PEMODELAN SPASIAL-FUZZY LAHAN KRITS DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS UGM
Johan Wahyu Inzar Robiya, Ir. Emma Soraya, S.Hut., M.For., Ph.D
2023 | Skripsi | KEHUTANAN
Lahan kritis merupakan
lahan yang telah mengalami kerusakan fisik, kimia, dan biologi yang disebabkan
oleh penggunaan tidak sesuai dengan kondisi atau kemampuan lahan sehingga berkurang
fungsinya sampai pada batas yang ditentukan. Informasi sepasial sebaran kekritisan
lahan dapat memberikan wawasan bagi pengelola lahan dalam membuat strategi konservasi
lahan. Metode logika fuzzy sugeno digunakan dalam pengambilan keputusan yang mampu
mengatasi ketidakpastian dalam klasifikasi lahan kritis. Pengolahan data dilakukan
berbasis LMU dengan menumpang susunkan data jenis tanah, kelerengan, dan penutupan
lahan. Setiap LMU dianalisis lahan kritis dari tidak kritis hingga sangat
kritis dengan parameter meliputi penutupan lahan, kemiringan lereng, tingkat
bahaya erosi, dan fungsi Kawasan. Parameter penutupan lahan didapatkan dari pengelola
KHDTK UGM. Peta kemringan lereng didapatkan dari DEM SRTM. Tingkat bahaya erosi
dilakukan pengolahan dengan metode RUSLE. Didapatkan 30 LMU dengan sebaran meliputi
12 LMU pada klasifikasi tidak kritis dengan luasan 3370.45 ha; 7 LMU klasifikasi
potensial kritis dengan luasan 1960.21 ha; 6 LMU klasifikasi agak kritis dengan
luasan 5412.70 ha; 4 LMU klasifikasi kritis
dengan luasan 116.23 ha, dan 1 LMU lasifikasi sangat kritis dengan luasan 7.6 Ha.
Dilakukan perhitungan ketidakpastian menggunakan monte carlo didapatkan nilai ketidakpastian
sebesar 11.82%.
Critical land refers to land that has undergone
physical, chemical, and biological degradation due to its inappropriate use,
considering the land's conditions or capabilities, resulting in a reduction in
its functionality up to a defined limit. Spatiotemporal information about the
distribution of land criticality can provide insights for land managers in
formulating land conservation strategies. The Sugeno fuzzy logic method is
employed in decision-making processes capable of addressing uncertainty in critical
land classification. Data processing is carried out based on Land Management
Units (LMUs) by overlaying data of soil type, slope, and land cover. Each LMU
is analyzed for land criticality, from non-critical to highly critical, with
parameters including land cover, slope gradient, erosion hazard level, and area
function. The land cover parameter is obtained from the KHDTK UGM management.
The slope gradient map is derived from the SRTM DEM. The erosion hazard level
is processed using the RUSLE method. We identified 30 LMUs with distributions
including 12 LMUs in the non-critical classification with an area of 3370.45
hectares; 7 LMUs in the potentially critical classification with an area of
1960.21 hectares; 6 LMUs in the moderately critical classification with an area
of 5412.70 hectares; 4 LMUs in the critical classification with an area of
116.23 hectares, and 1 LMU in the highly critical classification with an area
of 7.6 hectares. An uncertainty calculation using the Monte Carlo method
resulted in an uncertainty value of 11.82%.
Kata Kunci : Fuzzy Sugeno, Lahan Kritis, KHDTK UGM, GIS, LMU