Laporkan Masalah

Peran faktor lokasi terhadap ketidak-berhasilan pemindahan rumah potong hewan di Kota Palembang

SUBIYATMOKO, Ari, Ir. Bambang Hari Wibisona, MUP.,MSc.,PhD

2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Kota Palembang sebagai ibukota Propinsi Sumatera Selatan setiap tahun mengalami perkembangan yang begitu pesat baik perkembangan ekonomi, penduduk maupun sarana dan prasarana perkotaan. Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan standar gizi masyarakat terjadi pula peningkatan kebutuhan akan daging yang bersifat higienis. Untuk itu pemerintah kota Palembang mengeluarkan program kebijaksanaan berupa pemindahan Rumah Potong Hewan dari lokasi lama yang yang dianggap sudah tidak layak. Namun Program tersebut tidak berhasil dijalankan karena adanya penolakan dari sebagian pengguna RPH. Faktor yang diduga mempengaruhi ketidak-berhasilan pemindahan Rumah Potong Hewan adalah faktor lokasi, dimana lokasi RPH yang baru dianggap terlalu jauh dari tempat tinggal dan kurang strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mangkaji dan mendiskripsikan peran faktor lokasi terhadap ketidak-berhasilan pemindahan Rumah Potong Hewan di Kota Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah induktif rasionalistik. Penelitian dilakukan dengan cara penjaringan pendapat para pengguna RPH dengan teknik kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 30 responden dan diambil secara acak (random sampling).Teknik analisis data dilakukan dengan cara pengkomparasian (pembandingan), croscek dan pengkorelasian data primer yang diperoleh dari hasil kuesioner (penjaringan pendapat para pengguna RPH) dengan data sekunder yang diperoleh dari hasil observasi lapangan yang berupa dokumentasi dari berbagai dinas atau instansi terkait, studi pustaka, makalah dan laporan dari berbagai media massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lokasi yaitu aspek aksesibilitas dan mobilitas (kemudahan dan kecepatan dalam menjangkau lokasi) berperan penting dalam menentukan ketidak-berhasilan pemindahan Rumah Potong Hewan di Kota Palembang. Berdasarkan hasil kuesioner dari 30 responden, sebanyak 10 responden (37,03%) yang berpendapat bahwa alasan pengguna tidak mau pindah ke RPH Gandus karena lokasinya jauh dari pusat kota, pasar dan tempat tinggal. Disusul 8 responden (29,62%) dengan alasan khawatir kehilangan pekerjaan dan 5 responden (18,51%) dengan alasan keamanan. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor lokasi nyata-nyata berperan penting dalam menentukan ketidak-berhasilan pemindahan RPH di Kota palembang. Selain faktor lokasi faktor keamanan dan sosial (kekhawatiran kehilangan pekerjaan) juga ikut berpengaruh dalam menentukan ketidak-berhasilan pemindahan tersebut. Untuk itu perlu kiranya direkomendasikan faktor keamanan dan sosial (kekhawatiran kehilangan pekerjaan) dimasukkan dan dibahas lebih lanjut dalam konsep pemilihan lokasi. Saran yang perlu dianggkat dari hasil penelitian ini adalah:1. Pengkajian kembali program yang telah ditetapkan dengan melibatkan seluruh unsur pengguna RPH guna memecahkan masalah yang menyangkut penetapan lokasi RPH baru; 2. Pemerintah diharapkan mencari solusi terbaik dalam meyelesaikan nasib sebagian besar warga yang kehilangan pekerjaan sebagai akibat pemindahan RPH; 3. Program pemindahan lokasi RPH hendaknya diikuti dengan penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung lain seperti: sarana angkutan, kondisi jalan, air, listrik dan telepon; 4. Penugasan aparat keamanan untuk menjaga kelangsungan kegiatan di sekitar lokasi RPH baru.

As the capital city of South Sumatra Province, Palembang Municipality undergoes annual growth with relatively rapid rate in terms of its economy, population, and its urban infrastructure. The better income and standard of nutrient of the local inhabitants have lead to the increase of the demand for more hygienic meat. This has made the local government of Palembang to issue a policy regarding the relocation of Rumah Potong Hewan (RPH) or slaughterhouse to a new site, since the original site was considered unfeasible. However, the relocation did not work for some reasons, including rejection from RPH users. The primary factor supposed to have an effect on the unsuccessful relocation is the site selection, which is too far from the current users and considered not strategic. The aim of this research is to assess and describe the role of site selection in the failure of relocation program of RPH in Palembang. The method used is inductive-rationalistic. The research was undertaken by collecting perceptions of the RPH users with 30 samples selected randomly (random sampling). The analysis was done using comparative technique, which is followed by crosschecking and correlating primary data and secondary data obtained from field observation, relevant institutions, literatures and reports. It is revealed from the results of the research that inaccessibility and immobility of the site are the most important factors determining the failure of relocation. Ten out of thirty respondents (37.03%) ment ioned that the new site is too far from markets and from their homes. Eight respondents (29.62%) said that they are scared of loosing jobs, and 5 respondents (18.51%) pointed out the failure is mainly due to security reason. It is concluded that location has been the most principal factor in determining the success or failure of relocation program of RPH in Palembang. Other important factors are security both physically and socially (fear of job loss). It is, therefore, necessary to suggest to incorporate these factors into the concepts of site selection. Several recommendations resulted from this reserch are: (1) reassessment of the relocation program by involving all stakeholders; (2) the local government should seek for alternative employment for those loosing jobs from the present RPH; (3) such facility relocation should be accompanied by supporting infrastructures and facilities; (4) it is necessary to assign authorities to lead and monitor the relocation process.

Kata Kunci : Rumah Potong Hewan, Pemindahan, Peran Lokasi, slaughterhouse, relocation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.