Karakterisasi dan Autentikasi Minyak Ikan Keting (Mystus gulio) dengan Menggunakan Spektroskopi Inframerah dan Kemometrika
Nadia Miftahul Jannah, Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, M.Si ; Dr. Lily Arsanti Lestari, S.TP., M.P
2023 | Tesis | S2 Ilmu Farmasi
WHO (World Health
Organization) pada tahun 2020 menyatakan bahwa sebanyak 149,2 juta balita
di dunia mengalami stunting dengan persentase sebesar 22%. Tingginya angka stunting menjadikan
kasus tersebut perlu diperhatikan. Salah satu upaya pencegahan stunting adalah
dengan pemanfaatan sumber daya perairan lokal yakni pemanfaatan ikan keting (Mystus gulio). Hingga saat ini belum ada
penelitian terkait kandungan minyak ikan keting, sehingga hal ini dapat menjadi
aspek keterbaruan dalam penelitian yang dilakukan.
Penelitian ini dilakukan untuk karakterisasi dan autentikasi
minyak ikan keting (MIK). Karakterisasi MIK
dilakukan dengan penentuan bilangan konstanta fisika-kimia seperti bilangan
iodium, bilangan peroksida, bilangan asam, dan bilangan penyabunan serta
analisis profil asam lemak. Autentikasi MIK dilakukan
dengan menggunakan spektroskopi inframerah dikombinasikan dengan kemometrika. MIK diekstraksi menggunakan metode dry
rendering dengan bantuan alat pres hidrolik,
selanjutnya diberi perlakuan adsorben berupa bentonit dan arang aktif
masing-masing 2%.
Pada penelitian ini karakteristik MIK tanpa perlakuan (P1),
perlakuan bentonit (P2), dan perlakuan arang aktif (P3) menunjukkan hasil
diantaranya nilai bilangan asam berturut-turut 4,49, 4,24 dan 4,02 mg KOH/g, nilai
bilangan peroksida 4,98, 4,36 dan 4,22 meq O2/kg, nilai bilangan iodium
80,17, 81,13 dan 79,42 g I2/100g, serta nilai bilangan penyabunan
191,21, 194,43 dan 194,46 mg KOH/g. Adanya perlakuan adsorben dapat menurunkan
nilai bilangan asam dan bilangan peroksida, sedangkan pada bilangan iodium
penurunan hanya terjadi pada perlakuan arang aktif, serta pada bilangan
penyabunan adanya perlakuan adsorben justru meningkatkan hasil yang diperoleh.
MIK mengandung tiga kandungan asam lemak tertinggi yaitu asam linoleat (27,44%),
asam heptadekanoat (24,74%), dan asam cis-10-heptadekanoat (8,10%). Asam lemak
omega-3 DHA berupa asam cis-4,7,10,13,16,19-dokosaheksanoat sebesar 3,26%.
Autentikasi MIK dalam campuran biner dengan minyak ikan patin (MIP) dan minyak
kelapa sawit (MKS) dianalisis menggunakan spektroskopi inframerah terbagi dalam
dua metode analisis yaitu spektroskopi FTIR (1500-1000 cm-1) dan
spektroskopi Vis-NIR (680-2600 nm). Pada penelitian ini masing-masing metode
dikombinasi dengan kemometrika menunjukan bahwa PLS derivat pertama merupakan
teknik yang akurat untuk menentukan adanya campuran biner dengan diperoleh
nilai R2 > 0,99 dan nilai kesalahan yang rendah. Autentikasi
menggunakan spektroskopi inframerah dikombinasikan kemometrika merupakan metode
yang mudah dalam pengerjaannya, tidak bersifat destruktif terhadap sampel, dan
cepat.
In 2020, the WHO (World Health Organization)
stated that 149.2 million children under five years old in the world were
stunted, with a percentage of 22%. The high stunting rate makes this case a
concern. One of the efforts to prevent stunting is utilizing local water resources,
namely Keting fish (Mystus gulio). Until now, no study has been related
to the content of Keting fish oil, so this can be an aspect of updating the
study conducted.
This study was conducted to characterize and authenticate
Keting fish oil (MIK). MIK characterization was carried out by determining the
number of physicochemical constants such as acid value, iodine value, peroxide
value, and saponification value and analyzing the fatty acid profile. MIK
authentication was performed using infrared spectroscopy combined with
chemometrics. MIK was extracted using the dry rendering method with the help of
a hydraulic press, then treated with adsorbents in the form of bentonite and
activated charcoal at 2?ch.
In this study, the results showed the acid
values were 4.49, 4.24, and 4.02 mg KOH/g, the peroxide values were 4.98, 4.36,
and 4.22 meq O2/kg, the iodine values were 80.17, 81.13, and 79.42 g I2/100g,
and the saponification values were 191.21, 194.43, and 194.46 mg KOH/g,
respectively. The adsorbent treatment can significantly reduce the acid value
and peroxide value. However, in the iodine value, the decrease only occurred in
the treatment with activated charcoal, whereas in the saponification value, the
treatments of adsorbent increased the results. MIK contains the three highest
fatty acid contents, namely linoleic acid (27,44%), heptadecanoic acid
(24.74%), and cis-10-heptadecanoic acid (8.10%). There is an Omega-3 DHA
fatty acid in the form of cis-4,7,10,13,16,19-docosahexaenoic acid at 3.26%.
MIK authentication in binary mixtures with Patin fish oil (MIP) and Palm oil
(MKS) was analyzed using infrared spectroscopy, divided into two analytical
methods, namely FTIR spectroscopy (1500–1000 cm-1) and Vis-NIR
spectroscopy (680–2600 nm). In this study, each method combined with
chemometrics showed that the first derivative PLS was an accurate technique for
determining the presence of a binary mixture with an R2 value >
0,99 and a low error value. Authentication using infrared spectroscopy combined
with chemometrics is a method that is easy to work with, is not destructive to
samples, and is fast.
Kata Kunci : Ikan Keting, Mystus gulio, Autentikasi, Spektroskopi Inframerah, Kemometrika