Perbandingan karakteristik tanah gambut Rawaseragi Lampung dengan tanah lempung Kedungsari Wates
ISWAN, Dr.Ir. Hary Christady Hardiyatmo, M.Eng.,DEA
2003 | Tesis | S2 Teknik SipilTanah gambut Rawaseragi Lampung mempunyai deformasi yang besar dan kapasitas dukung rendah bila dibebani. Oleh sebab itu tanah gambut Lampung digolongkan sebagai tanah yang jelek pada konstruksi sipil. Untuk mengetahui cara penanggulangan yang tepat, maka terlebih dahulu diperlukan penelitian tentang sifat fisis, dan mekanis dari tanah gambut. Penelitian karakteristik tanah gambut Rawaseragi Lampung dititikberatkan pada sifat fisis dan mekanis meliputi uji pengembangan, tekanan pengembangan, penyusutan, konsolidasi dan permeabilitas. Pengujian utama dilakukan dengan menggunakan alat oedometer. untuk melihat besar potensi kembang-susut tanah gambut maka perlu ditinjau tanah lempung Kedungsari sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanah Lampung diklasifikasikan sebagai gambut berserat. Pada kondisi optimum, potensi pengembangan tanah gambut sebesar 2,24% dan tanah lempung 10,7% atau potensi pengembangannya berkisar 21% dari potensi pengembangan tanah lempung Kedungsari-Wates. Tekanan pengembangan tanah gambut maksimum sebesar 84 kPa (dry side of optimum) dan sebesar 345 kPa (optimum) untuk lempung Kedungsari atau tekanan pengembangannya hanya 24% dari tekanan pengembangan tanah lempung Kedungsari. Tanah gambut yang dipadatkan pada kadar air kering optimum nilainya lebih besar dibandingkan dengan basah optimum ataupun optimum.
The peat soil of Rawaseragi Lampung has large deformation and low stability under loading. That is why this soil characterized as poor soil on civil construction. To know how to overcome this problem, it is necessary to conduct a physical and mechanical research of peat soil. This research is focused on the physical and mechanical of the peat soil from Rawaseragi Lampung including swelling test, swelling pressure, shrinkage, consolidation and permeability. The main device was the oedometer apparatus to perform the swelling and shrinkage tests. Kedungsari clay was used as a comparison. The results of research indicate that Lampung as classified to fibrous peat. At the water content optimum condition, the swelling potential of peat equal to 2,24 % and clay 10,7% or peat soil at optimum condition swelling potential revolve 21% from Kedungsari clay. The maximum swelling potential of peat soil equal to 84 kPa (dry side of optimum) and clay soil equal to 345 kPa (optimum) of Kedungsari clay soil or the swelling pressure of peat soil only 24% from swelling pressure of kedungsari clay soil. Peat compacted at dry side of optimum has higher permeability compared with wet side optimum and optimum.
Kata Kunci : Tanah Gambut dan Tanah Lempung,Karakteristik, Density, swelling pressure, swelling potential, peat, oedometer, consolidation, permeability