Studi Fenologi Pembungaan Tanaman Gliricidia Sepium (Jacq.) Steud dari Berbagai Provenansi dan Produksi Buahnya Serta Pengaruh Pemberian !Pupuk N-P-K di Wanagama I Yogyakarta
Muh. Restu, Dr.Ir. H. Moch. Nai'em
2002 | Tesis | S2 Ilmu KehutananSumberdaya hutan yang mengalami penuruan produktifitas akibat pemanfaatan berbagai kepentingan, memerlukan upaya rehabilitasi guna meningkatkan keembali produktifitasnya. Pemuliaan tanaman hutan merupakan cara yang terbaik untuk meningkatkan produktifitas hutan secara kualitas maupun kuantitas, sehingga dibutuhkan penelitian tentang biologi reproduksi yaitu fenologi pembungaan dan produksi biji. Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan untuk kegiatan pemuliaan hutan adalah jenis Gliricidia sepium (GamaJ). Penelitian ini dilakukan di Wanagama I Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, pada lokasi pertanaman uji provenansi G. sepium di petak 17. Penelitian dilakukan sejak bulan Maret 200 l hingga bulan Oktober 2001, dengan menggunakan percobaan faktorial dengan rancangan petak terpisah (Split Plot Design). Tuj uan penelitian adalah : ( 1) mengetahui fenologi pembungaan dan pembuahan Gliricidia sepium dari provenansi Guatemala, Nikaragua dan lokal, (2) Mengetahui produksi polong dan biji dengan memberikan pupuk (3) mengetahui provenansi dan dosis pupuk yang terbaik. Fenologi pembungaan dan pembuahan G. sepium meliputi: (1) perubahan fisik organ generatif yang ditandai dengan perubahan tahap demi tahap berupa (a) proses pengguguran daun, (b) induksi bunga, (c) inisiasi pembungaan, (d) perkembangan bunga hingga mencapai anthesis, (e) penyerbukan dan pembuahan, (f) perkembangan buah atau polong, (g) proses masaknya buah. (2) periode proses pembungaan hingga masak dicapai selama 65 - 69 hari dengan tahapan yaitu: (a) lnduksi bunga pada awal Juli, (b) inisiasi bunga selama 15 - 19 hari, (c) pembentukan kuncup hingga mencapai ukuran maksimal 7 - 10 hari, ( d) bunga mencapai resepti 2 - 3 hari, (e) penyerbukan dan pembuahan 2 hari, (f) perkembangan. buah atau polong hingga mencapai ukuran maksimal 28 hari, (g) proses masaknya buah 16 hari. Puncak pembungaan (peak flowering) terjadi pada bulan Agustus dengan persentase pembungaan yaitu Guatemala 31,25 %, Nikaragua 41,66 % dan Lokal 25 persen.
Forest resources were decreased in productivity since the exploitation of them for a variety interests. They needs a rehabilitation effort to improve its productivity. Forest plants breeding is the best way to improve the forest productivity both in quality and quantity, so it needs a research on the reproduction biology, that is flowering phenology and seed production. A kind of plants that can be used for this forest plant breeding is Gliricidia sepium (Gamal). This research was conducted in Wanagama I Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, in the plantation location of provenance experiment for G. sepium in plot 17. This research was conducted since March 2001 until October 200 l, by using factorial experiment with Split Plot Design. This research aims are: ( 1) to find out flowering and fertilization phenology of Gliricidia sepium from Guatemala, Nicaragua, and Local provenance, (2) to find out pod and seed production by adding fertilizer (3) to find out the best fertilizer provenance and dosage. Flowering and fertilization phenology of G. sepium involved: ( l) physical changing of generative organ that marked with step by step changing in the fonn of (a) leaves falling process, (b) flower induction, (c) flowering initiation, (d) flower growing until anthesis, (e) pollination and fertilization, (f) fruit or pod growth, (g) fruit maturity process. (2) the period from flowering process to be mature was 65 - 69 days in some steps: (a) bud forming in early July, (b) flower initiation for 15 - 19 days, (c) the flower is receptive 2 - 3 days, (e) pollination and fertilization for 2 days, (f) fruit growth or pod until reaches maximal size in 28 days, (g) maturity process in 16 days. Peak flowering was in August of flowering percentage of Guatemala 31,25%, Nicaragua 41,66%, and Local 25%. Fertilizer addition treatment influenced the pod and seed production directly, but its provenance and interaction did not influence directly. Fertilizer adding treatment of dosage 500 gram (P2) to the pod was really different from PO and Pl treatment, but did not really different from P3. However, for seed production, P2 treatment was really different from other treatments. The best pod and seed production result is P2 treatment with production result average per tree of 1.288 pods and 27.621 seeds.
Kata Kunci : Hutan,Pemuliaan Tanaman,Pembungaan