Laporkan Masalah

DRUG UTILIZATION STUDY OF CHRONIC KIDNEY DISEASE PATIENTS IN HEALTH CARE SERVICE UNITS PROVIDED BY ONE OF STATE-OWNED CORPORATION IN INDONESIA FROM 2017-2018

KESHIA SETIABUDI, Prof. Dr. Erna Kristin, Apt, M.Si; Dr. dr. Woro Rukmi Pratiwi, M.Kes, Sp.PD, FINASIM

2023 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi yang dikarakteristikkan dengan penurunan fungsi ginjal seiring berjalannya waktu, biasa di akibatkan oleh adanya komorbid seperti hipertensi dan diabetes. Kesadaran atas PGK sudah meningkat dengan cepat, proporsional dengan estimasi peningkatan kasus komorbid yang berkaitan. Banyak sekali kondisi yang dapat menyebabkan polifarmasi dan bisa menyebabkan kerusakan lanjut dari penyakit awal jika diresepkan secara tidak sesuai. Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi pola penggunaan obat yang diberikan kepada pasien PGK. Indikator hasil pengukuran utama (main outcome measures) menilai penggunaan obat (generik atau bernama dagang), biaya pengobatan, rata-rata jumlah pemberian obat per pasien, daftar obat yang diresepkan, dan persentase obat yang sesuai formalurium nasional. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional (2017-2018) yang menggunakan data klaim farmasi administrative restropektif dari unit pelayanan kesehatan perusahaan milik negara di Indonesia. Analisa statistik menggunakan analisa deskriptif. Data medis pasien penyakit ginjal kronis diperoleh dari basisdata klaim farmasi yang berisi rekam medis peresapan obat untuk pasien rawat jalan dan rawat inap di unit pelayanan Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan kebanyakan pasien adalah laki-laki di rentang umur 55-64 tahun. Diagnosis sekunder yang paling tinggi adalah diabetes miletus. Setiap pasien rata-rata memiliki dua diagnosis sekunder lainnya. Pasien PGK secara umum menjalani rawat inap dengan rata-rata inap selama enam hari setiap admisi. Secara umum obat yang digunakan tergolong aman untuk digunakan, meskipun ada beberapa obat yang perlu penyesuaian dosis dan ada sedikit obat yang tergolong nefrotoksik. Sebagian besar pasien dalam penelitian ini tidak menjalani dialysis atau preparasi dialysis. Untuk indikator hasil pengukuran utama, obat yang paling diresepkan adalah obat yang menggunakan nama dagang. Rata-rata biaya obat per pasien adalah Rp8.823.331,00 dan Rp4.615.281,00. Terdapat indikasi polifarmasi dengan rata-rata obat per pasien 10.53. Obat yang paling banyak diresepkan adalah furosemide dan subgrup yang paling banyak diresepkan berdasarkan klasifikasi ATC level 3 adalah obat untuk ulkus peptikum dan penyakit refluks gastro-esofagus. Ada 72.02% obat yang sesuai dan 27.98% obat yang tidak sesuai dengan formularium nasional. Saran untuk peneliti berikutnya adalah memiliki basis data terbaru untuk meningkatkan akurasi dalam meneliti pola penggunaan obat saat ini untuk pasien PGK.

Chronic Kidney Disease (CKD) is a condition characterized by a gradual loss of kidney function over time, it is most often caused by other comorbidities, such as hypertension and diabetes. Awareness towards CKD is increasing rapidly, proportional to the increasing estimation of correlating comorbidity cases. Multiple conditions can lead to polypharmacy, which can cause further damage from the initial condition if prescribed inappropriately. This study is done to investigate the drug utilization pattern given to CKD patients. The main outcome measures assess the drug usage (generic or branded), drug cost, average number of drugs given per patient, list of drugs prescribed, and percentage of drugs that complies with the national drug formulary. The design is a cross-sectional study (2017-2018) which uses retrospective administrative pharmacy claims data from healthcare service units by one of state-owned corporation in Indonesia. The statistical analysis uses descriptive analysis. Medication data of chronic kidney disease patients is obtained from the pharmacy claim database, which contains records of all outpatient and inpatient prescriptions dispensed to patients in health care service units. The results shows that most patients are male in the age group of 55-64 years. The highest secondary diagnosis is diabetes mellitus. Per patient has an average of two secondary diagnoses. Patients with CKD mostly undergo inpatient care, with an average length of stay of six days per admission. Most drugs are found to be safe for use, though there are some drugs that need dosing adjustments and a few drugs that are nephrotoxic. Most patients in this study are not undergoing dialysis or dialysis preparation. For the main outcome measures, the branded drug is mostly used, the mean of drug cost per patient and per claim number respectively is Rp8.823.331,00 dan Rp4.615.281,00. There is also an indication for polypharmacy with average number of drugs of 10.53 per patient. The most prescribed drug is furosemide and the most prescribed subgroup based on the 3rd level ATC classification is drugs for peptic ulcer and gastro-oesophageal reflux disease. Lastly, there are 72.02% of drugs found to be compliant with the national drug formulary and 28.98% incompliant. Suggestions for the next researcher is to have a more recent database source to increase accuracy with the current drug utilization pattern in CKD patients.

Kata Kunci : Chronic Kidney Disease, Drug Utilization, Polypharmacy, Prescription Pattern, Drug Formulary,

  1. S1-2023-444289-abstract.pdf  
  2. S1-2023-444289-bibliography.pdf  
  3. S1-2023-444289-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2023-444289-title.pdf