Kajian Infeksi Parasit Gastrointestinal pada Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Lembaga Konservasi
Putu Suandhika, Dr. drh. Yanuartono, M.P.; Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P.
2023 | Tesis | MAGISTER SAINS VETERINEROrangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan spesies endemik Indonesia dengan status terancam punah. kelestariannya perlu dijaga untuk mempertahankan eksistensinya. Upaya pelestarian orangutan tidak hanya bersifat in-situ, namun juga ek-situ. Orangutan rentan terhadap berbagai penyakit, salah satunya disebabkan oleh parasit gastrointestinal. Infeksi parasit gastrointestinal masih menjadi faktor yang mengganggu kesehatan. Penilaian kondisi klinis penting untuk dilakukan sebagai bentuk langkah awal dalam melakukan screening dan pengarahan diagnosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian dan intensitas infeksi parasit gastrointestinal pada orangutan di Lembaga Konservasi, lebih lanjut untuk mengidentifikasi secara klinis orangutan yang terinfeksi parasit gastrointestinal. Sampel berupa feses segar digunakan sebanyak 63, terdiri dari 3 sampel dari Pusat Suaka Orangutan (PSO) - ARSARI dan 60 sampel dari Borneo Orangutan Survival Foundation Samboja Lestari (BOSF-SL) yang keduanya berlokasi di Kalimantan Timur. Identifikasi dan perhitungan intensitas infeksi dilakukan dengan pemeriksaan feses menggunakan metode Mini-FLOTAC. Parameter yang diamati adalah morfologi dan ukuran temuan parasit pada feses. Perolehan gambaran klinis dilakukan dengan mengamati kondisi feses, Body Condition Score (BCS), suhu tubuh, warna mukosa mulut, dan gejala klinis lainnya. Jenis parasit yang ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan feses adalah Strongyloides sp., Hookworm, Trichuris sp., Balantioides sp., dan Entamoeba sp. dengan intensitas infeksi 0 - 2.490 parasit/gram feses. Hasil penelitian disajikan secara deskriptif. Orangutan yang mengalami helminthiasis dan infeksi protozoa bersifat subklinis/asimtomatik dengan tidak menimbulkan gejala, sehingga tidak terdapat perbedaan pada tampilan feses maupun fisik orangutan. Disimpulkan bahwa pemeriksaan gejala klinis infeksi parasit gastrointestinal pada orangutan sulit dilakukan karena gejala klinis tidak spesifik dan sulit untuk dibedakan. Gambaran tampilan feses dan kondisi klinis secara inspeksi pada orangutan belum sepenuhnya dapat digunakan untuk mengarahkan diagnosa terhadap kemungkinan adanya infeksi parasit, sehingga pemeriksaan feses masih belum tergantikan.
Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus) is an endemic species of Indonesia with an endangered status. It is necessary to maintain its sustainability to keep its existence. Orangutan conservation efforts are not only in-situ, but also ex-situ. Orangutans are susceptible to various diseases, one of which is caused by gastrointestinal parasites. Gastrointestinal parasitic infection is still a factor that interferes with health. Assessment of clinical conditions is important to do as a form of initial step in screening and directing a diagnosis. This study aims to determine the incidence and intensity of gastrointestinal parasite infections in orangutans in Conservation Institutions, furthermore to clinically identify orangutans infected with gastrointestinal parasites. There were 63 samples of fresh faeces used, consisting of 3 samples from Orangutan Sanctuary Center (PSO) - ARSARI and 60 samples from Borneo Orangutan Survival Foundation Samboja Lestari (BOSF-SL), both of which are located in East Kalimantan. Identification and calculation of the intensity of infection is done by examining the stool using the Mini-FLOTAC method. Parameters observed were the morphology and size of parasites found in feces. Obtaining a clinical picture is done by observing the condition of the stool, Body Condition Score (BCS), body temperature, color of the oral mucosa, and other clinical symptoms. The types of parasites found based on the results of stool examination were Strongyloides sp., Hookworm, Trichuris sp., Balantioides sp., and Entamoeba sp. with an infection intensity of 0 - 2.490 parasites/gram of feces. The results are presented descriptively. Orangutans got helminthiasis and protozoa infection are subclinical/asymptomatic with no symptoms, so there is no difference in the appearance of the orangutan's stool or physique. It can be concluded that examining clinical symptoms of gastrointestinal parasitic infections in orangutans is difficult because clinical symptoms are non-specific and difficult to differentiate. The description of the appearance of feces and clinical conditions by inspection in orangutans cannot be fully used to direct a diagnosis of the possibility of parasitic infection, so stool examination is still not replaced.
Kata Kunci : Klinis, orangutan, parasit gastrointestinal, Pusat Suaka Orangutan - ARSARI, Borneo Orangutan Survival Foundation Samboja Lestari