Laporkan Masalah

EVALUASI KETAHANAN KOMPONEN NON STRUKTURAL PLAFON TERHADAP BEBAN GEMPA (STUDI KASUS RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA)

AYUNDA RAHMA I, Dr-Ing. Ir. Andreas Triwiyono, IPU.; Prof. Ir. Iman Satyarno, M.E., Ph.D.

2023 | Tesis | MAGISTER TEKNIK SIPIL

Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap gempa, yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan serta korban jiwa. Pada suatu gedung, korban jiwa dapat diakibatkan oleh kerusakan komponen yang runtuh saat dan setelah terjadi gempa baik komponen struktur maupun komponen non struktur. Rumah sakit merupakan bangunan penting yang harus tetap berfungsi saat dan setelah terjadi gempa. Rumah sakit dituntut agar tetap melayani korban akibat gempa bumi, sehingga risiko bahaya dan korban jiwa akibat gempa dapat diminimalisir. Semua komponen struktur dan non struktur tidak boleh rusak dan harus tetap berfungsi. Komponen non struktural, antara lain plafon, paling sering rusak sehingga perlu dilakukan evaluasi kinerja seismik plafon untuk meminimalisir potensi terhentinya operasional rumah sakit pasca gempa. Penelitian ini akan meninjau komponen plafon dengan studi kasus pada bangunan rumah sakit di Yogyakarta. Penelitian ini mengusulkan untuk dilakukan evaluasi kinerja seismik komponen plafon. Analisis beban gempa dilakukan dengan analisis linear dynamic time history. Pemodelan dan analisis struktur serta non struktur (plafon) pada studi kasus ini dilakukan dengan software SAP2000. Komponen plafon yang dilakukan evaluasi adalah sistem plafon multi-panel yang merupakan produk dari suatu perusahaan dan divariasikan dengan menambah perkuatan berupa X-bracing pada penggantungnya. Dari hasil analisis, pada plafon tanpa bracing, plafon dapat mencapai percepatan maksimum 6,977 m/s2 untuk arah-x, 6,708 m/s2 untuk arah-y, dan 2,334 m/s2 untuk arah-z. Sedangkan untuk displacement, plafon dapat mencapai displacement maksimum 115,1 mm untuk arah-x, 335,8 mm untuk arah-y, dan 2,15 mm untuk arah-z. Kemudian pada plafon dengan bracing, plafon dapat mencapai percepatan maksimum 3,935 m/s2 untuk arah-x, 3,679 m/s2 untuk arah-y, dan 2,299 m/s2 untuk arah-z. Sedangkan untuk displacement, plafon dapat mencapai displacement maksimum 1,32 mm untuk arah-x, 0,56 mm untuk arah-y, dan 0,104 mm untuk arah-z. Komponen plafon lantai 3 yang berada pada ruang operasi sudah memenuhi analisis tegangan lentur dan tegangan geser untuk kedua kondisi plafon. Dan analisis tegangan tarik aksial pada plafon dengan bracing juga memenuhi persyaratan yang diijinkan. Dengan penambahan bracing pada plafon, nilai percepatan, displacement, dan tegangan yang terjadi pada plafon menjadi lebih kecil sehingga penggunaan bracing seismik pada plafon merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kinerja seismik plafon.

Indonesia is an area that is prone to earthquakes, which can cause damage to buildings and loss of life. In a building, casualties can be caused by damage to components that collapse during and after an earthquake, both structural and non-structural components. Hospitals are important buildings that must continue to function during and after an earthquake. Hospitals are required to continue to serve victims due to earthquakes so that the risk of danger and loss of life due to earthquakes can be minimized. All structural and non-structural components must not be damaged and must remain functional. Non-structural components, including ceilings, are most often damaged so it is necessary to evaluate the seismic performance of the ceiling to minimize the potential for post-earthquake hospital operations to stop. This study will review the ceiling component with a case study on a hospital building in Yogyakarta. This research proposes to evaluate the seismic performance of ceiling components. Earthquake load analysis was carried out by linear dynamic time history analysis. Modeling and analysis of the structure and non-structure (ceiling) in this case study were carried out with SAP2000 software. The ceiling component being evaluated is the multi-panel ceiling system which is a product of a company and is varied by adding reinforcement in the form of X-bracing on the hanger. From the analysis results, on a ceiling without bracing, the ceiling can reach a maximum acceleration of 6.977 m/s2 for the x-direction, 6.708 m/s2 for the y-direction, and 2,334 m/s2 for the z-direction. As for displacement, the ceiling can reach a maximum displacement of 115.1 mm for the x-direction, 335.8 mm for the y-direction, and 2.15 mm for the z-direction. Then on the ceiling with bracing, the ceiling can reach a maximum acceleration of 3,935 m/s2 for the x-direction, 3,679 m/s2 for the y-direction, and 2,299 m/s2 for the z-direction. As for displacement, the ceiling can reach a maximum displacement of 1.32 mm for the x-direction, 0.56 mm for the y-direction, and 0.104 mm for the z-direction. The 3rd-floor ceiling component in the operating room has met the analysis of bending stress and shear stress for both ceiling conditions. And the analysis of the axial tensile stress on the ceiling with bracing also meets the allowable requirements. With the addition of ceiling bracing, the acceleration, displacement, and stress values that occur on the ceiling become smaller so the use of seismic bracing on the ceiling is an effective way to improve ceiling seismic performance.

Kata Kunci : evaluasi kinerja, non struktural, plafon, dynamic time history