Laporkan Masalah

Workforce Agility Ditinjau dari Job Characteristic dengan Psychological Empowerment sebagai Mediator

CUCUNDA RESI A, Galang Lufityanto, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog

2022 | Tesis | MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI

Lingkungan bisnis yang disruptif menuntut organisasi untuk lebih responsif dalam menghadapi berbagai perubahan yang semakin tidak pasti dan tidak dapat diprediksi. Organisasi membutuhkan workforce agility sehingga tenaga kerja dapat merespon kondisi tersebut secara proaktif, adaptif, dan resilien. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji peran psychological empowerment sebagai mediator dalam hubungan antara job characteristic dengan workforce agility. Instrumen pengukuran yang digunakan meliputi Skala Workforce Agility dari Sherehiy dkk. (2007), Work Design Questionnaire (WDQ) dari Morgeson dan Humphrey (2006), serta Skala Psychological Empowerment dari Spreitzer (1995). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner secara daring. Sejumlah 189 tenaga kerja yang berasal dari berbagai jenis pekerjaan terlibat dalam penelitian ini. Metode analisis mediasi sederhana dilakukan menggunakan bootstrapping dengan PROCESS. Hasil analisis data mengungkapkan bahwa psychological empowerment dapat berperan sebagai mediator dalam hubungan antara job characteristic dengan workforce agility (B = 0,4018; BootLLCI = 0,2783; BootULCI = 0,5436). Selain itu, psychological empowerment juga dapat menjadi mediator antara dimensi job characteristic yang meliputi autonomy, task variety, task significance, task identity, dan feedback from the job terhadap workforce agility. Organisasi dapat meningkatkan workforce agility dengan melibatkan berbagai karakteristik pekerjaan yang diikuti munculnya pemberdayaan psikologis untuk mendorong perilaku workforce agility.

A disruptive business environment requires organizations to be more responsive in dealing with increasingly uncertain and unpredictable changes. Organizations need workforce agility to respond proactively, adaptively, and resiliently to these conditions. This study examines the psychological empowerment role as a mediator between job characteristics and workforce agility. The measurement instruments used in this study are the Workforce Agility Scale from Sherehiy et al. (2007), the Work Design Questionnaire (WDQ) from Morgeson and Humphrey (2006), and the Psychological Empowerment Scale from Spreitzer (1995). This study uses a quantitative approach by collecting data through online questionnaires. One hundred eighty-nine workers from various work environments were involved in this study. A simple mediation analysis method is performed using bootstrapping with PROCESS. The results revealed that psychological empowerment could mediate the relationship between job characteristics and workforce agility (B = 0.4018; BootLLCI = 0.2783; BootULCI = 0.5436). In addition, psychological empowerment can also be a mediator between job characteristics dimensions, which include autonomy, task variety, task significance, task identity, and feedback from the job to workforce agility. Organizations can increase workforce agility by involving various job characteristics followed by psychological empowerment to encourage workforce agility behavior.

Kata Kunci : workforce agility, job characteristic, psychological empowerment