Prevalensi dan Faktor Risiko Distokia pada Sapi Potong di Kabupaten Sleman
Azzahra Rias Puteri, Dr. Drh. Surya Agus Prihatno, M.P.
2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Distokia didefinisikan sebagai adanya kesulitan dalam tahap kedua proses kelahiran yang normalnya 30 menit hingga 4 jam dengan durasi rata-rata 70 menit, menjadi lebih lama. Distokia sebagai gangguan reproduksi dapat mengakibatkan penurunan produktivitas sapi potong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko yang mempengaruhi distokia pada sapi potong, terutama di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan dilakukannya penelitian, diharapkan optimalisasi penanggulangan gangguan reproduksi dapat ditingkatkan.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 349 ekor sapi betina dewasa sudah pernah partus yang terdapat di 32 kelompok ternak Kabupaten Sleman. Metode penelitian adalah dengan pengadaan sampling random bertahap dan wawancara peternak. Hasil wawancara yang tercatat dalam bentuk formulir Google kemudian dianalisis secara statistik menggunakan Chi Square (x2) dan Odds Ratio (OR) pada program SPSS 26.0 untuk melihat adanya asosiasi antara faktor risiko dengan distokia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi distokia di Kabupaten Sleman sebesar 10%. Faktor penyebab yang berasosiasi meningkatkan kejadian distokia pada sapi potong di Kabupaten Sleman adalah sapi dengan jumlah pakan >25 kg/hari (P = 0,011; OR = 2,463) dan sapi yang ditempatkan dalam ruangan sempit dengan disekat (P = 0,046; OR = 0,492). Kesimpulan dari penelitian ini adalah prevalensi distokia di Kabupaten Sleman sebesar 10%. Faktor risiko yang berasosiasi terhadap kejadian distokia pada sapi potong di Kabupaten Sleman adalah sapi dengan jumlah pakan >25 kg/hari dan sapi yang ditempatkan dalam ruangan sempit dengan disekat.
Dystocia is defined as difficulty in the second stage of the birth process, which normally takes 30 minutes to 4 hours with an average duration of 70 minutes, becomes longer. Dystocia as a reproductive disorder can reduce the productivity of beef cattle.This study aims to determine the prevalence and risk factors that affect dystocia in beef cattle, especially in Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. By conducting research, it is hoped that the optimization of the prevention of reproductive disorders can be increased.
The material used in this study was 349 adult female cows that had given birth in 32 livestock herds in Sleman Regency. The research method is by providing gradual random sampling and farmer interviews.The results of the interviews recorded on the Google form were then statistically analyzed using Chi Square (x2) and Odds Ratio (OR) in the SPSS 26.0 program to see any association between risk factors and dystocia.
The results showed that the prevalence of dystocia in Sleman Regency was 10%. The causal factors associated with increasing the incidence of dystocia in beef cattle in Sleman Regency were cattle that had feed amounts >25 kg/day (P = 0.011; OR = 2.463) and cows that were placed in narrow rooms with partitions (P = 0.046; OR = 0.492). The conclusion of this study is that the prevalence of dystocia in Sleman Regency is 10%. The risk factors associated with the incidence of dystocia in beef cattle in Sleman Regency are cattle that have an amount of feed >25 kg/day and cattle that are placed in narrow rooms with partitions.
Kata Kunci : Distokia, Faktor Risiko, Kabupaten Sleman, Manajemen Ternak, Performa Reproduksi Ternak, Sapi Potong, Ternak.