GERAKAN SOSIAL RESAN GUNUNGKIDUL DALAM MENJAGA SUMBER MATA AIR SEBAGAI UPAYA KONSERVASI ALAM DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
WISNU KRISNA YUDHA P, Prof. Dr. Susetiawan, S.U.
2023 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANPemanasan global menjadi salah satu persoalan yang menimbulkan banyak resiko bencana lingkungan. Kabupaten Gunungkidul sebagai kawasan karst termasuk yang rentan terhadap perubahan iklim ekstrim terutama kerentanan kekeringan. Langkah konservasi alam pun diperlukan untuk meminimalisir kerentanan kerentanan yang terjadi. Penelitian ini membahas tentang bagaimana proses Gerakan Sosial Resan Gunungkidul dalam menjaga sumber mata air sebagai upaya konservasi alam di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengetahui pengetahuan tentang value ataupun ide tentang sumber mata air untuk upaya konservasi yang hanya tertanam pada segelintir orang dan direalisasikan dalam gerakan Resan Gunungkidul. Gerakan Resan Gunungkidul mendasarkan gerakan mereka dengan pengetahuan dan teknologi lokal yang ada di dalam masyarakat dalam upaya konservasi alam di Kabupaten Gunungkidul. Pengetahuan ini sebenarnya sudah disediakan nenek moyang sejak zaman dahulu, dan teraktualisasi dari penamaan dusun maupun kecerdasan lokal lain. Namun, pengetahuan lokal tersebut mulai memudar dikarenakan pembangunan yang masif dan keyakinan masyarakat tertentu. Pembangunan dengan modal yang besar menggeser pohon pohon yang ada menjadi bangunan besar untuk akomodasi pariwisata. Tradisi melalui prosesi kearifan lokal menjadi sebuah ancaman bagi keyakinan mereka. Pengetahuan lokal dan tradisi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas alam yang subur. Gerakan Sosial Resan Gunungkidul menjadi sebuah gerakan konservasi yang berdinamika di tengah ancaman yang ada kini. Penelitian ini menggunakan konsep gerakan sosial (Sukmana, 2016) tentang pengorganisasian, pelibatan, dan daya tahan untuk menganalisis proses gerakan ini. Dalam pengorganisasiannya, Resan Gunungkidul mengolaborasikan dialog serta kerjasama generasi tua dengan generasi muda dalam setiap kegiatannya. Gerakan ini melakukan kegiatan pengidentifikasian pohon konservasi, melakukan penanaman pohon dan pembukaan sumber mata air. Selanjutnya, untuk mengedukasi masyarakat mereka mengaktualisasikan pengetahuan lokal yang ada melalui Wayang Resan, Rebo Wagen, dan prosesi nglangse. Dalam gerakan ini, anggota yang terlibat hadir atas kesadaran dan panggilan hatinya sendiri. Anggota yang timbul secara organik ini juga mengajak pemerintah dan masyarakat sekitar untuk ikut berkolaborasi dalam upaya konservasi alam. Gerakan ini pun terus fokus menjaga independen untuk menjadikan sebuah gerakan yang memiliki sustainability yang berlangsung lama.
Global warming is one of the problems that raises many risks of environmental disasters. Gunungkidul Regency, as a karst area is vulnerable to extreme climate change, especially to drought. Nature conservation measures are also needed to minimize the vulnerabilities that occur. This study discusses the process of the Resan Gunungkidul Social Movement in protecting springs as a nature conservation effort in Gunungkidul Regency. This study uses a qualitative method with an case studies approach to finding out knowledge about values or ideas about springs for conservation efforts that are only embedded in a few people and realized in the Resan Gunungkidul movement. The Gunungkidul Resan Movement bases its movement on local knowledge and technology that exists in the community in nature conservation efforts in Gunungkidul Regency. This knowledge has been provided by our ancestors since ancient times and is actualized by the naming of hamlets and other local intelligence. However, this local knowledge begins to fade due to massive development and certain community beliefs. Development with large capital shifts existing trees into large buildings for tourism accommodation. Tradition through the procession of local wisdom becomes a threat to their beliefs. Local knowledge and traditions are an expression of gratitude to God Almighty for nature. The Resan Gunungkidul Social Movement has become a dynamic conservation movement in the midst of the current threats. This study uses the concept of social movement Sukmana (2016) regarding organizing, involvement, and resilience to analyze the process of this movement. In organizing, Resan Gunungkidul collaborates on dialogue and collaboration between the older generation and the younger generation in every activity. This movement carries out activities to identify conservation trees, plant trees, and open water sources. Furthermore, to educate the community they actualize existing local knowledge through Wayang Resan, Rebo Wagen, and nglangse processions. In this movement, the members involved are present with their conscience and calling. Members who arise organically also invite the government and local communities to collaborate in nature conservation efforts. This movement also continues to focus on maintaining independence to make it a movement that has long-lasting sustainability.
Kata Kunci : Gerakan Sosial, Gerakan Sosial Baru, Konservasi Alam