Laporkan Masalah

Perbandingan Temperatur Sapi Tersuspek Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Fase Sebelum Pengobatan, Selama Pengobatan, dan Saat Sembuh

Pramudita Putri Mandegani, Dr. drh. Sarmin, MP.

2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN

Penyakit mulut dan kuku merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus genus Aphthovirus  dalam keluarga Picornaviridae. Virus ini menyerang hewan berkuku belah yang dapat dengan cepat menginfeksi hewan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gejala klinis yang biasa dialami oleh hewan yang terserang penyakit mulut dan kuku adalah peningkatan suhu tubuh, air liur yang berlebih, serta adanya lesi di sela-sela kaki. Suhu tinggi atau demam pada gejala klinis biasanya muncul sebelum terbentuknya lesi vesikuler. Suhu dapat digunakan untuk menentukan status kesehatan dan fisiologis hewan, maka dalam penelitian ini suhu menjadi salah satu indikator dalam kesembuhan PMK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan suhu sapi tersuspek PMK pada fase sebelum pengobatan yaitu hari pertama sapi menunjukan gejala klinis PMK, selama pengobatan yaitu hari keempat setelah muncul gejala klinis, dan saat sembuh. Penelitian ini menggunakan 6 ekor sapi suspek PMK yang berasal dari peternakan di kawasan Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Suhu rektal diukur menggunakan termometer dan memperoleh hasil rata-rata suhu sebelum pengobatan, selama pengobatan, dan saat sembuh berturut-turut: 40,32 °C; 38,78 °C; 38,33 °C. Data diolah menggunakan analisis statistik ANOVA dan dilanjutkan dengan post hoc Tukey untuk mengetahui fase yang mengalami perbedaan suhu secara signifikan. Penelitian ini dapat disimpulkan respon suhu pada fase sebelum pengobatan mengalami peningkatan di atas batas normal atau demam, dan kembali normal pada fase selama pengobatan dan saat sembuh.

Foot and mouth disease is teh disease that caused by the genus Aphthovirus of the Picornaviridae family. This virus attack cloven hooves and quickly infect animals, either directly or indirectly. Clinical symptoms commonly experienced by animals affected by foot and mouth diseases are increased body temperature, excessive salivation, and the presence of lesions between the legs. High temperature or fever ini clinical symptoms usually appears before the formation of vesicular lesions. Temperature can also be used as an important indicator to determine the health and physiological status of animals. This study aims to compare the temperature comparison of cows suspected of foot and mouth disease in the pre-teratment phase, namely the first day the cows showed clinical symptoms of FMD, during treatment,  namely the fourth day after clinical symtoms appeared, and when they recovered. This study uses 6 cows showing clinical signs of FMD and originating from Sleman, Yogyakarta. Rectal temperature is measured using a thermometer and obtained the average temperature before treatment, healing period, and recovery respectively: 40,32 °C; 38,78 °C; 38,33 °C. This data were processed using ANOVA statistical analysis and followed by Tukey's post hoc to determine which which phase experinced a significant temperature difference. This study can be concluded that the temperature response in the pre-treatment phase increased above normal limits or fever, and returned to normal during the treatment and recovery phase.

Kata Kunci : aphthovirus, gejala, virus, demam

  1. S1-2023-445452-abstract.pdf  
  2. S1-2023-445452-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-445452-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-445452-title.pdf