Laporkan Masalah

TRANSFER INOVASI PEMBUKAAN LAHAN GAMBUT TANPA BAKAR DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Eka Wulandari, Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.;Dr.rer.nat. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si.;Dr. Dewi Haryani Susilastuti, M.Sc.

2023 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN

Pemerintah berinovasi dalam mengatasi masalah dan tantangan publik yang sulit diatasi. Salah satunya adalah permasalahan lingkungan yaitu kebakaran hutan dan lahan terutama di lahan gambut yang berulang karena dimanfaatkan oleh manusia sehingga rentan kering dan mudah terbakar. Untuk menanggulangi masalah tersebut, Pemerintah berinovasi melalui perubahan cara pengelolaan lahan yaitu dengan menerapkan inovasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Namun penerapan PLTB tidak merata yang disebabkan oleh biaya, kebiasaan, budaya dan sifat inovasi yang tidak pasti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses transfer inovasi PLTB kepada petani dan aktor yang berperan dalam proses tersebut, menganalisis persepsi petani terhadap proses transfer inovasi PLTB dan hambatan yang dihadapi serta menyusun strategi transfer inovasi PLTB yang efektif agar sukses diadopsi petani.

Penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan di dua desa yaitu desa Rasau Jaya Umum Kecamatan Rasau Jaya dan desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat. Kedua desa ini memiliki latar belakang sosiologi yang berbeda dimana penduduk pada desa Rasau Jaya Umum merupakan keturunan eks transmigran yang didominan suku Jawa, sedangkan desa Teluk Bakung mayoritas suku Dayak. Untuk menganalisis tujuan penelitian menggabungkan teori difusi inovasi, Research, Integration, Utilization (RIU), Penciptaan Bersama sains dan kebijakan. Agar diperoleh data valid dilakukan wawancara mendalam, FGD dan observasi kepada informan utama dan pendukung.

Transfer PLTB kepada petani belum sukses karena prinsip dan indikator integrasi belum semua tercapai, pengetahuan lokal masyarakat dalam membuka lahan dengan metode pembakaran terkendali belum diakui, PLTB tidak familiar bahkan istilah “tanpa bakar” menimbulkan resistensi masyarakat. Manggala Agni dan TNI/Polri menjadi aktor yang paling banyak terlibat dalam proses transfer ini, namun perannya hanya sebatas fasilitator, belum melakukan brokering terhadap inovasi PLTB yang akan ditransfer. Petani kurang antusias mengikuti proses transfer dan menganggap bawah inovasi PLTB belum dapat disebut sebagai usable knowledge karena belum memberi keuntungan dan tidak nyaman dilaksanakan, belum sesuai dengan nilai, keyakinan dan kebutuhan petani, serta sulit untuk diakses. Hambatan utama dalam transfer inovasi PLTB yaitu pemahaman dan penggunaan konsep PLTB bertentangan dengan kearifan lokal, ketidaktepatan solusi yang ditawarkan dan sasaran transfer serta kegiatan yang belum terintegrasi proses transfer antar aktor. Strategi transfer inovasi PLTB dapat berjalan efektif antara lain sinergi antar aktor untuk menyiapkan lingkungan transfer yang kondusif. Edukasi dan promosi inovasi PLTB untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum dan petani, serta koneksi rantai nilai inovasi PLTB untuk memastikan kemudahan, kenyamanan dan kesejahteraan petani.



Government innovates in overcoming demanding public problems and challenges, including environmental issues, namely repeated forest and land fires, especially on the peatland used by humans made them prone to dryness and combustibility. The fire issue was resolved through changes in the way of land management by implementing the innovation of Land Preparation Without Burning (PLTB). Nonetheless, the application of PLTB is not distributed evenly due to costs, habits, culture, and the uncertain nature of innovation. This research aims to analyze how the PLTB innovation transfer process to farmers and who are leading actors in the transfer process.  Farmers' perceptions throughout the transfer process and the obstacles during the transfer process.  Formulate an effective PLTB innovation transfer strategy for successfully adopted by farmers.

This research is a qualitative method with a case study approach carried out in two villages, Rasau Jaya Umum village, Rasau Jaya sub-district, and Teluk Bakung village, Sungai Ambawang sub-district, Kubu Raya district, West Kalimantan province. These two villages have different sociological backgrounds which the residents of Rasau Jaya Umum village are descendants of ex-transmigrants who are predominantly Javanese, while Teluk Bakung village is predominantly Dayak. Several theories combined to analyze the research goal. It was the diffusion of innovation, Research, Integration, Utilization (RIU), Co-production of science, and policy. In-depth interviews, FGDs, and observations were held with the main and supporting informants to ensure valid data.

The results show that the transfer of PLTB to farmers has not been successful because principles and indicators of innovation integration did not fulfil, the local knowledge of clearing land, the controlled burning method did not recognize, PLTB is not familiar, and even the term "without burning" creates community resistance. Manggala Agni and the TNI/Polri are the actors most involved in this transfer process, but their role is limited to facilitators, not brokering the PLTB innovations offered. Farmers are less enthusiastic about participating in the transfer process and consider that PLTB innovation cannot call usable knowledge because it does not provide benefits also not convenient to implement, does not match the values, beliefs, and needs of farmers, and is difficult to access. The main obstacles in the PLTB innovation transfer process are the understanding and using the PLTB concept contrary to local wisdom, the inaccuracy of the solutions offered, and transfer targets. Activities of the transfer process did not integrate between actors. The PLTB innovation transfer strategy can run effectively, including synergies between actors to prepare a conducive transfer environment. Education and promotion of PLTB innovations to increase awareness of the general public and farmers, as well as PLTB innovation value chain connections to ensure convenience, comfort, and welfare of farmers.


Kata Kunci : adopsi inovasi,integrasi pengetahuan,kebakaran hutan dan lahan,pengetahuan lokal,tanpa bakar

  1. S3-2023-450501-abstract.pdf  
  2. S3-2023-450501-bibliography.pdf  
  3. S3-2023-450501-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2023-450501-title.pdf