Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Retensi Plasenta pada Sapi Potong di Kabupaten Sleman Yogyakarta
Mutiara Alifa Sadewo, Dr. drh. Surya Agus Prihatno, M.P.
2023 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Retensi plasenta adalah kejadian plasenta gagal untuk dikeluarkan pada tahap ketiga dari proses kelahiran. Retensi plasenta merupakan salah satu penyakit reproduksi yang memiliki dampak ekonomi signifikan karena menimbulkan beberapa kerugian diantaranya menurunkan produksi susu, meningkatkan masa kering dan culling rates serta memerlukan biaya dalam penanganan dan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prevalensi dan faktor risiko kejadian retensi plasenta pada sapi potong di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Penelitian yang dilakukan menggunakan kajian lintas seksional terhadap 349 ekor sapi potong di Kabupaten Sleman. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling tahapan ganda. Random sederhana dilakukan pada tingkat kelompok ternak. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara terhadap 235 peternak untuk mengetahui informasi mengenai peternak, ternak, manajemen pemeliharaan ternak, dan performa reproduksi. Hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi Square pada program SPSS 25.0 untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan kejadian retensi plasenta.
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi retensi plasenta di Kabupaten Sleman sebesar 9,74%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, faktor risiko yang berasosiasi dengan kejadian retensi plasenta adalah jumlah beranak (sapi yang pernah beranak dua kali dengan P = 0,024 dan OR = 3,239), (sapi yang pernah beranak tiga kali dengan P = 0,014 dan OR = 0,385), sapi dengan riwayat abortus (P = 0,024 dan OR = 3,685) dan sapi dengan riwayat distokia (P = 0,000 dan OR = 5,799). Disimpulkan bahwa faktor risiko yang berasosiasi dengan kejadian retensi plasenta pada sapi potong di Kabupaten Sleman meliputi jumlah beranak, sapi dengan riwayat abortus, dan sapi dengan riwayat distokia.
Retained placenta is a case where the placenta fails to expel in the third stage of the birth process. Retained placenta is a reproductive disease that had a significant economic impact because of several lost include reduced milk production, increasing dry period and culling rates, and the requiring cost for treatment. This study aims to determine the prevalence and risk factors for retained placenta in beef cattle in Sleman Regency, Yogyakarta.
The research used a cross-sectional study of 349 beef cattle in Sleman Regency. The sample was collected using a double-stage sampling technique. Simple randomization was carried out at the herd level. The research method was conducted by interviewing 235 farmers to get information about farmers, cattle, livestock management, and reproductive performance. The result of the study was analyzed using the Chi-Square test in the SPSS 25.0 program to determine the relationship between risk factors and the incidence of retained placenta.
The results showed that the prevalence of retained placenta in Sleman Regency was 9,74%. Based on bivariate analysis, the risk factors associated with retained placenta were the parity (second parity with P = 0,024 and OR = 3,239), (third parity with P = 0,014 and OR = 0,385), cattle with abortion history (P = 0,024 and OR = 3,685), and cattle with history of dystocia (P = 0,000 and OR = 5,799). In conclusion, the risk factors associated with the incidence of retained placenta in beef cattle in Sleman Regency include parity, cattle with abortion and dystocia history.
Kata Kunci : Sapi potong, Retensi plasenta, Prevalensi, Faktor risiko