Laporkan Masalah

STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS VEGETASI DALAM RANGKA PENGEMBANGAN PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG DI BAGIAN HUTAN KALIBODRI KPH KENDAL

Evy Marina , Prof. Dr. Ir. Djoko Marsono

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Hutan lindung merupakan kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai suatu kawasan yang memiliki fungsi pokok untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan dalam kapasitasnya mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi dan memelihara kesuburan tanah. Kawasan hutan lindung perlu dipertahankan mengingat fungsinya yang kompleks dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Tujuan pengelolaan kawasan hutan lindung adalah untuk mencegah kerusakan lingkungan hidup. Sasarannya adalah meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah, air, tumbuhan, satwa dan budaya serta mempertahankan keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa, tipe ekosistem dan keunikan alamnya. Stu di ini bertu j uan untuk mengetahui 1) komposisi dan keanekaragaman jenis vegetasi penyusun kawasan hutan lindung, 2) dominansi suatu jenis vegetasi tertentu, 3) pola komunitas dan hubungannya dengan faktor lingkungannya dan 4) tingkat kerusakan serta upaya konservasi yang dilakukan di dalam kawasan. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan blok berdasarkan overlay peta kelerengan, ketinggian dan jenis tanah. Hasil overlay ketiga peta terdapat 14 releve yang digunakan sebagai blok pengamatan. Dalam setiap blok dilakukan pembuatan petak ukur pengamatan berukuran 20 x 30 m untuk tingkat pohon, 10 x 15 m untuk tingkat tiang, 5 x 5 m untuk tingkat sapihan dan 2 x 2 m untuk tingkat semai. Selanjutnya data dianalisis dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP), indeks kesamaan, indeks ketidaksamaan. Pola permudaan dianalisis dengan metode ordinasi, hubungan pola permudaan dengan faktor lingkungan dianalisis dengan korelasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkaP. bahwa lokasi penelitian didominasi oleh Artocarpus elasticus dan Ficus ribes (famili Moraceae), Ceiba penta11dra (Bombacaceae), Cinnamomum sintoc (Lauraceae), Azadirachta indica (Meliaceae), Cassia siamea (Caesalpiniaceae) dan Pterospermumjavanicum (Sterculiaceae). Pola permudaan tingkat semai, sapihan, tiang d an p ohon tidak d ipengaruhi o leh faktor unsur hara tanah maupun reaksi kimia (pH) tanah. Dalam rangka pengembangan pengelolaan k awasan I indung p erlu dilakukan r ehabilitasi b eberapa b lok. Prioritas penanganan dilakukan pada blok-blok yang mengalami kerusakan yaitu blok IV, XII, III, VI d an XIII d engan r eboisasi j enis-jenis yang s esuai k ondisi Iingkungan yaitu Artocarpus elasticus, Pterospermum javanicum, Sterculia foetida, Ceiba pentandra dan Parkia roxburgii (Blok IV); Sterculiafoetida, Cinnamomum sintoc, Ceiba pentandra dan Durio zibethinus (Blok XII); Artocarpus elasticus, Azadirachta indica, Ficus ribes, Pterospermum javanicum dan Ficus variegata (Blok III); Artocarpus elasticus, Pterospermum javanicum, Cinnamomum sintoc, Spondias pinnata dan Vitex pubescens (Blok VI) dan Antidesma bunius, Ceiba pentandra, Parkia roxburgii, Pithecellobium lobatum, Pterospermum javanicum, dan Canangium odoratum (Blok XIII).

Protective forest is an area which established by government as an area which the main function is as a protective system area for life which is to regulate water system, to prevent from flood, to manage erosion and to keep soil fertility. Protective forest area needs to be maintained because of its complex functions and hang over people life. The aims of protective forest management is to prevent the environment destructions and the target is to increase soil and water conservation functions, vegetations, wildlife, ecosystem area and its natural unique. This research aimed to find out; ( 1) the structures and the compositions of vegetation of protective forest area, (2) the domination of certain vegetations, (3) the community pattern and its relation with environmental factors, and (4) the level of destructions and the conservation efforts in the area mentioned above. This research conducted with block observations based on the overlay of sloping map, soil map and topography map. From the third of its result were found 14 (fourteen) blocks which is used as observation blocks. In each block, the plots were made 20 x 30 meters for trees stage, 10 x 15 meters for pole stage, 5 x 5 meters for sapling stage, and 2 x 2 meters for seedling stage. Then the data above are analyzed by counting the Important Value Index (INP), the similarity index, and the dissimilarly index. The reboisation pattern analyzed with ordination method, the relationship between reboisation pattern and environmental factors are analysed by a simply correlation. Artocarpus elasticus and Ficus ribes (famili Moraceae), Ceiba pentandra (Bombacaceae), Cinnamomum sintoc (Lauraceae), Azadirachta indica (Meliaceae), Cassia siamea (Caesalpiniaceae) and Pterospermumjavanicum (Sterculiaceae). The reboisarion pattern of seedling, sapling, pole and trees were not influenced by soil elements and soil chemical reaction (pH of the soil). In management development of protective forest area, there are some blocks that have to be rehabilitated. The execution priority has to be done in some damaged blocks i.e block number IV, XII, III, VI and XIII with reboisation in some types which are match with the condition of its surroundings, that are i.e Artocarpus elasticus, Pterospermum javanicum, Sterculia joetida, Ceiba pentandra and Parkia roxburgii (Blok IV); Sterculia foetida, Cinnamomum sintoc, Ceiba pe????tandra and Durio zibethinus (Blok XII); Artocarpus efasticus, Azadirachta indica, Ficus ribes, Pterospermumjavanicum and Fic11???? variegata (Blok 111); Artocarpus elasticus, Pterospermum javanicum, Cinnamomum sintoc, Spondias pinnata and Vitex pubescens (Blok VI) and Antidesma bunius, Ceiba pentandra, Parkia roxburgii, Pithecellobium lobatum, Pterospermum javanicum and Canangium odoratum (Blok XIII).

Kata Kunci : Struktur dan Komposisi, Vegetasi, Pengelolaan, Hutan Lindung.

  1. Abstract.pdf  
  2. Bibliography.pdf  
  3. Table_of_Content.pdf  
  4. Title.pdf