60% sebagai pendukung untuk tumbuh dan berkeinbang spesies Anopheles aconitus berada pada ketinggian 100- 1 30 in, dengan kepadatan penduduk > 4000 jiwdkm2. Tempat biakan nyamuk AtiophoIcs uconi/iis adalah sungai pada saat musim kemarau dan persawahan pada saat musim penghujan, memiliki salinitas rendah, ditemukan pada wilayah pada ketinggian 25111- 130 m. Hasil penelitian perubahan cuaca dan kasus malaria menunjukkan kasus inengalami peningkatan pada saat terjadi penyinipangan cuaca dari rata-rata tahunan. "> 60% sebagai pendukung untuk tumbuh dan berkeinbang spesies Anopheles aconitus berada pada ketinggian 100- 1 30 in, dengan kepadatan penduduk > 4000 jiwdkm2. Tempat biakan nyamuk AtiophoIcs uconi/iis adalah sungai pada saat musim kemarau dan persawahan pada saat musim penghujan, memiliki salinitas rendah, ditemukan pada wilayah pada ketinggian 25111- 130 m. Hasil penelitian perubahan cuaca dan kasus malaria menunjukkan kasus inengalami peningkatan pada saat terjadi penyinipangan cuaca dari rata-rata tahunan. ">
Laporkan Masalah

Studi karakteristik wilayah sebagai determinan penyebaran malaria di lereng barat dan timur pegunungan Muria Jawa Tengah

RAHARJO, Mursid, Prof.Dr. Sutikno

2003 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan

Kasus malaria di Kabupaten Jepara inenarik untuk dikaji khususnya tentang kaitan antara karakteristik wilayah secara spasial dengan distribusi kepadatan nyamuk, dan hubungan perubahan cuaca dengan kasus malaria 'I'ujuan penelitian adalah menentukan parameter karakteristik Iingkungan sebagai determinan terhadap distri busi kepadatan nyam uk Anopl?cles pada lereng barat dan lereng timur Pegunungan Muria dan mengetahui hubungan perubahan unsur cuaca dengan kasus malaria di Kabupaten Jepara. Lokasi penelitian ditentukan dengan sfrutfret/ ruizdoiit sampling, berdasarkan sebaran kasus malaria di setiap Lecamatan dan ketinggian wlayah. Berdasarkan kasus wilayah dikelompokan menjadi 3 yaitu kecaniatan dengan angka kejadian malaria tinggi (High CUM /i?c rdcncc), kecamatan dengan angka kejadian sedang (hlediunz 'USO Incidence ), dan kecamatan dengan angka kejadian rendah (1,ow ( 'uvc Ii7c1cJcnce). Peiietapan kelas selanjutnya dilakukan dengan menggunakan dasar ketinggian wilayah, dengan interval 25 in yaitu 0-25 m, 26 -50 m, 51-75 m, 76 - 100 m, dan lebih dari 100 in dari permukaan laut. Jumlah sampel ditentukan berdnsarkan alokasi berimbang dengan besarnya strata, dimana besar sampel , n = LCNi '. 02/ (N'D + C Ni. 0'). Pengamatan dan pengukuran karakteristik lingkungan dan Lepadatan nyamuk dilakukan pada musim penghujan dan muslin kemarau Analisis inenggunakan perhitungan koefisien korelasi, sedangkan besar pengaruh masing-masing variable menggunakan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wilayah yang sesuai sebagai habitat Anoplzeles uc'onrtus memiliki teinpat biakan dcngan salinitas 0,05- 0,51%, kerapatan vegetasi sebagai resting area > 60%, suhu udara 32,2-33,7"C dan kelembaban udara > 60% sebagai pendukung untuk tumbuh dan berkeinbang spesies Anopheles aconitus berada pada ketinggian 100- 1 30 in, dengan kepadatan penduduk > 4000 jiwdkm2. Tempat biakan nyamuk AtiophoIcs uconi/iis adalah sungai pada saat musim kemarau dan persawahan pada saat musim penghujan, memiliki salinitas rendah, ditemukan pada wilayah pada ketinggian 25111- 130 m. Hasil penelitian perubahan cuaca dan kasus malaria menunjukkan kasus inengalami peningkatan pada saat terjadi penyinipangan cuaca dari rata-rata tahunan.

Kata Kunci : Lingkungan Hidup,Kepadatan Nyamuk,Lereng Gunung Muria,Malaria


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.