ANALISIS DAMPAK VARIASI CUACA TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI: Studi Kasus Kabupaten Sleman
Amalia Maysarah, dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D.; dr. Hayu Qaimamunazzala, MPH.
2023 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar
Belakang: Sekitar 1,28 miliar orang di dunia yang
berusia 30-79 tahun mengalami penyakit hipertensi. Diperkirakan tahun 2025 terdapat
1,5 Miliar orang terkena hipertensi dan komplikasinya, dengan 9,4 juta orang
meninggal setiap tahun. Prevalensi hipertensi di Kabupaten Sleman 32,01%. Peningkatan suhu sebesar 1°C berhubungan positif dengan
mortalitas penyakit kardiovaskular. Variasi risiko penyakit terkait panas
setiap daerah memiliki keterkaitan dengan perbedaan kelembapan pada suhu
tinggi. Penelitian mengenai dampak iklim terhadap hipertensi penting
dilakukan, agar emisi nol-karbon menjadi prioritas.
Metode:
Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan
desain studi ekologi menurut waktu. Data kejadian hipertensi dari BPJS
Kesehatan dan data cuaca dari BMKG Yogyakarta wilayah Kabupaten Sleman. Metode korelasi digunakan untuk analisis hubungan antara
variabilitas cuaca dengan kejadian hipertensi di Kabupaten Sleman tahun 2018
hingga tahun 2022.
Hasil:
Uji
statistik menggunakan Negative Binomial Regression, dilakukan pada
periode sebelum pandemi menggambarkan saat suhu udara rata-rata mengalami
peningkatan 1°C, diperkirakan meningkatkan sebesar faktor 0,076 atau 8,0% kejadian
hipertensi. Sedangkan periode pandemi menunjukkan bahwa 1% kelembapan minimum
memiliki korelasi positif, diperkirakan
meningkatkan sebesar faktor 0,025 atau 2,5% kejadian hipertensi.
Kesimpulan: Kejadian hipertensi memiliki risiko tinggi pada setiap pertambahan usia individu. Berdasarkan jenis kelamin, wanita lebih berisiko terkena hipertensi dibanding pria. Jika melihat variabilitascuaca, suhu udara rata-rata menjadi referensi ideal dalam analisis hubungannya dengan hipertensi. Sedangkan kelembapan merupakan variabel yang memiliki keterkaitan dengan hipertensi, namun tidak secara langsung berdampak pada peningkatan tekanan darah.
Background:
Approximately 1.28 billion people in the world aged 30-79 years experience
hypertension. Estimated in 2025 there will be 1,5 billion people have
hypertension and its complications, with 9,4 million people dying every year.
The prevalence of hypertension in Sleman Regency is 32.01%. An increase in
temperature of 1°C is positively associated with cardiovascular disease
mortality. Variations in the risk of heat-related illnesses are associated with
differences in humidity at high temperatures. Research the impact of climate on
hypertension is important, so zero-carbon emissions become a priority. Methods:
The research use quantitative with an ecological study design according to
time. Data on the incidence of hypertension from BPJS Kesehatan and weather
data from BMKG Yogyakarta for Sleman Regency. The correlation method use to
analyze the relationship between weather variability and the incidence of
hypertension in Kabupaten Sleman from 2018?2022. Results: A
statistical test using Negative Binomial Regression, conducted in the
pre-pandemic period, illustrates that when the average air temperature
increases by 1°C, it is estimated to increase by a factor of 0.076 or 8.0%, the
incidence of hypertension. While the pandemic period shows that 1% minimum
humidity has a positive correlation, it is estimated to increase the incidence
of hypertension by a factor of 0.025 or 2.5%. Conclusion: The
incidence of hypertension has a high risk at each individual age. Based on
gender, women are more at risk of hypertension than men. In weather
variability, average air temperature is an ideal reference in analyzing its
relationship with hypertension. Meanwhile, humidity is a variable that related
to hypertension, but does not directly affect blood pressure.
Kata Kunci : Hipertensi, Kabupaten Sleman, Suhu, Kelembapan, Usia, Jenis Kelamin/Hypertension, Sleman Regency, Temperature, Humidity, Age, Gender