Orientasi pergerakan angkutan barang di Kabupaten Boyolali
LAKSITO, Purno, Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP.,MSc.,PhD
2003 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahWilayah seringkali dipandang sebgai kesatuan administrasi, sehingga pembangunan wilayah mengkesampingkan pertumbuhan wilayah secara alami. Sebagai kesatuan wilayah administrasi, Kabupaten Boyolali tidak dapat lepas dari wilayah di sekitarnya. Salah satu gejala yang nampak adalah terjadinya arus komoditas yang mengalir ke dalam wilayah yang kemudian disebar ke sub-sub wilayah atau sebaliknya ke luar wilayah Kab. Boyolali menuju kota-kota di sekitarnya. Dengan mengetahui aliran pergerakan angkutan komoditas antar wilayah, maka secara nyata dapat diketahui bagaimana hubungan ketergantungan antar wilayah. Hubungan permintaan-penawaran antar wilayah, dimana permintaan (pasar, pabrik) akan disuplai oleh wilayah asal sehingga akan mendorong proses pengkhususan setempat (local specialization) dalam menghasilkan komoditas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran spasial sentra-sentra produksi komoditas pertanian dan arah kecenderungan pergerakannya serta memahami faktorfaktor yang mempengaruhi orientasi pergerakannya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan fokus pengamatan komoditas pertanian, perkebunan dan peternakan meliputi sayuran, kencur, jahe dan susu sapi. Materi pengamatan dan wawancara meliputi asal-tujuan, proses pengumpulan, volume dan pemilihan alat angkut, maka dapat dihasilkan peta orientasi pergerakan angkutan barang komoditas sebagai wujud pola spasial pengumpulan dan distribusinya. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa sentra-sentra produksi peternakan, perkebunan dan pertanian berkembang terutama pada wilayah-wilayah yang terlayani oleh sarana dan prasarana transportasi. Komoditas susu sapi perah tersebar di bagian barat Kab. Boyolali meliputi Kec. Selo, Cepogo, Ampel, Musuk, Mojosongo dan Boyolali. Komoditas kencur dan jahe tersebar di bagian barat dan utara meliputi Kec. Ampel, Nogosari, Andong dan Klego. Komoditas sayuran tersebar di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu meliputi Kec. Selo dan Cepogo. Sedangkan kota utama tujuan pengiriman komoditas adalah Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan kota-kota kabupaten disekitar Kab. Boyolali. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pola spasial transport komoditas adalah jaringan jalan, pelayanan angkutan, jarak (ongkos transport), volume produksi, kondis i fisik wilayah, permintaan pasar dan lokasi asal-tujuan xi Aliran pergerakan angkutan barang komoditas ditentukan oleh aktifitas pada lokasi asal komoditas dihasilkan dan daya tarik tempat tujuan. Faktor lokasi yaitu berupa keuntungan lokasi (locatio nal advantage) setempat yang memicu dihasilkannya komoditas eksport sebagai pemenuhan kebutuhan di luar wilayah Kabupaten Boyolali. Sedangkan faktor daya tarik kota tujuan pengiriman komoditas adalah adanya permintaan (demand) pasar. Selain kedua faktor tersebut peranan sarana dan prasarana transport menjadi sangat penting sebagai faktor penghubung antar wilayah. Dengan mengetahui pola spasial pengumpulan dan distribusinya, maka dapat diperkirakan arah persebaran pergerakan angkutan barang komoditas sejak dari wilayah penghasil, pabrik dan wilayah pasar. Sentra-sentra produksi peternakan, perkebunan dan pertanian berkembang dan tersebar pada lokasi- lokasi tertentu. Sentra-sentra komoditas susu sapi perah tersebar di bagian barat kab. Boyolali seperti Kec. Selo, Cepogo, Ampel, Musuk, Mojosongo dan Boyolali. Sentra-sentra komoditas kencur dan jahe tersebar di bagian barat dan utara seperti Kec. Ampel, Nogosari, Andong dan Klego. Sentra-sentra komoditas sayuran tersebar di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu seperti Kec. Selo dan Cepogo. Faktor-faktor yang mempengaruhi (berhubungan) pergerakan angkutan komoditas (susu sapi, kencur dan jahe, dan sayuran) dari sentra-sentra produksi ke arah kota tujuan tertentu (Jakarta, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, dan kota sekitarnya) adalah sistem tataguna lahan, sistem transportasi dan permintaan (pabrik, pasar). Dari hasil wawancara untuk komoditas perkebunan dan pertanian diperoleh bahwa alasan pengiriman ke kota tujuan adalah permintaan pasar (60% - 80%), waktu tempuh atau jarak (49% - 97%), ongkos transport (17% – 40%), dan bebas pungutan liar (11% - 31%), sedangkan komoditas susu sapi terbatas atas permintaan pabrik.
A region is often understood as an administrative unit, thus regional developments tend to disregard natural growth. As an administrative region, Boyolali Regency cannot be separated from its surrounding areas. One of the interconnection between Boyolali with its surroundings is shown by the distribution of various commodities from Boyolali to a number of sub-regions and the other way around. Understanding such flow of commodities within and between particular regions proves that there is a regional interdependecy. Supply and demand relationships between two regions or more is designated by the presence of market or factory as the source of demand, which is supplied by areas of origin thus creating local specialization in producing the commodities. This research is aimed at understanding the spatial distribution of production centers of some agricultural commodities in Boyolali regency, the distribution flow, as well as identifying the influencing factors. Descriptive-qualitative method was used in this research, focussing on the assessment of particular agricultural commodities, i.e vegetables, galingale, ginger, and cow milk. Data obtained through observation and interviews consist of origin-destination, collection process, volume and selection of transportation mode, which are all mapped to construct orientation maps showing commodity transports with spatial pattern of collection and distribution. It is revealed from the results of the research that production centers of agricultural products have grown primarily in particular regions that have been provided with adequate transportation infrastructure and services. Cow milk production spreads on the west part of the region, i.e. Selo, Cepogo, Ampel, Musuk, Mojosongo and Boyolali districts. Production of galingale and ginger spreads on the west and north, i.e. Ampel, Nogosari, Andong, and Klego district. Production of vegetables spreads on the foot of Mount Merapi and Mount Merbabu, i.e. Selo and Cepogo districts. Meanwhile, the main destinations of commodities are Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Jakarta and other regencies surrounding Boyolali regency. Factors influencing the spatial pattern of the commodity transports identified through this research are the availability of road for easy access, the availability of pub lic transport service, distance (transport cost), volume of products, physical condition of the region, market demand, and the location of origindestination.
Kata Kunci : Transportasi,Angkutan Barang