USULAN TERHADAP PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI BERAS DIDEPOT LOGISTIK JAWA BARAT
DIAN SARI PUSPITA, Ir. Soemangat, M. Sc.; Dr. Ir. Soeprodjo,M. Eng.
1992 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANMasalah poko perberasan di Indonesia menyangkut dua hal yaitu, ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Propinsi Jawa Barat mempunyai keadaan seperti tersebut pula. Wilayah bagian utara adalah kawasan yang surplus beras. Sebaliknya, wilayah bagian selatan merupakan sebuah kawasan yang kekurangan beras. Dolog Jabar sebagai instansi vertikal dari Bulog di Daerah Tingkat I Propinsi mempunyai tugas untuk melaksanakan pengendalian harga beras (dan harga pangan lainnya) guna menjaga kesetabilan harga baik harga produsen maupun konsumen sesuai dengan kebijaksanaan umu pemerintah. Untuk melaksanakan tugas ini, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah penyaluran beras.Fungsi penyaluran beras yang dilakukan Dolog menyangkut dua aspek, yaitu distribusi makro dan distribusi mikro. Distribusi makro yang dilakukan Dolog Jabar adalah distribusi dari subdolog surplus diwilayah bagian utara ke subdolog minus diwilayah bagian selatan. Untuk melaksanakan distribusi beras antar subdolog tersebut diperlukan biaya distribusi yang relatif besar. Untuk itu perlu dibuatkan suatu rencana pola distribusi yang dapat memberikan ongkos total pengiriman yang seminimal mungkin. Berdasarkan data Tahun 1991, Dolog mengalokasikan beras dari subdolog surplus sebesar 112.185, 6 Ton, tetapi jumlah yang sebenarnya yang dibutuhkan subdolog minus hanya sebesar 69.339, 5 Ton ( atau 62 % dari jumlah alokasi Dolog ). Dengan jumlah pengalokasian yang jauh melebihi kebutuhan tersebut, maka hal ini berarti sistem pendistribusiannya belum optimal dan akibatnya akan berpengaruh pada ongkos total pengiriman. Sebagai pendekatan untuk mencapai tujuan akhir yaitu untuk minimisasi ongkos total pengiriman dilakukan melalui ukuran berat angkut yang dihubungkan dengan jarak angkut terpendek. Pemilihan kriteria ini, didasarkan pada pertimbangan bahwa besaran berat jarak angkut merupakan suatu besaran yang tidak berubah karena faktor lingkungan. Dari hasil penelitian ini, untuk periode Tahun 1992 pola distribusi diperkirakan akan optimal bila mengalokasikan beras sebesar 112.196, 4 ton, sehingga mendapatkan fungsi obyektif sebesar 13.011.380 ton-km. Untuk mengetahui kebenaran bahwa pola distribusi ini optimal dan Dolog Jabar belum menjalankan pola distribusi seperti ini, serta terbukti bahwa sistem distribusi yang dijalankan Dolog Jabar selama ini belum optimal, maka sebelum merencanakan sistem distribusi untuk Tahun 1992 terlebih dulu dilakukan perbandingan antara kedua sistem distribusi diatas dengan data tahun 1991. Sistem distribusi yang diusulkan adalah sistem distribusi yang memberikan fungsi obyektif optimal. Untuk mencapai hasil ini dimulai dengan peramalan jumlah pemasukan/ pengadaan dan pengeluaran, kemudian setelah diketahui berapa jumlah beras yang harus dialokasikan dari subdolog surplus ke subdolog minus, dibuat model jaringan transportasi dengan metode Stepping Stone dan Vogel sebagai penyelesaiannya.Sedangkan sistem distribusi Dolog Jabar tidak menggunakan model jaringan transportasi seperti tersebut diatas, disamping didalam perencanaan prognosanya yang sangat menimbun persediaan sehingga fungsi obyektif yang dihsilkan sangat besar. Stelah melakukan perbandingan ini maka sebagai contoh penerapannya, direncanakanlah suatu pola distribusi untuk periode Tahun 1992 dengan hasil tersebut diatas.
-
Kata Kunci : Perencanaan, Beras, Logistik, Jawa Barat