Laporkan Masalah

Konsep dan Dinamika Ketahanan Psikologis Keluarga Sunda

YUNITA SARI, Tina Afiatin; Subandi

2022 | Disertasi | DOKTOR ILMU PSIKOLOGI

Kompleksitas permasalahan keluarga berpotensi melemahkan institusi keluarga sebagai fondasi kekuatan negara. Kajian-kajian ketahanan psikologis keluarga yang sesuai dengan konteks keluarga Asia, tidak sepenuhnya terepresentasikan dalam teori dari negara Barat. Penelitian ketahanan psikologis keluarga di Asia juga masih minim dan Indonesia dengan keragaman suku menjadi entitas menarik untuk ditelaah. Suku Sunda merupakan suku terbesar kedua di Indonesia, yang dominan berada di Jawa Barat. Saat ini, Jawa Barat memiliki tingkat perceraian tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep dan dinamika ketahanan psikologis keluarga Sunda. Menggunakan pendekatan kualitatif, dengan desain multi metode, studi ini terdiri dari tiga tahap penelitian. Studi pertama, bertujuan menggali konsep ketahanan psikologis keluarga Sunda melalui survei kualitatif pada 286 partisipan dari keluarga Sunda utuh dan cerai di wilayah Bandung Raya. Studi kedua bertujuan untuk memahami dinamika ketahanan psikologis keluarga Sunda melalui pengalaman keluarga utuh dan cerai dengan metode fenomenologi. Data diperoleh dengan wawancara mendalam pada 7 (tujuh) keluarga Sunda utuh dan 5 (lima) keluarga Sunda cerai. Ketiga, proses integrasi bertujuan untuk melakukan teoretisasi temuan studi pertama dan kedua, menggunakan teknik sintesis interpretatif (grounded theory). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan psikologis keluarga Sunda merupakan kondisi sauyunan (harmoni) yang diperoleh dari adanya prinsip sineger tengah (keseimbangan) antara implementasi nilai agama darigama dan tali paranti, antara penguatan relasi keluarga inti, keluarga besar dan lingkungan sosial yang difasilitasi dengan leuleus liat (fleksibilitas) secara kontinuitas. Selain itu, terdapat lima faktor yang berperan membentuk ketahanan psikologis keluarga Sunda yang bersifat kontinum dan memperkuat leuleus liat yaitu, internalisasi nilai-nilai di dalam keluarga, kemandirian dan ketergantungan, keterbukaan dan komunikasi, kontinuitas belajar dan mengubah diri serta pertemanan dan lingkungan sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa konsep keluarga bagi orang Sunda memiliki perbedaan dengan konsep nuclear family dan extended family dari negara Barat.

The complexity of family problems potentially weakened family institutions as the foundation of state power. In the Asian family context, the study of family strength is not fully represented in Western theories. Research on family strength of Asian families is limited, and Indonesia, with its ethnic diversity, remains an exciting entity to study. The Sundanese are the second most enormous ethnic group in Indonesia and are dominant in West Java. Currently, West Java has the highest divorce rate in Indonesia. This study aims to understand the concept and dynamics of the Sundanese family strength. A qualitative approach with a multi-method design is used there in the study. Predominantly, this research consists of three stages. Initially, the study explores the Sundanese family strength through a qualitative survey of 286 participants from intact and divorced Sundanese families in the Greater Bandung area. Participants were selected through purposive sampling and snowball techniques. Second, a phenomenological study to obtain the dynamics of the Sundanese family strength. Data were obtained by in-depth interviews with 7 (seven) intact Sundanese families and 5 (five) divorced Sundanese families, in the first study. Third, the integration process aims to theorize the findings of the first and second studies using an interpretive synthesis technique (grounded theory). The results of the study show that the Sundanese family strength is a condition of sauyunan which is obtained from the existence of sineger tengah principle between the agama darigama and tali paranti, between relatedness of the nuclear family, extended family and social environment which is facilitated by leuleus liat (flexibility) in continuity. In addition, there are five factors that play a role in forming the Sundanese family strength which is a continuum and strengthens leuleus liat, namely the internalization of values within the family, independence and dependence, openness and communication, continuity of learning and self-change, friendships and the social environment. This study also found that the concept of family for Sundanese people is different from the concept of nuclear family and extended family from Western countries.

Kata Kunci : family strength, Sundanese family, multimethod, sauyunan.

  1. S3-2022-405360-abstract.pdf  
  2. S3-2022-405360-bibliography.pdf  
  3. S3-2022-405360-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2022-405360-title.pdf