Tipologi manajer dalam kesiapan Puskesmas menjadi Puskesmas otonomi di Kabupaten Kulon Progo
HARYATNO, Bambang, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2003 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang : Keluarnya UU No. 22/99 dan UU No. 25/99 membawa perubahan besar mengenai peran pemerintah daerah dan swasta dalam pelayanan kesehatan. Kondisi ini membawa dampak daerah berpacu untuk mengembangkan sistem pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Depkes RI telah melakukan rasionalisasi fungsi dan kegiatan puskesmas, sistem pembiayaan block grant, ini memberi kesempatan daerah untuk berkembang. Kulon Progo sebagai daerah yang pembangunan kesehatannya sangat tergantung DAU dan DAK perlu mengantisipasinya dengan melakukan perubahan dan pengembangan palayanan kesehatan yang ada di puskesmas. Pengembangan puskesmas dilakukan untuk memenuhi tuntutan pelayanan yang bermutu, meningkatkan motivasi kerja dan antisipasi terhadap AFTA. Dengan melihat aspek organisasi, puskesmas dikembangkan menjadi puskesmas otonomi sesuai Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas Swadana Depkes RI tahun 1998. Pengembangan puskesmas akan lebih berhasil apabila kepala puskesmas mempunyai tipe manajer yang prospector tinggi. Metodologi : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan rancangan survey yang bersifat crosssectional dan hasil penialaian indikator swadananya digunakan mengkategorikan puskesmas yang diteliti. Hasil : Dari 20 puskesmas yang diteliti terdapat 11(55%) kepala puskesmas yang memiliki tingkat prospector tinggi, 4(20%) kepala puskesmas dengan tingkat prospector sedang dan 5(25%) kepala puskesmas dengan tingkat prospector rendah. Sedangkan tingkat kesiapan puskesmas menjadi puskesmas otonomi,terdapat 7(35%) puskesmas klasifikasi siap, 11(55%) puskesmas klasifikasi cukup siap dan 2(10%) puskesmas klasifikasi kurang siap. Kesimpulan : Dari 20 puskesma yang diteliti terdapat 6(30%) kepala puskesmas dengan karekter prospector tinggi yang memimpin puskesmas dengan kategori siap. Tidak ada puskesmas dengan kategori kurang siap yang dipimpin kepala puskesmas prospector tinggi dan tidak ada pula kepala puskesmas prospector rendah meminpin puskesmas kategori siap menjadi puskesmas otonomi .
Background : UU number 22/1999 and UU number 25/1999 bring a great changes on the participation of government and non government institution in health service. This condition have its effect to develop the system of health service that fit to the need of each region . The Department of Health, Republic of Indonesia, has rationalized the function and public health activities , block grant budgeting system , that gives a chance to region to develop . In fact Kulon Progo as the region that its health budget depends on government budget ( DAK and DAU )has to anticipate by changing and developing the health service in public health centre. Health centre needs to develop its to reach the high quality of health service,increasing work motivation and to face AFTA. Seeing the type of manager (chief of health centre), the health centre developed to be an otonom health centre according to the guide line of having self-funded health centre of The Indonesian Health Department 1998. The developing health centre will be more sucesfull if the chief of health centre has a high prospector type of manager. Methodology : This research is conducted using desperitive method, the cross sectional planning survey and self-funded indicator used for categorizing the respondents. Result : From 20 health centres as the respondents, there are 11(55%) chiefs of health centre with high prospector, 4(20%) chiefs categorized as middle prospector and 5(25%) chiefs categorized as low prospector. Meanwhile the level of readiness of health centre to be otonom, there are 7(35%) health centres are classified ready, 11(55%) health centres to ready and 2(10%) health centres are classified not ready yet. Conclusion : From 20 health centres as the respondents there are 6(30%) chiefs of health centre as high prospector who lead the health centre which are categorized as ready. There is no high prospector who lead not ready health centre and also there is no low prospector who lead
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Manajer Puskesmas,Otonomi Daerah,Manajer