Mekanisme Antagonisme Bacillus spp. terhadap Colletotrichum siamense Penyebab Penyakit Antraknosa pada Tanaman Bawang Merah
Dini Agustina, Dr. Suryanti, S.P., M.P. ; Prof. Tri Joko, S.P., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Fitopatologi
Penyakit Antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum spp. merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) di Indonesia. Salah satu alternatif pengendalian yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah penggunaan agens hayati. Bacillus merupakan salah satu agens hayati memiliki kemampuan untuk mengendalikan patogen tanaman yang dikembangkan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mekanisme antagonisme yang dimiliki oleh Bacillus spp. terhadap patogen Colletotrichum siamense penyebab antraknosa pada bawang merah. Pengujian aktivitas antagonisme Bacillus secara in vitro meliputi uji antagonisme kultur ganda, uji aktivitas enzimatik, uji aktivitas Volatile Organic Compound (VOC). Uji antagonisme kultur ganda menunjukkan bahwa isolat Bacillus sp. Tlg4 memiliki nilai penghambatan tertinggi mencapai 48,58%, isolat B. velezensis B-27 menunjukkan aktivitas enzimatik terlengkap yaitu menghasilkan enzim kitinase, selulase, protease, dan ?1-3 glukanase. Pada uji aktivitas senyawa organik volatil mengindikasikan bahwa isolat Bacillus sp. BrBT1 menghambat pertumbuhan C. siamense sebesar 25,59%. Percobaan di rumah kaca menunjukkan hasil bahwa B. velezensis B-27 paling efektif dalam menekan perkembangan penyakit antraknosa, ditunjukkan dengan intensitas penyakit dan nilai AUDPC yang paling rendah. Aplikasi Bacillus sp. pada tanaman bawang merah belum mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif secara signifikan.
Anthracnose disease caused by Colletotrichum spp. is a significant limiting factor in shallot (Allium cepa var. aggregatum) cultivation in Indonesia. Biological control using antagonistic microorganisms, such as Bacillus spp., represents a promising alternative to conventional disease management strategies. This study aimed to evaluate the antagonistic mechanisms of Bacillus spp. against Colletotrichum siamense, the causal agent of anthracnose in shallots. In vitro assays included dual culture tests, enzymatic activity tests, and volatil organic compound activity test. The dual culture assays showed Bacillus sp. Tlg4 achieved the highest inhibition 48.58%, while B. velezensis B-27 demonstrated significant enzymatic activity, producing chitinase, cellulase, protease, and ?1-3 glucanase. VOC assays indicated that Bacillus sp. BrBT1 inhibited C. siamense growth by 25.59%. In greenhouse experiment confirmed that B. velezensis B-27 was the most effective in suppressing anthracnose development, as indicated by the lowest disease intensity and Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC). However, Bacillus spp. application did not significantly promote vegetative growth in shallot plants. These findings highlight the potential of B. velezensis B-27 as a biocontrol agent for managing anthracnose in shallot cultivation.
Kata Kunci : Enzim, penghambatan, senyawa organik volatil