Laporkan Masalah

Studi Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Trenggalek Berbasis Subsistem Usaha Budidaya Tanaman (On-Farm)

Apri Dwi Iswanda, Dr.Geog. Dodi Widiyanto, S.Si., MRegDev.

2023 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Kabupaten Trenggalek menyimpan segala potensi sumber daya alam yang melimpah untuk menunjang sektor primer. Sektor yang menompang sebagian perekonomian masyarakat Kabupaten Trenggalek sangat erat kaitannya dengan hasil ekstraksi sumber daya alam. Namun, pada beberapa tahun belakang sektor tersebut mengalami pergeseran dominasi dengan sektor lain.  Rencana pengembangan kawasan agropolitan yang tertuang pada dokumen perencanaan Kabupaten Trenggalek sendiri merupakan bentuk perencanaan untuk mencapai suatu transformasi terhadap sektor primer khususnya pada bidang pertanian untuk berkembang secara dinamis dan responsif terhadap tuntutan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali penetapan kawasan pengembangan agropolitan yang ditinjau dari perspektif basis komoditas pertanian dari masing-masing kecamatan sebagai usaha dalam mewujudkan subsistem usaha budidaya tanaman (on-farm). Jenis data yang digunakan gabungan antara data primer dan data sekunder dengan menggunakan teknik analisis location quotient dan dynamic location quotient, metode skalogram dengan analisis scalling, analisis K-Means cluster untuk pengelompokkan tingkat potensi wilayah, analisis indeks sentralitas, serta didukung dengan analisis deskriptif dari stakeholder yang memiliki keterhubungan dengan dinamika kawasan agropolitan. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki jenis basis komoditas terbanyak adalah Kecamatan Watulimo dengan sembilan belas (19) basis komoditas. Sedangkan kecamatan dengan basis komoditas paling sedikit adalah Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan. Hasil analisis dari tingkat potensi wilayah (TPW) dikelompokkan menjadi tiga (3) klaster dimana klaster I yang beranggotakan lima (5) kecamatan, klaster II yang beranggotakan enam (6) kecamatan, dan klaster III yang beranggotakan tiga (3) kecamatan. Sedangkan analisis untuk identifikasi struktur ruang yaitu pada ordo I atau kota tani utama adalah Kecamatan Trenggalek. Untuk ordo II atau kota tani terdiri dari sembilan (9) kecamatan, dan ordo III yang terdiri dari tiga (3) kecamatan. Hasil intepretasi dari hasil profil komoditas dan identifikasi struktur ruang dapat ditriangulasikan untuk menghasilkan beberapa poin-poin rekomendasi pengembangan kawasan agropolitan serta tahapan-tahapan pengembangan wilayah pada masing-masing wilayah kecamatan dengan mempertimbangkan tingkat potensi wilayah (TPW) dan struktur ruang wilayah.


Trenggalek Regency has abundant natural resource to support the primary sector. Sectors that support part of Trenggalek Regency’s economic community are closely related to the results of natural resource extraction. However, in recent years the sector has already experienced a shift in dominance with other sectors. So that the agropolitan area development plan consisted in the Trenggalek Regency planning document itself is a form of planning to achieve a transformation of the primary sector. Especially in the agricultural sector to devlop dynamically and be responsive to market demands. This study aims to review the designation of agropolitan development areas in terms of the perspective of agricultural commodities based on each sub-district as an effott to realize the on-farm subsystem. The type of data used is a combination of primary data and secondary data using location quotient and dynamic location quotient analysis techniques, scalogram method with scalling analysis, K-Means cluster analysis for grouping levels of regional development, centrality index analysis, and supported by descriptive analysis from stakeholders which has a connection with the dynamics of agropolitan areas.

The results showed that the district with the most types of commodity bases is Watulimo District, with 19 commodity bases. Meanwhile, the sub-districts with the least commodity base are Trenggalek and Pogalan sub-districts. The regional development (TPW) analysis results are grouped into 3 clusters: cluster I has five districts, cluster II has six, and cluster III has three districts. While the analysis to identify the spatial structure is in the first hierarchy, or the main farming town is Trenggalek Regency, the second hierarchy or farming town, consists of 9 districts, and the third hierarchy consists of 3 districts. Using the trianggulation method to identify the interpretation process  for the results of the commodity profile and spatial structure identification can be triangulated  to  produce  several  points of  recommendation  for the  development of agropolitan areas and stages of regional development in each district by considering the level of regional development (TPW) and regional spatial structure.

Kata Kunci : faktor pengembangan wilayah, komoditas unggulan, agropolitan, regional development factors, superior commodities, agropolitan

  1. S1-2023-426889-abstract.pdf  
  2. S1-2023-426889-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-426889-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-426889-title.pdf