Partisipasi anggota masyarakat dalam pembangunan prasarana jembatan di Desa Karangtengah, Imogiri, Bantul
DARMOKO, Jendro, Ir. Gunung Radjiman, MSc
2003 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahDengan adanya aktivitas Merapi terutama tanggal 22 November 1994, Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman menetapkan kebijakan relokasi pasca bencana Merapi salah satunya di dusun Sudimoro Desa Purwobinangun. Relokasi ini seluruhnya dihuni oleh warga Dusun Turgo pada tahun 1995. Di satu sisi terdapat warga yang memilih untuk tidak menempati permukiman relokasi Sudimoro dan tetap tinggal di Dusun Turgo. Di sisi lain 94 KK telah bermukim dan memanfaatkan ruang huniannya yang baru sebagai wadah beraktivitas dalam kehidupannya, meskipun terdapat banyak perbedaan antara lingkungan yang di tempati s aat ini dengan lingkungan lamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi penghuni permukiman relokasi Sudimoro terhadap ruang -ruang dan kenyamanan di kawasan permukimannya, mengetahui perilaku penghuni dalam memanfaatkan ruang permukiman relokasi Sudimoro dan kendala yang dihadapi, serta mengetahui upaya pengelolaan permukiman relokasi Sudimoro yang dilakukan. Subyek penelitian adalah seluruh penghuni permukiman relokasi Sudimoro yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya, terdiri dari 94 KK. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis kualitatif. Analisis kualitatif didasarkan pada hasil pengamatan di lapangan, yang di dukung oleh data hasil wawancara. Data kuantitatif dari hasil kuesioner disajikan dalam % digunakan sebagai data penunjang yang dapat memperkuat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi penghuni terhadap ruang di permukiman relokasi Sudimoro ditentukan oleh pemahaman penghuni terhadap ruang dan budaya di tempat tinggal yang lama. Perilaku pemanfaatan ruang permukiman relokasi Sudimoro ini berorientasi pada tujuan penghuni, yaitu pemenuhan kebutuhan bertempat tinggal, baik untuk kebutuhan keluarga maupun kebutuhan komunitas. Kendala yang dihadapi penghuni dalam memanfaatkan ruang adalah masalah status tanah yang merupakan tanah kas desa (tidak memberi ketenangan), tanah yang sempit serta kurangnya ruang terbuka. Dalam kondisi lingkungan permukiman seperti ini, pemanfaatan ruang yang ada berdampak pada menumpuknya aktivitas di bagian-bagian permukiman terpilih dengan mengambil ruang tertentu. Aktivitas mengelola ruang permukiman bertujuan untuk mempertahankan keberadaan ruang-ruang fungsional tersebut tetap eksis di lingkungannya. Untuk itu diperlukan pengelolaan hunian permukiman secara bersama-sama agar ruang-ruang di permukiman relokasi lebih bermanfaat dan menciptakan suasana nyaman bagi penghuninya dalam menampung kegiatan yang berkembang
After Merapi showed its activity, particularly on 22 November 1994, the Regional Government of Sleman Regency decided a policy for relocation post Merapi disaster. One of the relocation sites is in Sudimoro of Purwobinangun village. This relocation provided new settlement for Turgo villagers. Although few resisted to move and preferred to stay in Turgo, 94 families moved to the relocation and used new living space to resume their activities, regardless of the differences of situation between here and in their former village. The objective of this research was to study the perception of Sudimoro relocation inhabitants toward spaces and comfort in their new settlement, their behaviour in utilizing settlement space, including the problems they encounter, and the management of this relocation settlement. The research subjects were all Sudimoro relocation inhabitants who lived and conducted their activities here. There were 94 families altogether. The research used descriptive method by doing qualitative analysis. The analysis was based on field observation findings supported with data from interview. Quantitative data from questionnaires were presented in %, to be used as supplement to strengthen the analysis. The research results show that the inhabitants’ perception on space and settlement in Sudimoro relocation is influenced by their perception of space and culture where they used to live in. Their behaviour in utilizing settlement spaces in Sudimoro relocation is oriented to the purpose of living there, i.e. the need for housing, for both their family and community. The problems they encountered in space utilization relate to the status of the land, which belongs to the village welfare (unable to provide feeling of security), small size of the land, and lack of open space. Under this condition, the use of available spaces results in activity concentration in a selected part in the settlement, occupying a certain space. The activity of settlement spatial management aims to maintain functional spaces availability in their surrounding. To this end, it needs a collective management to bring more benefits and to create comfortable atmosphere for the inhabitants, accommodative to their growing activities
Kata Kunci : Prasarana Jembatan,Pembangunan,Partisipasi Masyarakat