STUDI TENTANG INTENSITAS KEBAKARAN HUTAN YANG DISEBABKAN OLEH KONDISI DAN TINDAKAN DALAM PERLADANGAN DI MUARA WAHAU
Sumaryanto, Prof.Dr.Ir. Achmad Sulthoni
1993 | Tesis | S2 Ilmu KehuatananPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan intensitas kebakaran hutan dengan tipe vegetasi asal tapak ladang dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para peladang. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui adanyasangkut paut antara intensitas kebakaran hutan dan kondisiyang dimaksudkan adalah menyusunnya dalam satu tabel duaarah yang disebut tabel kontingensi dan menguji keterkaitan tau independensi antara dua kondisi yang dimaksudkanmelalui uji khi kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas kebakaranhutan tidak ada keterkaitan dengan tipe vegetasi asal ladang, tenaga kerja yang mengerjakan kegiatan perladangan,luas ladang yang dikerjakan dan topografi tapak ladang; akan tetapmempunya1sangkut paut dengan · lamanya peladang menunggui api dalarn pembakaran ladang, waktu dimula pembakaran ladang dan pembuatan jalur sekat bakar. Waktu dimulai pembakaran ladang berkaitan dengan intensitas kebakaran hutan; semakin sore dimulai pembakaran ladang maka intensitas kebakaran semakin besar. Para peladang tidak membuat jalur sekat bakar karena beranggapan bahwa vegetasi yang masih hidup/hijau tidak merambatkan api; jika terjadi kebakaran dalam pembakaran ladang dianggap hal yang biasa dan tidak merupakan masalah.
This study was conducted in Muara Wahau East Kalimantan; the objective is to find out the relationship ofthe observed forest fire intensity, the vegetation typeconverted into dryland agriculture and the practice of theshifting cultivators in using fire their land preparation or clearing. The analysis of the data obtained in the study to examine the relationship of the forest fire intensity and the suspected factos was chi-square test by preparing two way classification contingency table and hence evaluate its independency between the two above mentioned conditions. The results of the study revealed that forest fire intensity was not related to the original vegetation type cleared for the shifting cultivation, the man-hour spent for the land clearing as well as the size and topographym of the area utilized for their farming. However, the intensity of the forest fires was related to how long the farmer keep watching the fire clearing the area, what time during the day they started burning the field, and the existence of fire breaks. When the burning was started late in the afternoon, there was an increase probability of the occurence of the forest fire. The absence of a firebreak was due to the farmers' opinion that the remaining vegetation in the area had no potential to spread the fire, and they considered unusual to have no fire in the field since it develo9ed no serious problem.
Kata Kunci : kebakaran hutan, muara wahau