Laporkan Masalah

Pusat Komunitas dan Resort Jamu Tradisional Desa Kiringan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dengan Metode Disprogramming

Permata Mayang Susanny, Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU.

2023 | Skripsi | ARSITEKTUR

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada awal tahun 2020 memberikan dampak yang sangat signifikan  terutama pada sektor pariwisata. Namun dengan pemulihan dunia, diestimasikan bahwa pariwisata akan kembali bangkit dengan kenaikan angka kedatangan turis sebesar 25-40% mulai akhir tahun 2022 (World Tourism Organization, 2022). Walaupun demikian, dengan adanya kebiasaan baru serta pemahaman masyarakat yang lebih dalam mengenai kesehatan, pariwisata pasca-pandemi cenderung akan lebih condong ke arah wellness tourism yang bertujuan meniaga dan meningkatkan kesejahteraan pribadi meliputi fisik, mental, dan spiritual. Tipe pariwisata yang akan menjadi prioritas global ini meliputi pengalaman yang memiliki kaitan erat dengan budaya lokal, kondisi alam, lingkungan, serta kuliner yang tentunya sangat cocok dengan kekayaan Indonesia.

Kemenparekraf menetapkan Yogyakarta sebagai salah satu dari tiga kota prioritas dalam pengembangan wellness tourism, salah satunya karena merupakan rumah dari spa jawa, terapi seni, meditasi, eksplorasi alam, dan yang paling utama adalah tradisi obat herbal jamu. Tradisi jamu yang telah dipercaya khasiatnya secara turun temurun sejak zaman kerajaan kini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO yang membuatnya lebih dikenal di kancah internasional.

Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta terdapat sebuah desa yang sejak dulu dikenal sebagai rumah bagi para pengrajin jamu, yaitu Desa Wisata Jamu Kiringan. Desa ini bahkan mendatangkan turis dari mancanegara yang datang untuk belajar dan mencicipi langsung jamu tersebut. Dengan jumlah pengrajin jamu yang besar, yaitu lebih dari 130 orang, sangat disayangkan desa ini belum memiliki fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan para pengrajin jamu serta mengakomodasi para wisatawan yang datang.

Melihat kondisi tersebut, penulis mengangkat gagasan perancangan pusat komunitas bagi para pengrajin jamu yang digabungkan dengan fungsi resort bagi para wisatawan. Melalui metode Disprogramming, bangunan didesain agar dapat mengakomodasi fungsi ganda yang saling mengkontaminasi agar dapat tetap berfungsi secara efektif. Hal ini dilakukan dengan analisis hubungan program dan ruang kedua tipologi tersebut melalui teori Reciprocity, Indifference, dan Conflict yang dikemukakan oleh Bernard Tschumi untuk dapat melahirkan pemrograman yang dapat berfungsi dengan maksimal secara efisien.

The Covid-19 pandemic that hit the world in early 2020 had a very significant impact, especially on the tourism sector. However, with the global recovery, it is estimated that tourism will revive with an increase in tourist arrivals of 25-40% starting at the end of 2022 (World Tourism Organization, 2022). However, with the existence of new habits and a deeper understanding of society about health, post-pandemic tourism will tend to be more inclined towards wellness tourism which aims to maintain and improve personal well-being including physical, mental and spiritual. This type of tourism which will become a global priority includes experiences that are closely related to local culture, natural conditions, the environment, and culinary which of course fits very well with Indonesia's riches.

The Ministry of Tourism and Creative Economy has designated Yogyakarta as one of three priority cities in the development of wellness tourism, one of which is because it is the home of Javanese spas, art therapy, meditation, nature exploration, and most importantly the traditional herbal medicine tradition. The tradition of herbal medicine which has been believed to have its efficacy from generation to generation since the royal era has now been designated as an intangible cultural heritage at UNESCO which has made it better known on the international stage.

In Bantul Regency, Yogyakarta, there is a village that has long been known as the home for herbal medicine craftsmen, namely the Jamu Kiringan Tourism Village. This village even invites tourists from abroad who come to study and taste the herbal medicine first hand. With a large number of herbal medicine craftsmen, which is more than 130 people, it is a pity that this village does not yet have adequate facilities to support the activities of herbal medicine craftsmen and accommodate visiting tourists.

Seeing these conditions, the authors raised the idea of designing a community center for herbal medicine craftsmen combined with a resort function for tourists. Through the Disprogramming method, the building is designed to accommodate multiple functions that contaminate each other in order to continue to function effectively. This is done by analyzing the relationship between the program and the space of the two typologies through the theory of Reciprocity, Indifference, and Conflict proposed by Bernard Tschumi to be able to produce programming that can function optimally efficiently.

Kata Kunci : pariwasata pasca pandemi, wellness tourism, jamu, pusat komunitas, resort, disprogramming

  1. S1-2023-443517-abstract.pdf  
  2. S1-2023-443517-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-443517-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-443517-title.pdf