relasi sosial resiprositas. Posisi petani semacam itu mendorong petani bersikap tipikal yang khas terhadap munculnya pertambangan batuan andesit seperti menolak dan berusaha mempertahankan tanah yang menjadi jaminan hidup. Konflik perlawanan ini sudah berada pada tahapan Penghancuran Terbatas, dimana para pihak yang bersengketa mulai berpikir bahwa konflik yang mereka hadapi tidak dapat diselesaikan melalui jalan damai, bahkan berlangsung dalam bentuk kekerasan. Meningkatnya konflik ini memberikan dampak terhadap masyarakat petani Wadas, seperti munculnya trauma yang membuat masyarakat petani Wadas, merusak hubungan sosial antar sesama masyarakat di Desa Wadas, dan menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah, yang mengabaikan upaya dan keinginan masyarakat petani Wadas dalam mempertahankan lahan pertaniannya.
Penulis menyarankan: pertama, pemerintah dan pihak swasta memperbaiki hubungan dengan masyarakat petani Wadas. Kedua, pihak yang menjadi agen perdamaian seperti aparat desa harus bisa menjamin bahwa masyarakat petani Wadas yang kontra akan pertambangan batuan andesit tidak mendapatkan tekanan dari pihak-pihak yang pro akan pertambangan.
Agrarian conflicts between farmers and the government continue to increase in Indonesia. This is because many infrastructure developments always utilize farmers' land. Land disputes that occur in Wadas Village originate from problems between farmers and miners where farmers still consider Wadas land to have important economic and social values. This research examines the reasons for the emergence of resistance from the Wadas farming community to andesite rock mining for the construction of the Bener Dam. In order to explain this, this research uses three theoretical frameworks, namely Conflict Staging, Conflict Escalation from Glasl and the Peasant Community Resistance Movement from James C. Scott. Scott. The author uses descriptive analysis with a qualitative approach. Data and information were extracted through interactive interviews, observations and document studies.
The results show that the Wadas farming community is a small farmer as described by James C. Scott, whose life depends on small-scale farming for survival and depends on patron-client social relations and reciprocity social relations. Scott, whose lives depend on small-scale farming for survival and depend on patron-client social relations and reciprocity social relations. Such a farmer's position encourages farmers to have a typical attitude towards the emergence of andesite rock mining such as rejecting and trying to defend the land that is a guarantee of life. This resistance conflict is already at the Limited Destruction stage, where the disputing parties begin to think that the conflict they face cannot be resolved through peaceful means, even taking place in the form of violence. The escalation of this conflict had an impact on the Wadas farming community, such as the emergence of trauma that traumatized the Wadas farming community, damaged social relations between fellow communities in Wadas Village, and decreased trust in the government, which ignored the efforts and desires of the Wadas farming community in defending their agricultural land.
The author suggests: first, the government and the private sector improve relations with the Wadas farming community. Second, those who are agents of peace, such as village officials, must be able to ensure that the Wadas farming community who oppose andesite rock mining do not get pressure from those who are pro-mining.
Kata Kunci : Masyarakat Petani, Perlawanan, Pembangunan, Moral Ekonomi Petani