Laporkan Masalah

PENGARUH KETINGGIAN DATARAN TERHADAP NEMATODIASIS PADA KAMBING BLIGON YANG DIPELIHARA DENGAN TIPE KANDANG PANGGUNG

Deka Riska Nur Rahman, Dr. drh. Irkham Widiyono

2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji infeksi cacing nematoda gastrointestinal pada kambing Bligon yang dipelihara dengan kandang panggung di Yogyakarta pada ketinggian dataran yang berbeda. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan mengambil sebanyak 17 sampel kambing yang dipelihara pada dataran medium dengan ketinggian 558 – 601 mdpl di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, dan sebanyak 14 sampel kambing yang dipelihara pada dataran rendah dengan ketinggian 23 – 44 mdpl di Kecamatan Pandak dan Sanden, Kabupaten Bantul. Sampel feses diambil langsung dari rektum kambing kemudian dibawa ke Balai Besar Veteriner Wates untuk dilakukan pemeriksaan nematoda dengan metode uji apung Whitlock. Secara keseluruhan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebanyak 12 dari 31 sampel (38,7%) terinfeksi cacing nematoda gastrointestinal, yakni Haemonchus sp., Strongyloides sp., Trichostrongylus sp., dan Trichuris sp. Terdapat 10 dari 17 (58,8%) kambing yang dipelihara di dataran medium terinfeksi nematoda gastrointestinal dan 2 dari 14 (14,3%) kambing yang dipelihara di dataran rendah. Melihat hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa kejadian nematodiasis kambing Bligon pada kandang panggung di Yogyakarta terdapat asosiasi signifikan dengan ketinggian dataran.

This study aims to examine gastrointestinal nematodes infection in Bligon goats kept in local stilt shed in the Yogyakarta at different altitudes. The study was conducted using a quantitative approach by taking 17 goats from the medium plains with an altitude of  558 – 601 meters above sea level in Cangkringan District, Sleman Regency, and 14 goats from the lowlands with an altitude of 23 – 44 meters above sea level in Pandak and Sanden Districts, Bantul Regency. Faecal samples were taken directly from the goat’s rectum and then brought to Wates Veterinary Center to examine nematodes using the Whitlock float test method. Overall, laboratory examination results showed that 12 out of 31 samples (38,7%) were infected by gastrointestinal nematode, namely Haemonchus sp., Strongyloides sp., Trichostrongylus sp., and Trichuris sp. There were 10 out of 17 (58,8%) goats kept in the medium plains infected with gastrointestinal nematodes and 2 out of 14 (14,3%) goats kept in the lowlands. Looking at the statistical results, it can be concluded that the incidence of nematodiasis in Bligon goats in slatted floor shed in Yogyakarta has no significant association with altitude.

Kata Kunci : kambing Bligon, nematodiasis, perkandangan, ketinggian dataran

  1. S1-2023-442182-abstract.pdf  
  2. S1-2023-442182-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-442182-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-442182-title.pdf