POTENSI DAYA SAING USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG DI WILAYAH TIMUR PROVINSI JAWA BARAT
Fitri Dian Perwitasari, Prof Dr. Ir. Rini Widiati, M.S. IPU; Prof. Ir. Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P. Ph.D., IPM., ASEAN Eng; Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng
2023 | Disertasi | S3 Ilmu Peternakan
Konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia sampai saat ini masih impor
sekitar 40% sementara produksi dalam negeri lebih dari 90%
peternakan rakyat skala kecil berlahan sempit sehingga pakan hanya tergantung
pada sisa-sisa hasil pertanian tanaman pangan. Peningkatan produksi dalam negeri harus berdaya
saing untuk dapat mensubtitusi import. Penelitian ini bertujuan: 1. inventarisasi dan pemetaan potensi ketersediaan pakan dari limbah pertanian dengan bantuan sistem informasi geografi (GIS). 2. analisis
ekonomi regional bisnis sapi potong yang mempunyai keunggulan kompetitif dan
komparatif. 3. analisis kelayakan finansial dengan kriteria investasi
penggemukan sapi potong. 4. analisis daya saing usaha
penggemukan sapi potong rakyat
pada kondisi saat ini dan pengaruh kebijakan pemerintah
terkait dengan harga input, output dan penerapan teknologi pakan untuk
meningkatkan produktivitas terhadap daya saing produk daging sapi. Penelitian
dilakukan di empat Kabupaten yaitu Ciamis, Indramayu, Cirebon dan Majalengka
dengan metode Purposive Sampling.
Pengambilan jumlah responden di lokasi terpilih menggunakan Snowball Sampling sejumlah 154 peternak penggemukan
sapi potong rakyat terdiri dari pola I (Pemeliharaan 6 bulan) sejumlah 40 dan
pola II (pemeliharaan12 bulan) sejumlah 114 responden sesuai dengan kondisi
yang ada di lokasi penelitian. Metode pengambilan data menggunakan metode
survei. Pengambilan data tahap I, yaitu data sekunder yang berasal dari BPS
Kabupaten lokasi penelitian, selanjutnya pemetaan dengan bantuan aplikasi GIS.
Tahap II menggunakan data panel tahun 2016 - 2020 di lokasi penelitian. Tahap
III. menggunakan data primer. Tahap IV menggunakan data panel. Analisis data untuk menjawab tujuan 1 menggunakan analisis indeks daya ketersediaan hijauan dengan bantuan GIS. Tahap 2
menggunakan analisis LQ dan Shift Share. Tahap 3 menggunakan analisis
kelayakan investasi dengan biaya implisit dan eksplisit. Tahap 4 menggunakan Analisis daya saing dengan
analisis matrik Policy Analysis Matrix (PAM), Private Cost Ratio (PCR) dan Domestik
Resourse Cost (DRC), serta analisis sensitivitas. Hasil IDD menunjukkan tiga kabupaten yang bisa untuk pengembangan usaha penggemukan sapi potong adalah
Indramayu, Cirebon dan Ciamis. Sedangkan Kabupaten Majalengka tidak untuk
pengembangan usaha ternak sapi. Hasil IDD perkecamatan terdapat 44 kecamatan di
lokasi penelitian yang memiliki kategori “Aman”. Berdasarkan analisis ekonomi
regional hanya terdapat 18 kecamatan yang memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif dengan basis komoditas penggemukan sapi potong. Analisis investasi
peternakan rakyat Pola I layak diusahakan dengan biaya eksplisit dan implisit.
Pola II secara komersil (biaya eksplisit) tidak layak diusahakan. Potensi daya
saing dengan adanya perubahan harga input, output dan teknologi maka nilai DRC
dan PRC pola I memiliki daya saing dan pola II tidak berdaya saing. Diperlukan
kebijakan pemerintah untuk mendorong pengembangan ketersediaan faktor input
usaha penggemukan sapi potong khususnya pada pola I dengan memperbaiki
ketersediaan dari sisi harga pakan, bakalan, modal, serta pemanfaatan teknologi
yang murah.
Indonesian people's beef
consumption is still about 40% imported. In comparison, domestic production is
more than 90% small-scale livestock farming, so feed only depends on crop
leftovers. Increasing domestic production must be competitive to be able to substitute
imports. This study aims to: 1. inventory and map the potential availability of
feed from agricultural waste with the help of geographic information systems
(GIS). 2. Regional economic analysis of the beef cattle business, which has
competitive and comparative advantages. 3. financial feasibility analysis with
investment criteria for fattening beef cattle. 4. Analysis of the
competitiveness of the people's beef cattle fattening business in the current
conditions and the influence of government policies related to input prices,
output, and the application of feed technology to increase productivity on the
competitiveness of beef products. The purposive sampling method, the research
was conducted in four districts, namely Ciamis, Indramayu, Cirebon, and
Majalengka. They are taking the number of respondents in selected locations
using Snowball Sampling of 154 smallholder beef cattle fattening farmers
consisting of 40 patterns I (6 months maintenance) and 12 months pattern II (12
months maintenance) of 114 respondents according to the conditions at the study
site. Methods of data collection using the survey method. Phase I data
collection, namely secondary data originating from the Regency BPS research
location, then mapping with the help of GIS applications. Phase II uses panel
data for 2016-2020 at the research location. Stage III. using primary data.
Phase IV uses panel data. Data analysis to answer objective 1 uses forage
availability index analysis with the help of GIS. Stage 2 uses LQ analysis and Shift
Share. Stage 3 uses an investment feasibility analysis with implicit and
explicit costs. Stage 4 uses competitiveness analysis with Policy Analysis
Matrix (PAM) analysis, Private Cost Ratio (PCR), and Domestic Resource Cost
(DRC), as well as sensitivity analysis. IDD results show that only three
districts are suitable for developing beef cattle fattening businesses:
Indramayu, Cirebon, and Ciamis. Meanwhile, Majalengka Regency is not for the
development of a cattle business. The results of sub-district IDD show that 44
sub-districts in the research location have the "Safe" category.
Based on regional economic analysis, there are only 18 sub-districts that have
comparative and competitive advantages based on beef cattle fattening
commodities. Analysis of smallholder livestock investment in Pattern I is
feasible with explicit and implicit costs. Pattern II commercially (explicit
costs) is not feasible. Competitiveness potential with changes in input,
output, and technology prices, the DRC and PRC values of pattern I have
competitiveness, and pattern II is not competitive. Government policy is needed
to encourage the development of input factors for fattening beef cattle,
especially in pattern I, by improving the availability of feed prices, feed,
feed, capital, and cheap technology.
Kata Kunci : domestik resourse cost (DRC), policy analysis matrix (PAM), private cost ratio (PCR), sapi potong, beef cattle, domestik resourse cost (DRC), policy analysis matrix (PAM), private cost ratio (PCR)