Dampak Penyakit Mulut Dan Kuku Terhadap Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong Oleh Peternak Di Tiga Kecamatan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Diyan Eka Hantari, Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2023 | Skripsi | S1 ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap manajemen pemeliharaan sapi potong oleh peternak di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Prambanan, Berbah, dan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan 60 peternak sapi potong dengan total populasi 153 ekor sapi yang terkena PMK. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara dan pengamatan langsung. Data yang diambil meliputi karakteristik peternak, komposisi ternak, pemahaman peternak mengenai PMK, manajemen pemeliharaan, serta dampak sosial PMK. data tersebut dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengetahui dampak PMK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91,7% peternak berjenis kelamin laki-laki, peternak tergolong pada usai produktif, tingkat pendidikan peternak baik yaitu lulusan SMA/SMK sebanyak 51,7%, pekerjaan utama sebagai petani dengan pengalaman beternak lebih dari 10 tahun, mayoritas segmentasi usaha pembiakan sapi potong dengan kepemilikan sapi kurang dari 5 ekor, serta 70% responden pernah mengikuti kegiatan penyuluhan. Sapi potong dipelihara dengan cara ditambat dan dikandangkan. Kandang peternak yang tergabung dalam kandang kelompok ternak sebanyak 98,3%. Dari total populasi sampel penelitian yang digunakan persentase sapi mati akibat PMK sebanyak 4,57%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMK memberikan dampak terhadap manajemen pemeliharaan sapi potong. Dampak signifikan yang dirasakan peternak terkait manajemen pemeliharaan meliputi perawatan dan pengendalian penyakit, frekuensi peternak ke kandang, serta biosecurity. Penyakit mulut dan kuku juga memberikan dampak terhadap psikologis peternak serta aktivitas sosial masyarakat. Disimpulkan bahwa PMK memberikan dampak pada manajemen pemeliharaan sapi potong.
This study aimed to determine the impact of foot-and-mouth disease (FMD) on smallholder farmers beef cattle management in three sub-districts: Prambanan, Berbah, and Ngaglik, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. This study involved 60 beef cattle smallholder farmers which own 153 cattle affected by foot-and-mouth disease. Farmers were interviewd about their background, livestock composistion, farmers understanding of FMD, management, and the social impact of FMD. The data were analyzed by quantitatove descriptive to determine the impact of FMD. The results showed that 91.7% of farmers were male, they were in productive ages, the level of farmer's educational was good, as 51.7% of them completed high school/vocational college, the main job was a farmer with mor than ten years of cattle farming experience, the segmentation majority were breeding with less than five cows, and 70% of respindents had participated in extension activities. Beef cattle are raised by tethering and stalling. Farmers keep their cattle incorporated in the livestock group as much as 98.3%. The mortality percentage caused by foot-and-mouth disease impacted beef cattle management. Significant impacts felt by farmers related to maintenance management include disease care and control, frequency of farmer in cattle housing, and biosecurity. Foot-and-mouth disease also impacted the psychology of farmers and the community's social activities. It was concluded that the foot-and-mouth disease impacted beef cattle rearing management.
Kata Kunci : Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Manajemen pemeliharaan, Sapi potong, Dampak penyakit