Nandur Lampu: Rekayasa Lingkungan Petani Buah Naga di Desa Temurejo, Banyuwangi
DIKI NORAS HABIBI, Dr. Agung Wicaksono, M. A
2023 | Tesis | S2 Antropologi
Petani buah naga di Desa Temurejo, Banyuwangi, telah lama menghadapi dominasi pasar. Ketergantungan pada pasar yang tinggi membuat harga jual buah naga menjadi tidak stabil, bahkan terkadang turun drastis pada musim panen tiba. Meskipun petani bisa mengendalikan produksi buah naga, tetapi mereka tidak memiliki kendali terhadap pasar, sehingga petani menjadi orang yang dirugikan dalam proses inkorporasi pasar. Untuk mengantisipasi semua itu petani melakukan rekayasa lingkungan pada tanaman buah naga menggunakan pemasangan lampu. Proses pembuahan buah naga dengan menggunakan lampu tidak hanya mengikuti ritme lingkungan yang bisa berbuah sesuai dengan musimnya, tetapi juga mengubah proses alamiah lingkungan. Buah naga yang biasanya hanya bisa berbuah di musim tertentu, kini bisa berbuah sepanjang tahun dengan perantara lampu listrik. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara secara mendalam, dan studi pustaka. Penelitian ini berlangsung di bulan Oktober hingga Desember 2022. Penelitian dilakukan di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Petani melakukan rekayasa lingkungan pada pertumbuhan tanaman buah naga dengan memasang lampu pada malam hari untuk merekayasa fotosintesis agar tanaman bisa berbuah diluar musim. Rekayasa lingkungan ini dilakukan oleh petani buah naga bukan hanya untuk menjaga produksi yang berkelanjutan, tetapi juga sebagai strategi untuk mengatasi kerugian pada saat musim panen puncak buah naga. Dengan pendekatan yang rasional, petani buah naga berusaha memaksimalkan hasil dari panen di luar musim guna mengkompensasi kerugian pada saat produksi puncak.
Dragon fruit farmers in Temurejo Village, Banyuwangi, have long faced market domination. Their high dependence on the market results in unstable dragon fruit prices, sometimes drastically dropping during the harvest season. Although farmers can control dragon fruit production, they have no control over the market, which puts them at a disadvantage in the process of market incorporation. To anticipate this situation, farmers employ environmental engineering on dragon fruit plants by installing lamps. The process of fertilizing dragon fruit using lamps not only follows the environmental rhythm for seasonal fruiting but also alters the natural environmental process. Dragon fruits, which used to only bear fruit in specific seasons, can now fruit year-round with the aid of electric lamps. The research methodology employed is ethnography, utilizing data collection techniques such as participant observation, in-depth interviews, and literature review. The research was conducted from October to December 2022 in Temurejo Village, Bangorejo District, Banyuwangi Regency. The research findings indicate that farmers engineer the environmental growth of dragon fruit plants by installing lamps at night to manipulate photosynthesis, allowing the plants to bear fruit outside the regular season. Environmental engineering is carried out by dragon fruit farmers not only to maintain sustainable production but also as a strategy to mitigate losses during the peak dragon fruit harvest season. With a rational approach, dragon fruit farmers strive to maximize the yields from off-season harvests in order to compensate for the losses during the peak production period.
Kata Kunci : Petani Buah Naga, Rekayasa Lingkungan, Rasionalitas, Pasar