Kisah Pelik Perempuan dalam Belenggu Lingkar Kemiskinan: Kongkalikong 'Kawin Tangkap' di Kodi Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur
Olga Aurora Nandiswara, Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A.
2023 | Tesis | S2 Antropologi
Semenjak Konvensi Penghapusan Diskriminasi pada Perempuan-CEDAW dirativikasi di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia, isu-isu pemaksaan perkawinan/ 'kawin tangkap' di Sumba menjadi isu yang diperhatikan, terus dibicarakan oleh berbagai pihak, seperti aktivis, praktisi, akademisi, dan orang lokal itu sendiri. Sejauh keterbatasan pengamatan saya, pemikiran kritis terdahulu dalam mengkritisi glorifikasi pemaksaan perkawinan cenderung mendalami isu ketimpangan relasi gender. Pada penelitian tesis ini, saya akan mengeksplorasi kekerasan simbolik dan struktural yang sifatnya abstrak dalam konteks pemaksaan perkawinan atau 'kawin tangkap' di Kodi, NTT. Untuk mengkaji kekerasan terhadap perempuan dalam ruang-ruang private seperti pemaksaan perkawinan, penting untuk memahami konteks sosial, ekonomi, dan budaya setempat.
Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi literatur. Sejak tahun 2017-2022, secara berkala tiap tahunnya saya mendapat kesempatan terlibat dalam kerja kajian dan pendampingan dengan pendekatan antropologi sebagai asisten peneliti dan fasilitator. Pengalaman tersebut membantu saya menangkap isu-isu kehidupan sosial-budaya keseharian orang Sumba, khususnya Kodi. Untuk mengumpulkan data tesis ini, saya kembali ke lapangan pada akhir bulan Mei hingga pertengahan Agustus 2021, selama 55 hari. Saya tinggal bersama dengan keluarga yang pernah 'kawin tangkap' di Desa Hombakaripit, Kodi (observasi partisipatif), berbincang dengan keluarga dan orang-orang yang saya jumpai selama di lapangan (wawancarta sambil lalu), dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan, yaitu lima pasangan 'kawin tangkap' dengan latar belakang kondisi dan situasi yang beragam, tokoh adat (rato dan tou pneghe), dan pengurus NGO yang berpengalaman dalam program pendampingan korban pemaksaan perkawinan. Seluruh informan sadar, mengetahui tujuan penelitian, dan bersedia untuk diwawancarai. Meskipun demikian, sejumlah informan meminta untuk disamarkan identitasnya.
Hasil penelitian ini menemukan, pada masa krisis, kongkalikong 'kawin tangkap' digunakan untuk melegitimasi atau memahami situasi dan kondisi dari pihak yang memiliki kepentingan, yaitu mereka yang tidak mampu memenuhi pembelisan ideal dan mereka yang tereksklusi dari komunitas adatnya. Maka kisah 'kawin tangkap' itu beragam, dengan latar belakang kepentingan yang cenderung sepihak. Krisis seringkali dihadapi kelompok masyarakat yang terekslusi dari komunitas adatnya, karena tidak mampu beradaptasi memenuhi kebuthan tanggungjawab adatnya maupun kebutuhan modernnya. Kelindan atau persilangan nilai yang tidak terorganisir secara inkusif dan emansipatif dapat mempertajam kesenjangan atau krisis dalam segala aspek kehidupan: sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam lapisan masyrakat yang tersingkir dan hidup dalam krisis, perempuan dan anak berada pada posisi rentan terbelenggu dalam lingkar hidup kemiskinan yang begitu kompleks.
Since the Convention on the Elimination of Discrimination against Woman-CEDAW was ratified in all parts of the world including in Indonesia, the issue of forced marriage or 'kawin tangkap' di Sumba have become an issue of concern and continuously discussed by various parties, such as activist, practitioners, academics, and local people themselves. as far as my limited observations go, previous critical thoughts in criticizing the glorification of forced marriage tend to explore the issue of gender relations inequality. In this research, I will explore forced marriage (kawin tangkap)'s transcendent symbolic and structural violence in Kodi, NTT. To study violence against women in "private" spaces such as forced marriage, it is important to understand the local social, economic, and cultural context.
The research method used is ethnography. The data collection techniques were carried out by participatory observation, in-depth interviews, and literature study. From 2017-2022, I had the opportunity to be involved as a research assistant and facilitator in research and mentoring work with an anthropological approach. This experience helped me to capture the issues of the daily socio-cultural life of Sumba people, especially Kodi. To collect thesis data, I returned to the field for 55 days, precisely at the and of May to mid-August 2021. I lived with families who had been caught in forced marriage at Hombakaripit Village, Kodi (participatory observation) talked with families and people I met while in the field (casual interviews), and conducted in-depth interviews with a number of informants namely five forced marriage couples with diverse background conditions and situations, traditional leaders (rato and tou pneghe), and NGO administrators experienced in program assistance for victims of forced marriage. All informants were aware of the research objectives and willing to be interviewed. However, some informants requested to remain anonymous.
The research findings indicate that during times of crisis, the collusions of 'forced marriages' is used to legitimize or comprehend the situation and condition of parties with vested interests, specifically those who are unable to meet the requirements for and ideal dowry (belis) and those who are excluded from their indigenous communities. Therefore, the stories surrounding these ' forced marriages' are diverse communities. Therefore, the stories surrounding these 'forced marriages' are diverse, with a tendency towards one-sided interests. Crisis situations are often faced by groups of people who are exclude from their indigenous communities due to their inability to adapt and fulfil their traditional and modern responsibilities. The entanglement or intersection of values that are not organized inclusively and emancipatory can sharpen disparities or crises in all aspects of life: social, economic, and cultural. Within the marginalized layers of society living in crisis, women and children find themselves in vulnerable positions, ensnared in the complex cycle of poverty.
Kata Kunci : Kawin Tangkap, Pemaksaan Perkawinan, Kekerasan Terhadap Perempuan, Kemiskinan, Kodi-NTT/Kawin Tangkap, Forced Marriage, Violence Against Women, Poverty, Kodi-NTT