ANALISIS PENGARUH DIRECT EXPERIENCES DAN GAINLOSS FRAMING TERHADAP INSIGHT DAN RISK BEHAVIOUR PADA SIMULASI AGENT BASED MODEL (ABM) KASUS GEMPA BUMI
Awinda Zharfani Puspasari, Ir. Hilya Mudrika Arini, S.T., M.Sc., M.Phil., Ph.D., IPM, ASEAN Eng.
2023 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI
Agent-Based
Model merupakan
salah satu pendekatan simulasi yang memungkinkan para pengambil
keputusan untuk menyelidiki suatu fenomena pada sistem yang kompleks dari waktu
ke waktu. Namun dalam prosesnya, pengambil keputusan dapat mengalami sejumlah
bias penilaian dalam situasi yang kompleks. Kini telah berkembang studi behavioral
operations research (BOR) yang mempelajari faktor manusia pada model dan model-supported
processes. Dalam studi BOR, dikenal konsep insight yang dapat
membantu pemecahan masalah menjadi efektif. Oleh karena itu, pada
penelitian ini akan menganalisis masing-masing pengaruh direct experiences dan
pemberian framing terhadap terjadinya insight pada pengambil
keputusan. Selain itu, terdapat konsep lain yang diangkat pada BOR yaitu
terkait personality dan perilaku manusia dalam OR (Operation Research).
Maka dari itu, penelitian ini juga akan menganalisis pengaruh pemberian framing
terhadap Risk Behaviour dari pengambil keputusan dalam konteks
simulasi.
Penelitian
ini melibatkan 60 partisipan yang dikelompokkan berdasar jenis pengalaman yang
dimiliki dan jenis framing yang diberikan. Berdasar jenis pengalaman,
partisipan terdiri atas 30 partisipan yang pernah mengalami gempa bumi dan 30
partisipan lainnya tidak pernah mengalami gempa bumi. Sedangkan berdasar jenis framing,
partisipan terdiri atas 20 partisipan yang diberi gain framing, 20
partisipan yang diberi loss framing, dan 20 partisipan tidak diberi framing.
Partisipan diberikan studi kasus terkait penanganan pasca bencana gempa
bumi yang harus diselesaikan dengan menggunakan simulasi ABM (Agent-Based
Model). Partisipan juga diminta untuk mengerjakan pre-test sebelum
menyelesaikan studi kasus dan mengerjakan post-test setelah
menyelesaikan studi kasus. Hasil pengerjaan tersebut digunakan untuk
menganalisis apakah partisipan memecahkan masalah dengan insight atau
tidak.
Dari
analisis yang telah dilakukan, didapat hasil bahwa terdapat hubungan antara
pengalaman gempa yang dimiliki partisipan terhadap terjadinya insight. Diketahui pula bahwa partisipan yang pernah mengalami gempa
bumi lebih cepat mengalami insight daripada partisipan yang tidak pernah
mengalami gempa bumi. Hal ini dapat terjadi karena partisipan
dengan pengalaman gempa bumi menggunakan pengalaman gempanya yang relevan untuk
diadaptasikan ke dalam pemecahan permasalahan penanganan pasca bencana gempa
bumi pada konteks simulasi. Kemudian, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara pemberian gain framing dengan terjadinya insight.
Sejalan dengan hasil tersebut, diketahui pula bahwa pemberian gain
framing tidak memberikan pengaruh pada waktu
terjadinya insight. Dari hasil analisis juga diketahui,
bahwa pemberian gain framing cenderung membuat partisipan menjadi risk
averse dan pemberian loss framing cenderung membuat partisipan
menjadi risk seeking.
Agent-Based
Model is a simulation approach that allows decision makers to investigate a
phenomenon in a complex system over time. But in the process, decision makers
can experience a number of judgment biases in complex situations. Now a study
called behavioral operations research (BOR) has emerged, which examines human
factors in models and model-supported processes. In BOR studies, a concept
called insight is known for help solve problems effectively. Therefore, this
study will analyze each of the effects of direct experiences and gain-loss
framing toward the occurrence of insights in decision makers. In addition,
there are other concepts raised in BOR that related to personality and human
behavior in OR (Operation
Research). Therefore, this study will also analyze the effect of framing
on the Risk Behaviour of decision makers in the context of simulation.
This
study involved 60 participants,
furthermore the participants will be grouped based on the type of experience
they have and the type of framing that are given. Based on the type of
experience, participants consisted of 30 participants who had experienced
earthquakes and 30 other participants who had never experienced earthquakes.
Meanwhile, based on the type of framing that are given, participants consisted
of 20 participants who were given gain framing, 20 participants who were given
loss framing, and 20 participants who were not given any framing. Participants
were given case studies related to post-earthquake disaster management that
must be completed using ABM (Agent-Based Model) simulations.
Participants were also asked to do a pre-test before completing a case study
and a post-test after completing a case study. The results of the pre-test,
case study, and post-test are used to analyze whether participants solve
problems with insight or not.
From
the analysis that has been done, it was found that there is a relationship
between the earthquake experience that participants have toward the occurrence
of insight. It is also known that participants who have experienced earthquakes
would experience insight faster than participants who have never experienced
earthquakes. It happened because participants with earthquake experience use
their relevant earthquake experience to be adapted to solving post-earthquake
disaster management problems in a simulation context. It is also known that
there was no significant relationship between gain framing and the occurrence
of insight. In line with these results, it is also known that gain framing has
no effect on time to insight. From the results of the analysis, it is also
known that gain framing tends to make participants become risk averse and loss
framing tends to make participants become risk seeking.
Kata Kunci : Behavioural Operational Research (BOR), Direct Experiences, Gain-Loss Framing, Terjadinya Insight, Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi.