Perbandingan Karakteristik Pengguna Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Antara Fasilitas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Papua Era JKN Tahun 2020 (Kajian Pada Data Sampel BPJS Kesehatan 2019-2020)
ANNASTASYA MEISHELINA ASTRID EFFENDI, Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes. AAK.; Dr. drg. Sri Widiati, MPH.
2023 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN GIGIRiskesdas 2018 melaporkan bahwa 57,6% masyarakat Indonesia memiliki masalah gigi dan mulut. Masalah gigi dan mulut juga masuk 10 besar diagnosis primer terbanyak pada FKTP tahun 2019-2020. Adanya program JKN ditujukan untuk memastikan akses yang adil menuju perawatan kesehatan yang tepat dengan biaya minimal sehingga kesehatan penduduk meningkat, namun disparitas geografis masih menjadi persoalan utama dalam upaya pemerataan akses pelayanan kesehatan di negara berkembang yang mengimplementasikan jaminan kesehatan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara empiris perbandingan karakteristik pengguna pelayanan kesehatan gigi dan mulut antara fasilitas kesehatan tingkat pratama Provinsi DKI Jakarta dan Papua Era JKN Tahun 2020. Penelitian analitik ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2019-2020 dan diolah menggunakan aplikasi statistik STATA v16.0. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling yaitu sebanyak 2.200.960 peserta. Variabel independen terdiri dari usia, jenis kelamin, dan jenis kepesertaan JKN, dengan variabel dependen berupa jumlah kunjungan. Analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon � Mann Whitney dengan nilai CI 95%. Hasil penelitian menunjukkan rerata kunjungan DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan Papua (p = 0,005) dengan mayoritas merupakan usia dewasa awal, jenis kelamin perempuan, dan peserta non-PBI. Pemanfaatan oleh perempuan di DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan di Papua (p = 0,008). Pemanfaatan oleh peserta PBI di DKI Jakarta juga lebih tinggi dibandingkan dengan di Papua (p = 0,012). Kesimpulan penelitian ini adalah tingginya pemanfaatan oleh pengguna di DKI Jakarta dibandingkan dengan pengguna di Papua, sehingga diperlukannya upaya terintegrasi, baik dari pemerintah, PDGI setempat, maupun BPJS Kesehatan, guna mengurangi inekuitas akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut akibat disparitas geografis.
Riskesdas 2018 reported that 57.6% of Indonesians have oral problems. Oral problems are also among the top 10 most common primary diagnoses at primary health care in 2019-2020. The JKN program aims to ensure equitable access to health care at minimal cost in developing countries, but geographic disparities remain a major issue. The purpose of this study was to determine empirically the comparison of the user characteristics oral health services between health facilities in DKI Jakarta and Papua Provinces in the JKN Era 2020. This analytical study used BPJS Kesehatan Sample Data in 2019-2020 and was processed using the STATA v16.0 statistical application. Sampling used a total sampling method of 2,200,960 participants. Independent variables consisted of age, gender, and type of JKN membership, with the dependent variable was number of visits. Bivariate analysis used the Wilcoxon - Mann Whitney test with a 95% CI value. The results showed that the average visit of DKI Jakarta was higher than Papua (p = 0.005) with the majority was early adulthood, female gender, and non-PBI participants. Utilization by female in DKI Jakarta was higher than in Papua (p = 0.008). In addition, utilization by PBI participants in DKI Jakarta was higher than in Papua (p = 0.012). The conclusion of this study is the high utilization by users in DKI Jakarta compared to users in Papua, so that integrated efforts, both from the government, local PDGI, and BPJS Kesehatan, are needed to reduce inequity in access to oral health services due to geographical disparities.
Kata Kunci : Kunjungan Pelayanan Gigi, Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Gigi, Disparitas Geografis, Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan Gigi, Pusat Kesehatan Primer