Konflik Agraria: Studi Kasus Pembentukan Klaim Sepihak Petani Desa Grugu, Kawunganten, Cilacap dalam Konflik Agraria dengan Perhutani KPH Banyumas Barat
THIFFANI OKTA Z, Miftah Adhi Ikhsanto, S.I.P., M.I.O.P.
2022 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini mengkaji konflik agraria dengan studi kasus sengketa tanah antara petani Desa Grugu dengan Perum Perhutani KPH Banyumas Barat. Dimana penelitian ini akan fokus terhadap bagaimana pertarungan antar aktor yaitu petani dan perhutani dalam membangun narasi terkait hak atas tanah dalam sengketa tanah yang terjadi. Konflik agraria yang terjadi di Indonesia khususnya persengketaan lahan sulit untuk mendapatkan titik terang dalam penyelesaianya hingga saat ini. Urgensitas tanah menjadikan tanah sebagai objek yang rentan akan konflik agraria yang melibatkan orang perseorangan, kelompok, atau badan hukum. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pertarungan antar aktor dalam membangun narasi serta dampaknya dari narasi yang diproduksi antara petani desa grugu dengan perum perhutani kph banyumas barat dalam sengketa tanah yang terjadi. Penelitian ini melihat femomena konflik agraria antara petani desa grugu dengan perum perhutani kph banyumas barat dengan menggunakan pendekatan teori wacana dari Michel Foucoult. Teori tersebut digunakan sebagai pisau analisis karena dapat menjelaskan secara lebih mendalam terkait memproduksi wacana untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini memanfaatkan dua sumber data yakni data primer melalui wawancara dan data sekunder melalui studi kepustakaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pertarungan antar aktor yg terjadi antara petani desa grugu dengan perum perhutani kph banyumas barat sulit untuk mendapatkan titik terang karena setiap aktor saling bertarung untuk menegakan haknya masing-masing. Permasalahan yang kompleks antara kedua belah pihak menyulitkan penanganan yang dilakukan. Dalam pertarungan aktor yang terjadi petani memproduksi narasi dengan mengedepankan wacana keadilan agrarian dan klaim tanah nenek moyang, sedangankan narasi perhutani adalah dengan memaparkan bukti dokumen dan data bahwa tanah yang disengketakan sudah masuk kedalam kawasan hutan milik perhutani.
This research examines agrarian conflicts with case studies of land disputes between farmers from Grugu Village and Perum Perhutani KPH West Banyumas. Where this research will focus on how the battle between actors, namely farmers and Perhutani in building a narrative related to land rights in land disputes that occur. Agrarian conflicts that occur in Indonesia, especially land disputes, are difficult to find a bright spot in their resolution to date. The urgency of land makes land a vulnerable object to agrarian conflicts involving individuals, groups or legal entities. The purpose of this study was to find out how the struggle between actors in building a narrative and the impact of the narrative produced between Grugu village farmers and Perum Perhutani KPH Banyumas Barat in land disputes that occurred. This study examines the phenomenon of agrarian conflict between Grugu village farmers and Perum Perhutani KPH West Banyumas using the discourse theory approach of Michel Foucoult. The theory is used as a knife analysis because it can explain in more depth regarding the making of discourse to achieve the desired goals. This research is a qualitative research using the case study method. This research utilizes two data sources, namely primary data through interviews and secondary data through library research. This research shows that the battle between actors that occurred between Grugu village farmers and Perum Perhutani KPH Banyumas Barat is difficult to get a clear point because each actor is fighting each other to uphold their respective rights. The complicated problem between the two parties is the problem solving that is done. In the battle between actors that occurs the production of narratives built by each actor. In the actors' battle that occurred, farmers produced narratives using discourses on ancestral land claims and agrarian justice, while Perhutani's narrative presented documentary and data evidence that the disputed land had entered forest areas owned by Perhutani.
Kata Kunci : konflik agraria, petani, klaim tanah