Redesain Taman Edukasi di Embung Langensari dengan Pendekatan Arsitektur Lanskap
MECHTILDIS KANIA TIARA CHRYSANT, Prof. Ir. Atyanto Dharoko, M.Phil, Ph.D; Nur Zahrotunnisaa Zagi, ST., MT.
2022 | Skripsi | S1 ARSITEKTUREmbung Langensari adalah satu-satunya embung yang berada di kawasan Kota Yogyakarta. Lokasinya yang berada di tengah kota, dan dikelilingi oleh pemukiman penduduk, berbagai fasilitas pendidikan, dan fasilitas umum lainnya membuat lokasi ini sangat potensial untuk dijadikan sarana berkumpul bagi masyarakat dalam beraktivitas dan mengembangkan komunitas. Pada prakteknya, Embung Langensari beserta fasilitas di dalamnya masih kurang dikembangkan dan dirawat untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Kurangnya pengembangan dan perawatan dapat dilihat dari fasilitas dalam Embung Langensari yang cenderung tidak terpakai bahkan dalam keadaan rusak sehingga pengunjung tidak dapat menikmati taman kota tersebut secara maksimal. Padahal, ruang terbuka publik berupa taman merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam suatu kota; dan juga keberadaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Yogyakarta masih dibawah batas minimal. Berangkat dari masalah yang ada, maka redesain Embung Langensari dilakukan untuk mengembangkan fasilitas yang sudah ada untuk lebih memenuhi kebutuhan berbagai kelompok masyarakat. Meninjau kondisi sekitar tapak yang dihuni oleh beragam kelompok maka menciptakan taman yang edukatif dan rekreatif menjadi tujuan yang akan dicapai dengan menggunakan pendekatan arsitektur lanskap dalam perencanaannya. Taman edukasi yang akan dirancang diharapkan bisa menjadi wadah komunitas yang inklusif dan menciptakan kesempatan kolaborasi antar kelompok di masyarakat.
Langensari Dam is the only dam built within the City Administrative of Yogyakarta. It is located at the city centre, and surrounded by residentials, schools, as well as other supporting public facilities which prompts this infrastructure to be rather immensely potential as a gathering spot for the surrounding population to conduct their activities and expand their communities. In the practical notion, Langensari Dam along its supporting facilities are neither yet fully developed nor well-managed to fulfill the public requisites. This peculiar phenomenon of minimum development and lack of management is realized by the fact that most public facilities within the area are simply being neglected in the damaged condition, which caused the visitors, there, to not fully savoring their visits at the in-site city park. This condition is backlashing the ideal concept of public open space, particularly in the design of city park, as one of significant elements by urban planning. At the same time, it resonates with the fact that the percentage of green open spaces in Yogyakarta is still under the ideal minimum in numbers. Departing from the apparent issue, the redesigning of Langensari Dam is employed to enhance the pre-existed facilities in order to fulfill the requisites of its population. Perceiving the site condition which inhabited by composite population leads to the objective to design an educative and recreative park with the approach of landscape architecture. This designed educational park is aspired to be an inclusive spot for the communities which allowing a novel opportunity for collaboration to emerge within sections in the population.
Kata Kunci : Embung Langensari, Taman Edukasi, Arsitektur Lanskap, Langensari Dam, Educational Park, Landscape Architecture