The Moral Disengagement Experiences of Online Deception Perpetrators
Lubna Hanifa Moeljawan, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D.
2023 | Skripsi | PSIKOLOGI
Kemudahan dalam berkomunikasi secara daring dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak jujur seperti desepsi online, fenomena yang dapat dijelaskan dengan teori moral disengagement. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman moral disengagement para pelaku desepsi online. Empat peserta berusia 20-14 tahun yang merupakan WNI dan pernah menunjukkan perilaku desepsi online direkrut sebagai partisipan. Penelitian kualitatif ini menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dengan wawancara semi-struktur sebagai metode pengumpulan data utama. Temuan penelitian mengungkapkan tiga tema utama terkait pengalaman para partisipan. Pertama, moral disengagement difasilitasi melalui faktor internal dan eksternal yang memungkinkan penafsiran ulang terhadap desepsi sebagai perilaku yang tidak membahayakan. Mekanisme moral disengagement dan dinamika tertentu dari lingkungan online juga memfasilitasi desepsi ini, yang menghasilkan dinamika intrapersonal mulai dari keadaan emosional hingga ekspresi identitas di antara para partisipan. Dengan mengimbuhkan desepsi mereka dengan tujuan yang dapat diterima secara sosial atau moral, individu merasa bahwa tindikan desepsi mereka dapat dibenarkan. Oleh karena itu, jika desepsi dapat memberikan manfaat pribadi kedepannya, maka lebih tinggi kemungkinkan untuk mengulangi perbuatan desepsi tersebut.
The convenience of online communication can be utilized for dishonest purposes like online deception, which can be explained by the moral disengagement theory. This study aims to explore the moral disengagement experiences of online deception perpetrators. Four participants aged 20-24 who identified as Indonesian and had engaged in online deception were recruited as participants. The qualitative research utilizes an Interpretative Phenomenological Approach (IPA) with semi-structured interviews as the primary data collection method. The findings reveal three main themes as experienced by the participants. First, moral disengagement is facilitated through internal and external factors that enable a benign reconstrual of the deception. Moral disengagement mechanisms and certain dynamics of the online environment also facilitate the deception, giving rise to intrapersonal machinations ranging from affective states to identity expression amongst individuals. By divesting it with a socially or morally acceptable purpose, individuals feel justified in their actions which influences the reoccurrence of online deception. Thus, developing interventions and strategies that encourage ethical online behavior, dissuade deceptive practices, and construct a more trustworthy online environment will be beneficial.
Kata Kunci : moral disengagement, online communication, online deception