KETAHANAN HIDUP INOKULUM Bradyrhizobium japonicum, Azotobacter chroococcum, DAN Bacillus amyloliquefaciens YANG DIFORMULASIKAN DALAM BENTUK SERBUK
Ibrahim Wahid, Ir. Donny Widianto, Ph.D.; Prof. Ir. Sebastian Margino, Ph.D; Nur Akbar Arofatullah, S.P., M. Biotech, Ph.D.
2023 | Skripsi | MIKROBIOLOGI PERTANIAN
Ketahanan hidup inokulum dapat dipengaruhi oleh bahan pembawa, suhu pengeringan, dan suhu penyimpanan. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketahanan hidup inokulum Bradyrhizobium japonicum, Azotobacter chroococcum, dan Bacillus amyloliquefaciens yang diformulasikan dalam bentuk serbuk. Suspensi sel bakteri diinokulasikan ke bahan pembawa yaitu tepung jagung, tepung tapioka, dan tepung beras, kemudian dikeringkan menggunakan oven pada kondisi suhu 40?C selama 50 menit, 50?C selama 45 menit, dan 60?C selama 30 menit hingga mencapai kadar air ±5%. Jumlah sel bakteri hidup sebelum dan setelah pengeringan dihitung menggunakan metode TPC. Inokulum bakteri dengan penurunan viabilitas sel terkecil selanjutnya disimpan pada suhu ±28?C dan 5?C. Jumlah sel bakteri hidup dihitung tiap bulan menggunakan metode TPC selama 3 bulan penyimpanan. Hasil menunjukkan bahwa inokulum bakteri dengan penurunan viabilitas sel terkecil diperoleh pada bahan pembawa tepung tapioka yang dikeringkan pada suhu 40?C selama 50 menit untuk Bradyrhizobium japonicum dan Azotobacter chroococcum berturut-turut sebesar 0,612?n 4,667%; serta suhu 60?C selama 30 menit untuk Bacillus amyloliquefaciens dengan nilai sebesar 79,42%. Penyimpanan pada suhu 5?C selama 3 bulan dengan bahan pembawa tepung tapioka menghasilkan nilai penurunan viabilitas sel terkecil untuk Bradyrhizobium japonicum, Azotobacter chroococcum, dan Bacillus amyloliquefaciens berturut-turut sebesar 1,725 log CFU/g; 1,435 log CFU/g; dan 0,982 log CFU/g. Berdasarkan penelitian ini, ketahanan hidup bakteri paling baik ditunjukkan pada bahan pembawa tepung tapioka yang dikeringkan pada suhu 40?C selama 50 menit untuk Bradyrhizobium japonicum dan Azotobacter chroococcum, dan 60?C selama 30 menit untuk Bacillus amyloliquefaciens, serta disimpan pada suhu 5?C.
The survival rate of inoculum is affected by carrier material, drying temperature, and storage temperature. This research aimed to assess the survival rate of bacteria formulated in powder. In this research, the suspension of bacterial cells was inoculated into carrier materials such as yellow corn flour, tapioca starch, and rice flour, then air dried at drying temperatures of 40?C for 50 minutes, 50?C for 45 minutes, and 60?C for 30 minutes to reduce the water content up till ±5%. The total of bacteria cells was enumerated using the TPC method. The bacterial inoculum with the lowest decrement of cell viability was then stored for 3 months at ±28?C and 5?C and monitored per month with enumeration using the TPC method. The result showed that tapioca starch at 40?C drying temperature for 50 minutes had the lowest decrement of cell viability for Bradyrhizobium japonicum and Azotobacter chroococcum as 0,612% and 4,667% respectively, and 60?C drying temperature for 30 minutes for Bacillus amyloliquefaciens as 79,42%. The storage temperature at 5?C in 3 months with tapioca starch carrier material showed the lowest decrement of cell viability for Bradyrhizobium japonicum, Azotobacter chroococcum, and Bacillus amyloliquefaciens as 1,725 log CFU/g; 1,435 log CFU/g; and 0,982 log CFU/g; respectively. The best carrier material to support survival of bacterial inoculum was tapioca starch, with a 40?C drying temperature for 50 minutes for Bradyrhizobium japonicum and Azotobacter chroococcum, and with 60?C drying temperature for 30 minutes for Bacillus amyloliquefaciens, and then stored at temperature 5?C.
Kata Kunci : bahan pembawa, inokulum bakteri, ketahanan hidup, suhu