Pengaruh pelatihan pra- purna karya terhadap post power syndrome karyawan PT Badak NGL Bontang
EFFENDI, Murfat, Prof.Dr. Asip F. Hadipranata, Psi
2004 | Tesis | Magister ManajemenPada dasarnya, training dan pengembangan dulu dilihat sebgagai sebuah aktivitas yang bias menolong perusahaan untuk menciptakan nilai dan sukses untuk menghadapi dengan tantangan masa depan yang sangat competitive. Sekarang pandangan tersebut dirubah. Perusahaan yang menggunakan innovasi pelatihan dan latihan dikembangkan seperti membuat kinerja keuangan perusahaan lebih baik dari pada pesaingnya yang tidak melakukan pelatihan. Pelatihan dan pengembangan juga menolong untuk menghadapi tantangan persaingan yang sangat ketat. contohnya, sebagai perusahaan berusaha untuk mengembangkan produknya ke pasar luar negri,kesuksesan mereka akan ditentukan oleh karyawannya yang bertanggung jawab untuk bekerja di budaya yang baru. (tantangan Global). Peranan pelatihan sudah bekrmbang atau meluas pada desain program pelatihan. Efetif intstruksi pelatihan sangat penting, tetapi pelatihan karyawan dan pelatih meningkat untuk dijawab untuk menciptakan system untuk memotivasi karyawan, menambah pengetahuan dan menghadapi masa pensiun agar tidak terjadinya Post Power Syndrome
Traditionally, training and development was not viewed as an activity that could help companies create “value†and successfully deal with competitive challenges. Today that view has changed. Companies that use innovative training and development practices are likely to report better financial performance than their competitors that do not. Training and development also helps a company to meet competitive challenges. For example, as companies attempt to expand into foreign marketplaces, their success will be determined by employees ability to work in a new culture (the global challenge). The role of training has broadened beyond training program design. Effective instructional train remains important, but training employment and trainers are increasingly be asked to create systems to motivate employees learn to create knowledge and face pension for Post Power Syndrome.
Kata Kunci : Post Power Syndrome,Manajemen Pelatihan Pra,Purna Karya, Training Pra-Purna Karya, Post Power Syndrome