Pengaruh Pupuk Guano dan Asal Benih Terhadap Pertumbuhan Cendana Berumur Tiga Bulan Di Areal KHDTK Wanagama
Tofikha Malik Alamsyah Ismatama, Dr. Yeni Widyana N. R., S.Hut., M.Sc. ; Dr. Ir. Daryono Prehaten, S.Hut., M.Sc., IPM.
2023 | Skripsi | KEHUTANAN
Pada tahun 1997 terjadi penurunan jumlah individu dan populasi cendana secara signifikan yang disebabkan oleh eksploitasi secara massif. Hal ini diperparah dengan tingginya angka selfing cendana yang mengakibatkan kegagalan permudaan alam dan reproduksi biji. Daerah sebaran alami tidak selalu layak untuk menjadi area konservasi in situ. Oleh karena itu, dilakukan uji coba introduksi cendana di KHDTK Wanagama. Cendana memiliki sifat semi parasit sehingga membutuhkan unsur hara tambahan. Pada penelitian ini, penambahan unsur hara dari pupuk guano dilakukan bersamaan dengan pembangunan konservasi eks situ cendana di KHDTK Wanagama oleh BPDAS Serayu Opak Progo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian guano dan asal benih terhadap persen hidup dan pertumbuhan cendana berusia tiga bulan di KHDTK Wanagama.
Penelitian ini dilakukan pada Petak 16 dan 17 Wanagama (titik 46, titik 56, titik 65, titik 74, titik 82, dan titik 89). Bahan penelitian yang digunakan adalah Semai cendana sejumlah 240 batang yang terdiri atas variasi asal benih, yaitu Provenans Sumba, Ras lahan Petir, Ras lahan Imogiri, Ras lahan Watu Payung, dan Ras lahan Nglanggeran; Pupuk yang digunakan adalah pupuk guano. Metode yang digunakan adalah RCBD (5 variasi asal benih, 4 Treeplot, 2 perlakuan pemupukan, 6 blok); dengan tahapan penelitian yaitu (1) Pembuatan peta rencana pertanaman; (2) Penyeleksian tanaman; (3) Penanaman tanaman, (4) Pengambilan data tinggi dan diameter; dan (5) pengambilan data lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk guano dan variasi asal benih tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi semai, akan tetapi memberikan pengaruh signifikan pada pertambahan diameter semai cendana. Interaksi perlakuan pemberian pupuk dan variasi asal benih memberikan hasil yang signifikan terhadap pertambahan tinggi dan diameter semai. Pemberian pupuk guano memberikan pengaruh baik terhadap pertambahan tinggi dan diameter semai. Asal benih dengan pertambahan tinggi terbesar adalah ras lahan Petir (12,76 cm), sedangkan yang menampilkan pertambahan diameter terbesar adalah ras lahan Imogiri (0,98 cm). Keseluruhan asal benih memiliki persen hidup lebih dari 60%. Asal benih dengan persen hidup tertinggi adalah Nglanggeran dengan survival rate sebesar 85,42%.
In 1997, there was a significant decline in the number of individuals
and sandalwood populations due to massive exploitation. This was further
aggravated by the high rate of selfing in sandalwood, leading to natural
regeneration and seeds reproduction failures. Natural distribution areas are
not always deserve to be conservation in situ areas. Therefore, an experimental
introduction of sandalwood was conducted in the KHDTK Wanagama. Sandalwood has
semi-parasitic characteristics and requires additional nutrients. In this
study, the addition of nutrients from guano fertilizer was conducted simultaneously
with the establishment of ex situ sandalwood conservation in the KHDTK Wanagama
by BPDAS Serayu Opak Progo. The aim of this research was to determine the
effect of guano application and seed origin on the survival percentage and
growth of three-month-old sandalwood in the Wanagama.
The study was conducted in Plots 16 and 17 in
Wanagama (point 46, point 56, point 65, point 74, point 82, and point 89). The
research materials used were 240 sandalwood seedlings, consisting of different seed
origins: Sumba provenance, Petir land race, Imogiri land race, Watu Payung land
race, and Nglanggeran land race. The fertilizer used was guano fertilizer. The
research method employed was RCBD (5 variations of seed origin, 4 Treeplots, 2
fertilizer treatments, 6 blocks), with the following research stages: (1) Preparation
of planting plan map; (2) Plant selection; (3) Planting of seedlings; (4) Data
collection of height and diameter; and (5) Environmental data collection.
The results of the study showed that the application
of guano fertilizer and seed origin did not have a significant effect on
seedling height increment but had a significant effect on seedling diameter
increment. The interaction between fertilizer application and seed origin had a
significant effect on the height and diameter increment of the seedlings. The
application of guano fertilizer had a positive effect on the height and
diameter increment of the seedlings. The seed origin with the highest height
increment was Petir (12.76 cm), while the highest diameter increment was Imogiri
(0.98 cm). Overall, all seed origins had a survival rate of over 60%. The seed
origin with the highest survival rate was Nglanggeran with a survival rate of
85.42%.
Kata Kunci : Cendana, Guano, Asal Benih, Konservasi Eks Situ