Pengaruh Lingkungan Terhadap Tingkat Permudaan Alam Generatif Beberapa Kelompok Induk Cendana di Raslahan Imogiri
Tri Banun Nugraha, Dr. Yeni Widyana Nurchahyani Ratnaningrum, S. Hut., M.Sc.; Dr. Daryono Prehaten, S.Hut., M.Sc.
2023 | Skripsi | KEHUTANAN
Cendana (Santalum album Linn. merupakan jenis endemik Indonesia bagian Tenggara yang juga merupakan center of origin seluruh cendana di dunia. Namun demikian saat ini termasuk dalam kategori rawan (Vulnerable) menurut IUCN Red List. Raslahan di Zona Barat Gunung
Sewu, salah satunya Imogiri, memiliki arti penting karena keragaman genetik induk-induknya sangat tinggi, dan hingga saat ini diduga sebagai cendana tertua yang ada di Jawa. Cendana di raslahan Imogiri
diharapkan dapat menjadi alternatif sumber genetik untuk kegiatan rehabilitasi
dan reintroduksi. Namun demikian, kondisi lanskap pegunungan aluvium yang
berjurang menjadikan sebagian raslahan terisolasi, sehingga terjadi keterbatasan
individu berbunga, hambatan aliran gen, dan keterbatasan seed bed di alam. Hal ini mengakibatkan sangat sedikitnya permudaan
cendana di alam. Hingga saat ini, belum pernah dilakukan pengkajian
permasalahan yang menyebabkan terbatasnya permudaan alam cendana di Imogiri. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap tingkat permudaan
alam generatif cendana di Raslahan Imogiri.
Penelitian ini
dilakukan pada bulan November 2022 hingga Maret 2023 di Raslahan Imogiri yang
terbagi menjadi lima kelompok induk cendana, yaitu Karangtengah, Kediwung,
Mojo, Gumelem, dan Mangunan. Metode yang digunakan adalah sensus untuk penentuan
pohon induk, pengambilan semai, dan pengunduhan biji, yang diikuti pengamatan
kondisi lingkungan dan tapak. Pengamatan permudaan alam terdiri dari pengamatan jumlah pohon cendana, jumlah
semai anakan alam, dan jumlah biji. Pengamatan parameter lingkungan terdiri dari
intensitas cahaya, kelembaban udara, suhu udara, keasaman tanah, kedalaman tanah,
kelerengan, dan ketebalan seresah. Data dianalisis melalui stepwise analysis
dalam model regresi dua arah untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap
permudaan alam cendana di Raslahan Imogiri.
Hasil analisis menunjukkan bahwa permudaan alam yang ditemukan adalah semai
sejumlah 264 batang dan biji sebanyak 103 butir. Variabel yang berkorelasi kuat
terhadap jumlah permudaan alam adalah kelembaban udara, kelerengan, dan
ketebalan seresah, Namun demikian, hanya ketebalan seresah yang berbeda signifikan.
Persamaan yang dihasilkan dari stepwise analysis adalah Y = -359,25 + 9,908X7
+ 5,622X3, dengan hanya variabel ketebalan seresah dan kelembaban udara yang
mengisi model.
Sandalwood (Santalum album Linn.)
is an endemic species of Southeastern Indonesia which is also the center of origin
for all sandalwood in the world. However, it is currently included in the vulnerable
category according to the IUCN Red List. The Landrace in the West Zone of Mount
Sewu, one of which is Imogiri, has significance because the genetic diversity
of the parents is very high, and until now it is thought to be the oldest
sandalwood in Java. Sandalwood in the Imogiri Landrace is expected to be an alternative
genetic source for rehabilitation and reintroduction activities. However, the condition
of the alluvium mountain landscape which is gorged makes some landrace isolated,
resulting in individual flowering limitations, gene flow constraints, and
limited seed beds in nature. This causes the least rejuvenation of sandalwood
in nature. Until now, there has never been an assessment of the problems
causing limited natural regeneration of sandalwood in Imogiri. This study aims
to determine the effect of the environment on the level of generative natural
regeneration of sandalwood in the Imogiri Landrace.
This research was conducted from November 2022 to March 2023 in the
Imogiri sandalwood Landraces, which were divided into five groups of sandalwood
broodstock, namely Karangtengah, Kediwung, Mojo, Gumelem, and Mangunan. The method
used is census to determine mother trees, collect seedlings, and download
seeds, followed by observing environmental and site conditions. Observation of
natural rejuvenation consists of observing the number of sandalwood trees, the
number of natural saplings, and the number of seeds. Observation of environmental
parameters consisted of light intensity, humidity, temperature, soil acidity,
soil depth, slope, and litter thickness. Data were analyzed through stepwise
analysis in a two-way regression model to determine the effect of the environment
on the natural rejuvenation of sandalwood in the Imogiri Landrace.
The results of the analysis showed that the natural regeneration found
was 264 seedlings and 103 seeds. Variables that have a strong correlation with
the amount of natural regeneration are humidity, slope, and thickness of the
litter. However, only the thickness of the debris has a significant effect. The
resulting equation from the stepwise analysis is Y = -359.25 + 9.908X7 + 5.622X3,
with only the variable thickness of the debris and the moisture that fills the model.
Kata Kunci : Permudaan Alam, Cendana, Raslahan