Infestasi Linognathus africanus pada Kambing Peranakan Etawa (PE)
Rafika Lintang Primasanti, Dr. drh. Ana Sahara, M.Si.
2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Pertumbuhan populasi Kambing Peranakan Etawa (PE) tidak sebanding dengan permintaan yang terus meningkat; Hal ini disebabkan kambing dipelihara secara tradisional dalam skala kecil. Beberapa parasit yang menyerang kambing salah satunya adalah kutu. Identifikasi spesies kutu secara spesifik dapat memberikan informasi morfologi dan morfometrik dari kutu tersebut. Penentuan tingkat kejadian, intensitas, dan hubungan antara jenis kelamin kambing dengan jumlah infestasi juga dapat dilakukan untuk memudahkan pengendalian infestasi kutu pada kambing. Sampel kutu yang dikoleksi secara acak pada dua daerah yaitu dari total 17 ekor kambing dengan jumlah infeksi sebanyak 9 ekor kambing di Kabupaten Magelang dan 14 ekor kambing dengan jumlah infeksi sebanyak 7 ekor kambing di Kabupaten Sleman. Identifikasi spesies kutu dilakukan berdasarkan morfologi dan morfometriknya dengan mengamati preparat yang telah dibuat menggunakan mikroskop. Tingkat kejadian dan intensitas dihitung menggunakan rumus perhitungan tingkat kejadian dan intensitas infestasi. Data diolah menggunakan SPSS untuk menentukan adanya hubungan antara jenis kelamin kambing dengan jumlah infestasi kutu. Berdasarkan morfologi dan morfometriknya, kutu yang diperiksa merujuk pada spesies Linognathus africanus. Tingkat kejadian infestasi Linognathus africanus di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman adalah sangat sering. Sedangkan tingkat intensitas infestasi Linognathus africanus di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman adalah sedang. jumlah infestasi Linognathus africanus dipengaruhi oleh jenis kelamin kambing.
The population growth of Etawa Crossbred goats is not proportional to the increasing demand, due to the fact that goats are traditionally reared on a small scale. Some of the parasites that attack goats are lice. Specific identification of lice species can provide morphological and morphometric information about the lice. Determination of the incidency rate, intensity, and relationship between goat sex and number of infestations can also be done to make the control of lice infestation easier. Samples of lice were collected randomly in two areas, from 17 goats with a total of 9 goats infected in Magelang Regency and 14 goats with a total of 7 goats infected in Sleman Regency. Lice species identification was carried out based on morphology and morphometrics by observing the slides that had been made under the microscope. Incidency rate and intensity were calculated using the formula for calculating the incidency rate and intensity of infestation. The data were processed using SPSS to determine the relationship between goat sex and the number of infestations of lice. Based on their morphology and morphometrics, the lice examined were referred to Linognathus africanus. The incidency rate of Linognathus africanus infestation in Magelang Regency and Sleman Regency is very frequent. Meanwhile, the intensity of Linognathus africanus infestation in Magelang Regency and in Sleman Regency is moderate. The number of infestations of Linognathus africanus is affected by goat sex.
Kata Kunci : Linognathus africanus, morfologi, morfometrik, intensitas, dan jenis kelamin kambing.