Pergeseran usaha tani dan perkembangan desa di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman
IRFAN, Ainul, Ir. Bakti Setiawan, MA.,PhD
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPemahaman tentang perkembangan desa seringkali didapat melalui pemahaman terhadap perkembangan dan perubahan pertaniannya. Perubahan jenis usaha tani merupakan salah satu upaya yang dilakukan petani untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidupnya. Penelitian ini mendokumentasikan pergeseran usaha tani dan perkembangan desa secara ekonomi, sosial dan fisik. Kemudian melihat kondisi empiris desa-desa di Kecamatan Turi ditinjau dari pendekatan pembangunan agropolitan. Fokus penelitian adalah pergeseran usaha tani padi sawah menjadi usaha tani salak pondoh. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif. Data kuantitatif diperoleh melalui analisa data statistik, peta dan laporan resmi instansi terkait. Data Kualitatif diperoleh melalui survey lapangan dan wawancara mendalam. Parameter yang dikaji meliputi parameter usaha tani dan parameter perkembangan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1995 - 2002 terjadi pergeseran usaha tani di Kecamatan Turi, dari usaha tani utama padi sawah menjadi salak pondoh. Proses pergeseran usaha tani ini melalui tahapan yang cukup lama, dimulai dari menanam salak pondoh di pekarangan, tegalan, kebun dan terakhir mengkonversi sawah menjadi kebun salak pondoh. Faktor-faktor yang mempengaruhi petani menanam salak pondoh antara lain; melihat keberhasilan petani lain, agroklimat yang cocok, rasa buah, bibit mudah didapat, harga jual menguntungkan, ketersedian pasar dan adanya dukungan pemerintah. Berkembangnya usaha tani salak pondoh memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan desa secara ekonomi, sosial dan fisik. Kondisi empiris desa-desa di Kecamatan Turi pada kondisi tertentu sesuai dan menyerupai pendekatan pembangunan agropolitan pada unsur kerangka kerja teritorial dan perluasan produksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pergeseran usaha tani dari padi sawah menjadi salak pondoh di desa-desa Kecamatan Turi telah mampu meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan memberikan implikasi positif terhadap perkembangan desa. Namun demikian bila ditinjau dari pendekatan pembangunan agropolitan maka penganekaragaman produksi pertanian dan perkembangan kegiatan industri dan jasa belum berjalan optimal. Untuk itu kepada Pemerintah Daerah di sarankan terus memfasilitasi supaya berkembangnya sektor sekunder seperti industri kecil pengolahan salak pondoh, dan sektor tersier menyangkut pemasaran, serta pengelolaan yang lebih profesional terhadap obyek agrowisata salak pondoh yang sudah ada.
One among important factors in rural development is a shift of the farming pattern. It is motivated by the need of farmer to increase their standard of living. The research is aimed to explain the shift of farming pattern and its relation to rural development in term of economic, social, and physical aspects, and to observe the current rural condition using agropoltian development approach. The case study is located in Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. This research used descriptive method, using quantitative and qualitative analysis with focuses on farming and rural development parameters. The research shows that the shift of farming from rice to salak pondoh has been done from 1995 – 2002 in Kecamatan Turi. This process begun with cultivating salak pondoh in home garden, then in the plantation area, and finally changing the rice farming into salak pondoh farming. The determinant factors that influencing the shift were the successful farmers in changing the pattern of farming, suitable climate, fruit aroma, easier in getting seed, reasonable price, market, and government support. These brought positive impact on rural development in economic, social, and physical aspects. Such condition seems to met with agropolitan concepts particularly related the issue of territorial frameworks and product expansion. It can be concluded that the shift of farming in Kecamatan Turi has improved the social economic condition and bringing the positive impact to rural development in the area. However, from the persepective of agropolitan development, the various agricultural products and industrial activities were not optimal yet. It is recommended for the local government to further facilitate salak pondoh farming and to develop secondary sectors ( i.e. light industry of salak pondok processing ), and tertiary sectors ( i.e. marketing and professional management of current salak pondoh tourism object ).
Kata Kunci : Usahatani, Perkembangan Desa, farming, social economic