Hubungan Antara Faktor Pasien dengan Risiko Terjadinya Atresia Bilier di RSUP Dr Sardjito
ADAM ABRAHAM GABRIELO JOESOEF, dr. Gunadi, Ph.D, Sp.BA, Subsp.D.A.(K); dr. Kristy Iskandar, M.Sc., Ph.D, Sp.A, Subsp.Neuro(K)
2023 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Atresia bilier (AB) merupakan penyakit hepatobilier neonatal yang serius. Secara epidemiologi, terdapat variasi regional insiden AB dengan 1 dari 5-10.000 kelahiran hidup di Taiwan dan Jepang, dan sekitar 1 dari 7000 kelahiran hidup di Yogyakarta. Insidensi tersebut menggambarkan langkanya penyakit ini. Atresia bilier umumnya baru terdiagnosis pada usia 6 sampai 12 minggu kehidupan. Sedangkan, hasil terbaik dari bedah Kasai portoenterostomi bergantung pada usia yaitu sebelum 30 hingga 45 hari sehingga terdapat perbedaan waktu ideal dengan keadaan di lapangan yang seringkali tertunda pada negara berkembang. Data karakteristik subjek penelitian di China menemukan faktor pasien antara lain jenis kelamin, etnis, berat badan lahir, kelahiran preterm, dan pola makan, kecuali jenis persalinan terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik. Kelangkaan dan masih sedikitnya penelitian mengenai faktor risiko, khususnya faktor pasien, terkait AB di Indonesia menjadi alasan perlunya studi ini. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan bukti untuk menentukan faktor risiko pasien terkait AB. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor pasien berupa jenis kelamin, berat badan lahir, kelahiran preterm, jenis persalinan, dan pola makan dengan risiko terjadinya atresia bilier. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan studi cross-sectional pada pasien AB di RSUP Dr Sardjito untuk mengetahui hubungan faktor pasien berupa jenis kelamin, berat badan lahir, kelahiran preterm, jenis persalinan, dan pola makan dengan risiko terjadinya atresia bilier. Subjek penelitian ini adalah pasien bayi dengan atresia bilier dan bayi normal di RSUP Dr. Sardjito pada tahun Januari 2018-Desember 2022 serta telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling, yaitu semua subjek secara berurutan yang sesuai dan memenuhi kriteria dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi. Data numerik dan kategorikal dianalisis secara univariat lalu dianalisis secara bivariat dengan Chi-square test dan independent T-test. Kemudian, variabel dengan P-value <0,25 dianalisis secara multivariat menggunakan uji logistic regression dengan metode stepwise. Hasil: Hanya dua karakteristik dasar yang didapatkan secara signifikan, yaitu kelahiran preterm dan pola makan (formula atau campuran). Kelahiran preterm memiliki adjusted odds ratio (AOR) 13,2 (95% CI, 1,3-129,7) dengan P-value 0,023. Sementara karakteristik dasar pola makan memiliki adjusted odds ratio (AOR) 24 (95% CI, 2,8-209,8) dengan P-value 0,004. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara faktor pasien yaitu kelahiran preterm dan pola makan (formula atau campuran) dengan risiko terjadinya atresia bilier.
Background: Biliary atresia (BA) is a serious neonatal hepatobiliary disease. Epidemiologically, there are regional variations in the incidence of biliary atresia with 1 in 5-10,000 live births in Taiwan and Japan, and around 1 in 7,000 live births in Yogyakarta. The incidence illustrates the rarity of this disease. Biliary atresia is generally diagnosed at 6 to 12 weeks of life. Meanwhile, the best results from Kasai portoenterostomy surgery depend on age, ideally before 30 to 45 days, so there is a difference between the ideal time and conditions in the field, which are often delayed in developing countries. Data on the characteristics of study subjects in China found patient factors including gender, ethnicity, birth weight, premature birth, and feeding patterns, except for the delivery modes, shows statistically significant differences. The rarity and small number of research on risk factors, especially patient factors, related to BA in Indonesia is the reason for the need for this study. Therefore, this study was aimed at obtaining evidence of patient risk factors associated with BA. Objective: This study aims to determine the relationship of patient factors such as gender, birth weight, premature birth, delivery modes, and feeding pattern with the risk of biliary atresia. Methods: This study was an analytic observational study with a cross-sectional study design on BA patients at RSUP Dr Sardjito to determine the relationship between patient factors such as gender, birth weight, preterm birth, delivery modes, and feeding pattern with the risk of biliary atresia. The subjects of this study were infant patients with biliary atresia and healthy infants at Dr. Sardjito in January 2018-December 2022 and has fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Sampling was carried out using consecutive sampling techniques, that is all subjects sequentially who were appropriate and met the criteria included in the study until the required number of subjects was fulfilled. Numerical and categorical data were analyzed univariately and then analyzed bivariately with Chi-square test and independent T-test. Then the variables with a P-value <0.25 were analyzed multivariately using the logistic regression test with stepwise method. Results: Only two variables were found to be significant, namely preterm birth and feeding pattern (formula or mixed feeding). Preterm birth has an adjusted odds ratio (AOR) of 13.2 (95% CI, 1.3-129.7) with a P-value of 0.023. Meanwhile, the basic characteristics of the diet have an adjusted odds ratio (AOR) of 24 (95% CI, 2.8-209.8) with a P-value of 0.004. Conclusion: There is a relationship between patient factors, namely premature birth and diet (formula or mixture) with the risk of biliary atresia.
Kata Kunci : atresia bilier, kelahiran preterm, pola makan, formula, faktor pasien.