PENGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK TERNAK "SATWA MAKMUR" DI DESA TUBANAN, JEPARA
MILA DIANA ROSA, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si
2022 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANKelompok ternak kambing Satwa Makmur merupakan kelompok ternak kambing pertama yang terbentuk di Desa Tubanan. Kelompok aktif melakukan berbagai kegiatan pengembangan ternak dimulai sejak menjadi salah satu kelompok binaan dari PLTU Tanjung Jati B melalui program CSR nya. Selama program berlangsung, CSR PLTU Tanjung Jati B telah memberikan pemberdayaan kelompok melalui berbagai kegiatan pengembangan kapasitas seperti pengembangan hewan ternak kambing, pemanfaatan limbah ternak, dan lain sebagainya. Namun sejak berakhirnya kontrak pendampingan dengan PLTU dan terjadinya Pandemi Covid-19, kegiatan-kegiatan kelompok kelompok ternak kambing Satwa Makmur banyak yang tidak aktif lagi. Kelompok sebagai lembaga memiliki peran penting dalam keberlanjutan kelompoknya. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk mengulas lebih dalam sejauh mana pengembangan kapasitas kelembagaan telah dilakukan dan faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan kapasitas kelembagaan pasca program pemberdayaan telah selesai. Analisa terkait pengembangan kapasitas kelembagaan menggunakan teori pengembangan kapasitas menurut Grindle, yang didalamnya terdapat tiga dimensi yaitu pengembangan sumber daya manusia, penguatan organisasi, dan reformasi kelembagaan. Untuk menjelaskan perkembangan kapasitas kelembagaan kelompok ternak kambing, penelitian ini menggunakan indikator kapasitas kelembagaan menurut Anantanyu yaitu tujuan kelembagaan, fungsi dan kelembagaan, adanya keinovatifan kelembagaan dan keberlanjutan kelembagaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling, sehingga informan dalam penelitian ini adalah ketua Kelompok Satwa Makmur, sekretaris dan bendahara kelompok, anggota kelompok Satwa Makmur, ketua kelompok Mantra 1, CDO PLTU Tanjung Jati B, dan kepala Desa Tubanan.Pengambilan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas kelembagaan kelompok Satwa Makmur melalui pemberdayaan belum dapat berjalan dengan maksimal. Pengembangan Kapasitas ini dilihat berdasarkan tiga dimensi yaitu pengembangan sumber daya, penguatan organisasi dan reformasi institusi. Secara keseluruhan, setiap kegiatan pada ketiga dimensi tersebut telah dijalankan namun hasilnya belum mampu memberikan perubahan yang positif terhadap kelembagaan karena tidak semua kapasitas kelembagaan di Kelompok Satwa Makmur dapat terpenuhi dengan maksimal. Selain itu, berdasarkan empat indikator kapasitas kelembagaan. Perkembangan kapasitas kelembagaan Kelompok Satwa Makmur tidak banyak terjadi. Hal ini dilihat dari empat indikator tersebut, tiga diantaranya tidak mengalami perkembangan pasca pemberdayaan dilaksanakan. Rekomendasi yang ditawarkan pada penelitian ini adalah menjalin hubungan dengan instansi terkait dalam mengatasi persoalan yang menyebabkan terhambatnya keberlanjutan kelembagaan seperti perbaikan kualitas pupuk, kesehatan hewan hingga penguatan Lembaga.
The Satwa Makmur goat group was the first goat group to form in Tubanan Village. The active group carried out various livestock development activities starting from becoming one of the fostered groups of PLTU Tanjung Jati B through its CSR program. During the program, the CSR of PLTU Tanjung Jati B has provided group empowerment through various capacity building activities such as developing goats, utilizing livestock waste, and so on. However, since the end of the assistance contract with the PLTU and the occurrence of the Covid-19 Pandemic any activities of the Satwa Makmur goat group have been inactive. The group as an institution has an important role in the sustainability of the group. Therefore, the researcher intends to examine more deeply the extent to which institutional capacity building has been carried out and what factors influence the changes in institutional capacity after empowerment program has been completed. Analysis related to institutional capacity building uses capacity development theory according to Grindle, in which includes three dimensions, namely human resource development, organizational strengthening, and institutional reform. To explain the development of the institutional capacity of goat groups, this study uses institutional capacity indicators according to Anantanyu, namely institutional objectives, functions and institutions, institutional innovation and institutional sustainability. This research uses qualitative research methods with a descriptive approach. Determination of informants was carried out using purposive sampling and snowball sampling techniques, so that the informants in this study were the head of the Satwa Makmur Group, secretary and treasurer of the group, members of the Satwa Makmur group, head of the Mantra 1 group, CDO PLTU Tanjung Jati B, and the head of Tubanan Village. Data collection through observation, interviews, and documentation. The results of this study explain that the development of the institutional capacity of the Satwa Makmur group through empowerment has not been able to run optimally. Capacity building is viewed based on three dimensions, namely resource development, organizational strengthening, and institutional reform. Overall, every activity in these three dimensions has been carried out but the results have not been able to provide positive changes to the institution because not all institutional capacities in the Satwa Makmur Group can be fulfilled to the fullest. In addition, based on four indicators of institutional capacity. The development of the institutional capacity of the Satwa Makmur Group has not occurred much. This can be seen from the four indicators, three of which did not experience post-empowerment development. The recommendation offered in this study is to establish relationships with relevant agencies in overcoming problems that cause obstacles to institutional sustainability, such as improving the quality of fertilizers, animal health and strengthening institutions.
Kata Kunci : Capacity Building, Institutional, Community Empowerment