Laporkan Masalah

PENGEMBANGAN RESEP ELEKTRONIK DI RSAB HARAPAN KITA SEBAGAI KENDALI PERESEPAN DI ERA JKN

ABDILLAH HASBI A, Prof. Dr. Erna Kristin, M.Si., Apt; Dr. dr. Guardian Yoki Sanjaya, MHlthInfo

2023 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Latar belakang: Resep elektronik merupakan suatu aplikasi yang menghubungkan proses peresepan oleh dokter (prescribing) sampai proses penyiapan obat oleh farmasi (dispensing) dan dapat merupakan suatu aplikasi yang berdiri sendiri atau terintegrasi dengan SIMRS. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSABHK) adalah salah satu rumah sakit di DKI Jakarta yang telah telah mengimplementasikan SIMRS. Salah satu keuntungan yang bisa didapatkan dari implementasi resep elektronik pada pelayanan rumah sakit adalah peningkatan keuntungan finansial melalui efisiensi penggunaan obat serta pengendalian obat agar sesuai dengan formularium nasional bagi pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Keuntungan tersebut tidak lantas bisa didapatkan langsung setelah implementasi resep elektronik namun harus melalui optimalisasi aplikasi dan sistem secara berkala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian operasional dengan metode kualitatif-kuantitatif (mixed-method) eksplorasi berurutan (exploratory sequential) yang terbagi dalam 3 tahap yaitu tahap evaluasi, pembuatan modul intervensi dan tahap intervensi. Penelitian ini telah dilaksanakan di RSABHK pada bulan Mei sampai November 2020. Hasil: Berdasarkan analisa pada penelitian kualitatif ditemukan bahwa saat ini fitur yang diinginkan oleh dokter pada resep elektronik terkait retriksi obat sesuai fornas adalah bukan berupa suatu fitur retriksi total obat fornas untuk pasien JKN. Hal tersebut dikarenakan para dokter, terutama dokter sub spesialis merasakan masih memerlukan obat di luar fornas untuk dapat melaksanakan pelayanan secara optimal bagi pasien. Adapun fitur yang diusulkan dan telah ditambahkan adalah fitur penanda obat fornas dan non fornas untuk sebagai pendukung keputusan persepan dan fitur pengingat peresepan sesuai fornas pada saat resep telah selesai dibuat dan siap dikirim ke instalasi farmasi. Setelah dilakukan implementasi 60 hari, ditemukan peningkatan kesesuaian resep dokter dengan fornas sebesar 3%. Kesimpulan: Fitur penanda obat fornas dan pengingat peresepan sesuai fornas dapat meingkatkan kesuaian resep dokter dengan fornas pada pasien JKN. Perlu dipertimbangkan fitur lain seperti retriksi obat fornas secara lebih ketat untuk pasien JKN untuk dapat mencapai tingkat kesesuaian yang lebih tinggi

Background: An electronic prescription is a program that integrates the preparation of medications by the pharmacy and the prescription procedure by doctors. It can be a standalone program or be integrated with HMIS. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSBAHK) is one of the hospitals in Jakarta that has adopted HMIS. The implementation of electronic prescribing in hospital services has the potential to improve service quality by reducing drug prescribing time, lowering prescribing error rates, and increasing financial benefits through effective drug use and drug control so that they adhere to the national formulary for patients enrolled in the National Health Insurance. However, these advantages require ongoing application and system optimization in order to be obtained. Methods: This research is an operational research with a qualitative-quantitative method (mixed-method) exploratory sequential which is divided into 3 stages; the evaluation stage, the development of an intervention module, and the intervention stage. This research was carried out at RSABHK from May to November 2020. Results: Based on the analysis of the qualitative research, it was found that currently, the doctors do not want a total Fornas drug restriction feature for JKN patients. This is because doctors, especially sub-specialist doctors feel that they still need medicine outside the Fornas to be able to carry out optimal services for patients. The features proposed and added are the fornas and non-fornas drug distinguishing features to support prescribing decisions and the prescribing reminder feature according to the fornas when the prescription has been completed and is ready to be sent to the pharmacies. After 60 days of implementation, a 3% increase in the suitability of doctor's prescriptions with fornas was found. Conclusion: Fornas drug distinguishing features and prescription reminders according to the fornas can improve the compatibility of doctors' prescriptions with the fornas for JKN patients. Other features need to be considered such as more stringent restrictions on Fornas drugs for JKN patients in order to achieve a higher level of conformity

Kata Kunci : SIMRS, resep elektronik, formularium nasional; Hospital management information system, electronic prescription, national formulary

  1. S2-2023-466023-abstract.pdf  
  2. S2-2023-466023-bibliography.pdf  
  3. S2-2023-466023-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2023-466023-title.pdf